728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 07 April 2017

    Djarot Ajak Warga Pisahkan Sampah. Sosialisasi sekaligus Kampanye Positif

    Mengelola sampah di Jakarta memang bukan pekerjaan gampang. Setiap hari ada 7.500 ton sampah yang harus dibuang, persisnya diproses. Mengacu pada data nasional, komposisi sampah sebagian besar berupa sampah organik (60%), selebihnya sampah non-organik (40%).[1] Bagian cukup besar dari sampah an-organik adalah sampah plastik (14% dari total sampah). Sedangkan sumber utama sampah adalah rumah tangga (48%) dan pasar tradisional (24%), sisanya dari perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, dan lain-lain.

    Harus diakui bahwa pengelolaan sampah di Jakarta sudah semakin baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara maju, masih agak terbelakang. Di sana sampah sudah dipisah menurut jenisnya sejak dari rumah. Dengan demikian pengelolaannya menjadi lebih mudah. Sampah basah dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau diproses menjadi tenaga listrik. Sampah kering dipilah-pilah lagi, yang tidak bisa dimanfaatkan baru dihancurkan.

    Pengelolaan sampah secara modern itulah yang akan diwujudkan Ahok-Djarot lima tahun ke depan jika direstui warga Jakarta. Hal ini dijelaskan Djarot saat kampanye di Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (6/4/2017).[2] Model pengelolaan sampah modern yang djelaskan Djarot seperti ini.

    Setiap rumah tangga memisahkan sampah kering dari sampah basah. Sampah basah diambil setiap hari Senin sampai Jumat, dan sampah kering setiap hari Sabtu dan Minggu. Sampah basah diangkut ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) lalu ke TPA Bantargebang. Sedang sampah kering diangkut ke bank sampah untuk diolah lagi.

    Sederhana bukan? Tapi kalau bisa terlaksana, banyak manfaat yang bisa diperoleh, dari segi kebersihan, keindahan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, kedisiplinan warga, dll.  Ada lagi gagasan Ahok-Djarot terkait dengan sampah, yaitu membangun pengolahan sampah organik di Pasar Induk Kramat Jati. Tujuannya untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA Bantargebang.

    Apa yang dijelaskan Djarot itu hanya sebagian saja dari program pengelolaan sampah Ahok-Djarot. Program lain diantaranya [3]:

        Mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang menyeluruh dari hulu ke hilir dengan memanfaatkan teknologi dan peran serta warga.
        Menuntaskan masalah kebersihan dari hulu ke hilir, yang hasilnya tercermin dari sungai, taman, dan jalan yang sudah jauh lebih bersih dibanding lima tahun lalu.
        Memanfaatkan teknologi menjadi kunci bagi upaya menekan tonase sampah yang ditimbun.
        Menggunakