728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 09 April 2017

    Djarot Saiful Hidayat Gandeng NU Lawan Radikalisme Agama

    Djarot Saiful Hidayat mulai menunjukkan taringnya menjelang putaran kedua Pilkada DKI putaran kedua. Integritas dan kemampuan Djarot tidak bisa dianggap enteng. Pelan tapi pasti Djarot mulai terdepan mengabarkan segala potensi dan kemampuan dirinya. Ia mulai menggeser anggapan bahwa dirinya hanyalah sosok yang ikut terkenal karena bersanding dengan Ahok pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Dia tidak mau meninggalkan kesan “ban serep” dalam percaturan politik DKI. Strategi memainkan peran dan potensi Djarot dalam Pilkada putaran kedua kali ini menuai kejutan bagi lawan politik sekaligus memanen gelombang simpati dan harapan. Pria berkumis tipis ini memang tidak seganteng Anies dan tidak juga sekaya Sandiaga Uno. Namun dalam dirinya mengalir semangat patriotisme dan nasionalisme yang tidak ada hentinya. Pribadinya yang murah senyum membuat lawan politik atau pun lawan jenis tak berkutik bila berhadapan dengannya. Itulah sepenggal kesan tentang Djarot Saiful Hidayat, Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta.

    Karakteristik, integritas dan pengalaman Djarot dalam dunia pemerintahan tidak bisa diragukan lagi. Pengalamannya di birokrasi atau urusan eksekutif menjadi bagian dalam dirinya. Jabatan walikota dan wakil gubernur menunjukkan kelas Djarot dalam dunia pemerintahan. Peran dia sebagai legislatif,  organisasi politik dan atau partai politik telah menghantar dan membentuk Djarot pada pribadi yang teruji, penuh integritas, jujur dan bertanggung jawab. Lawan politk sulit mencari celah dalam diri Djarot. Dari sisi agama, satu-satunya calon pemimpin DKI Jakarta yang sudah menuai ibadah haji di Tanah Suci hanyalah Haji Djarot Saiful Hidayat. Lawan politik sulit menyerang dirinya karena dalam beberapa aspek kehidupan, Djarot telah merawat dan membentuk dirinya sampai matang.  Kematangan Djarot inilah yang menjadi daya pemikat luar biasa bagi  pasangannya Ahok.

    Djarot Saiful Hidayat: Seorang Haji Yang Diteriaki Kafir Oleh Sesama Muslim

    Publik Jakarta pasti masih membayangkan seorang haji Djarot diteriaki kafir oleh sesama muslim ketika mau menghadiri acara doa bersama yang dibuat oleh keluarga Cendana. Ia tidak takut. Baginya teriakan itu adalah ungkapan sesaat yang tidak dipahami sepenuhnya oleh pelaku. Djarot bahkan melemparkan senyuman yang menyejukan kea rah pelaku penistaan. Tujuan kedatangannya bukan untuk mendengarkan teriakan kafir melainkan datang untuk berdoa bersama. Pelaku yang sesama muslim itu berharap, sang haji murka dan tidak mampu mengendalikan emosinya. Kalau Djarot meluapkan amarahnya tentu saja disambut sukacita dan itu bisa dijadikan senjata untuk menyerang dan melumpuhkan Haji Djarot. Namun sayang, musuh-musuhnya pun pergi dengan tangan kosong. Teriakan kafir  ditujukan untuk Djarot justru berbalik  arah menyerang mereka. Maksud hati menjatuhkan Djarot apa daya mereka sendiri yang jatuh  duluan.

    Djarot Menggandeng NU Melawan Radikalisme Agama.

    Organisasi Islam terbesar di Indonesia adalah Nahdatul Ulama. Sejarah panjang keberadaan NU di Indonesia tidak bisa dilepas pisahkan.  Penjaga empat pilar kebangsaan yang paling kokoh dan miliitan. Siapa yang berani menggoyang empat pilar kebangsaan sama saja terang-terangan mengusik keberadaan NU di bumi Nusantara. Tokoh-tokoh NU dari dahulu hingga sekarang mewariskan semangat Islam Nusantara, Islam yang penuh damai, Islam yang siap membela kebhinekaan, NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Salah satu putera terbaik NU adalah Gus Dur. Dalam sejarah kehidupannya buah-buah pemikiran Gus Dur semakin memperkaya kita untuk setia dan cinta pada Indonesia. Indonesia yang ditenun dari aneka perbedaan dan kebhinekaan. Semangat dan dedikasi Gus Dur pada negara ini sangatlah besar dan penting. Tidak ber;ebihan jika mengatakan Haji Djarot memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Bagi Djarot dengan menggandeng NU bisa menghalau segala bentuk radikalisme yang berkembang akhir-akhir ini. Langkah Djarot ini semestinya didukung oleh segenap warga DKI Jakarta. Jika radikalisme ini dibiarkan berkembang, sama saja menghantar Jakarta ke arah kehancuran. Jakarta akan menunjukkan wajah garang dan tidak ramah bagi aneka perbedaan dan latar belakang yang ada menjadi ciri khasnya.

    Keberpihakan Djarot Pada Empat Pilar Kebangsaan: Kekuatan  Yang Menjadi Daya Pikat

    Dalam bingkai kehidupan warga DKI yang multikultural dan kebhinekaan, sangatlah pantas dipimpin oleh orang yang memiliki semangat nasionalisme dan patriotisme sejati. Jakarta membutuhkan pemimpin yang bisa merangkul semua warga Jakarta yang bervariasi latar belakangnya. Pemimpin yang bisa memberikan rasa aman dan damai bagi warganya. Pemimpin yang bukan menggandeng  ormas radikal yang berbau agama. Secara umum kriteria pemimpin Jakarta adalah adalah yang pemimpin yang mampu menjaga dan merawat keempat pilar kehidupan berbangsa dan bertanah air. Inilah karisma Djarot yang mulai diangkat dan menjadi daya pikat bagi pemilih yang masih waras. Warga Jakarta yang terkenal cerdas dan matang tidak akan terprovokasi oleh isu-isu agama. Sebaliknya warga Jakarta membutuhkan figur seperti Djarot sebagai pemimpin Jakarta.  Inilah kelebihan dan potensi Djarot yang memang tidak dipoles-poles untuk kepentingan Pilkada DKI Jakarta, tetapi merupakan karakteristik dan kepemimpinan yang menjadi bagian dalam diri Djarot sendiri.

    Mari kita tendang keluar segala bentuk radikalisme atas nama agama….

    Penulis : Frumensius Hemat    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Djarot Saiful Hidayat Gandeng NU Lawan Radikalisme Agama Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top