728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 09 April 2017

    Djarot Membakar Semangat Kebhinnekaan

    Hiruk pikuk perhelatan Pilkada DKI 2017 sangat fantastis, sangat luar biasa efeknya. Bukan hanya warga Jakarta yang mengikuti pemilihan saja yang heboh, malah seantero Indonesia seakan turut merasakan dinamika yang terjadi. “Ruuuaaarrrr biasaaaaaa” begitulah salah satu iklan minuman energi pada tahun 2000-an.

    Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia merupakan tempat berkumpulnya berbagai suku, golongan maupun ras bangsa Indonesia yang ada. Jakarta merupakan miniatur Indonesia. Tidak dipungkiri perebutan kursi kepemimpinan di Jakarta sangat membara, apalagi hanya DKI Jakarta yang memiliki anggaran hingga Rp 70 triliun jauh jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Bisa membuat mata pejabat yang tidak kuat iman menjadi ijo jika melihat duit sebanyak itu.

    Pada pagelaran Pilkada DKI Jakarta kali ini, kita merasakan senang dan sedih, merasakan semangat dan letih, sungguh sangat menguras energi seperti kata Buya Syafii. Kita merasakan senang karena dalam pesta demokrasi kita dapat memberikan hak suara untuk memilih calon pemimpin pemerintahan yang baik menurut kita. Pada Pilgub DKI kali ini kita mendapatkan pilihan yang hebat, ada Basuki-Djarot dan Anies-Sandi. Yang satu merupakan calon petahana, telah bekerja dan memberikan bukti. Track record keduanya sudah terbukti dengan prestasi dan penghargaan yang diperoleh. Yang satu lagi masih berjanji dan hanya beretorika, mantan menteri yang dicukupkan masa tugasnya, serta wakilnya yang menyimpan sejumlah masalah hukum.

    Akan tetapi disaat bersamaan kita juga merasa sedih dengan pelaksanaan Pilkada kali ini, dimana banyak terjadi intimidasi oleh pendukung paslon nomor tiga terhadap warga yang mendukung paslon nomor dua, selain itu banyaknya bertebaran spanduk-spanduk provokasi bernuansa SARA, hoax, politisasi agama dengan kampanye menggunakan ayat suci, bahkan yang paling menyedihkan dan menyayat hati yaitu penolakan menyolatkan jenazah umat muslim pendukung pasangan Ahok-Djarot. Sungguh tragis jika melihat hanya untuk merebut kursi Gubernur sampai tega melakukan hal terhina seperti itu.

    Setiap pertarungan membutuhkan semangat. Semangat yang terpatri dalam diri masing-msing pendukung. Semangat dalam meyakini hal terbaik dari pilihan yang didukung. Kita lihat pendukung Basuki-Djarot, semangat apa yang dimiliki mereka untuk berjuang mati-matian untuk memenangkan  pasangan yang mereka pilih? Begitu juga kita lihat semangat apa yang dimiliki pendukung pasangan Anies-Sandi?

    Seperti yang kita ketahui, para pendukung Basuki-Djarot yang tidak pernah lelah untuk berjuang dan berpartisipasi dalam relawan tim pemenangan karena mereka meyakini perjuangan akan hal benar dan baik. Sosok basuki dan Djarot yang bekerja dengan baik dan berprinsip bersih, transparan, dan profesional dalam membangun kota Jakarta dan melayani warga Jakarta. Ahok yang fenomenal selama memimpin Jakarta, menjadi magnet dan ikon pejabat bersih yang anti korupsi, menjaga dana APBD yang merupakan dari rakyat dan menggunakannya kembali untuk rakyat Jakarta.

    Akan tetapi Ahok selalu diserang oleh siapa saja yang merasa terusik dan dirugikan oleh kebijakan-kebijakan yang dilakukannya. Ahok selalu dijegal oleh orang-orang yang merasa tidak bisa korupsi baik dari DPRD DKI, birokrasi Pemprov DKI, maupun koorporasi yang sudah terbiasa menyogok pejabat-pejabat. Padahal Ahok-Djarot dengan jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur melaksanakan tugas mengadministrasikan keadilan sosial bagi warga Jakarta. Sosok pemimpin bersih dan melayani, pemimpin yang berani melawan ketidakbenaran inilah membuat banyak warga Jakarta menyukai kepemimpinan Basuki-Djarot. Akhirnya menimbulkan semangat para relawan untuk mendukung pemimpin yang menunjukan arah yang benar, bukan yang menjerumuskan.

    Pada pasangan Anies-Sandi sendiri sangat terlihat jelas semangat pendukungnya hanya karena prinsip seakidah atau seiman, maupun slogan asal bukan Ahok. Terlihat dari para pendukung-pendukung Anies-Sandi ini merupakan orang-orang yang pernah sakit hati terhadap Ahok bahkan Jakowi sekalipun. Hal ini karena anggapan Jokowi yang selalu berada dibelakang dan mendukung Ahok. Bahkan sudah rahasia umum, orang-orang yang berada dibelakang Anies-Sandi baik elit politik atau parpol, pengusaha maupun ormas-ormas Islam radikal membenci Ahok karena tidak bisa mendapatkan aliran dana segar lagi, semua tidak bisa bermain mata, semua tidak bisa menjadi mafia, sekarang semuanya pada kena kanker alias kantong kering.

    Perjalanan kampanye yang sangat panjang pada Pilkada DKI ini cukup meletihkan. Putaran pertama yang menghabiskan waktu sekitar empat bulan, ditambah putaran kedua yang berlangsung sekitar dua bulan. Hampir selama setengah tahun, bangsa dan negara Indonesia  menghabiskan cukup banyak energi hanya karena Pilkada DKI dengan lebih dikhususkan karena Ahok. Bukan semangat yang luntur tetapi keletihan melihat apa yang terjadi selama kampanye yang banyak merugikan masyarakat. Kampanye-kampanye paslon yang tidak kreatif dan terbilang brutal, sangat meresahkan dalam masyarakat.

    Masyarakat telah letih dan muak dengan intimidasi dan kampanye hitam yang berbau SARA. Masyarakat sudah letih dan muak dengan perselisihan yang dapat menimbulkan perpecahan. Kampanye yang sedianya menawarkan program terbaik untuk kemajuan dan kesejahteraan warga dan kota Jakarta, tetapi malah sering menimbulkan gesekan-gesekan yang menimbulkan kegaduhan. Perselisihan tidak hanya terjadi di dunia nyata, malah lebih dahsyat terjadi di dunia maya.

    Pagi ini dari akun sosial media Basuki-Djarot, baik akun pribadi maupun akun resmi kampanye mereka mem-posting sebuah cuplikan video yang cukup membuat merinding. Apa yang diorasikan oleh Djarot pada video tersebut selayaknya seperti bung Tomo yang membakar semangat para pejuang pada saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Hanya perbedaannya Djarot membakar semangat warga Jakarta untuk menjadi bagian sejarah menjaga kebhinekaan khususnya di kota Jakarta.

    Indonesia lahir dari keberagaman, Jakarta Besar karena keberagaman.. Keberagaman selalu ada dalam darah kita… Keberagaman itu Bhineka Tunggal Ika dan Bhineka Tunggal Ika adalah kita… Saya Jakarta… Saya Indonesia… #JakartaPunyaSemua #BeragamItuBasukiDjarot  @AhokDjarot

    Pilkada DKI Jakarta yang menyisakan dua pasangan yaitu Basuki-Djarot dan Anies-Sandi, dengan peta dukungan Basuki-Djarot dari Islam moderat, sedangkan pasangan Anies-Sandi didukung oleh Islam radikal. Pertarungan keduanya mengibaratkan toleransi melawan intoleransi, pemilih rasional karena melihat kinerja melawan pemiliih irrasional yang hanya mengutamakan orang yang seiman atau seakidah, penganut paham Pancasila melawan paham khillafah atau syariah, keberagaman atau Bhinneka Tunggal Ika melawan fanatik SARA.

    Pemilihan Kepala Daerah seyogiana untuk mencari pemimpin yang bisa bekerja untuk rakyatnya, pemimpin yang bisa melayani rakyatnya, bukan sebagai ajang hebat-hebatan gaya tapi kerjanya nol besar. Pilkada DKI 2017 ini seakan mengajarkan kita banyak hal yang hampir kita lupakan. Sejarah dan perjuangan yang hampir terlupakan. Bangsa dan negara kita dibentuk dengan berpegang teguh pada Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 yang disingkat oleh Djarot dengan PBNU.

    Jakarta lima tahun kedepan ada ditangan anda semua warga Jakarta. Pilih yang pasti dan sudah memberi bukti atau pilih yang masih berjanji dengan mulut manies dan bersandiwara dengan segudang masalah dibelakang yang akan meletus seperti gunung berapi. “Mikirrrrrrrrrrr…” pesan Cak Lontong

    “Jangan tanyakan dari mana kau berasal, Jangan tanyakan apa agamamu, Tapi tanyakan apa yang telah kau perbuat untuk Jakarta” -Djarot Saiful Hidayat

    Demikianlah… Salam damai



    Penulis :  Covalins  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Djarot Membakar Semangat Kebhinnekaan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top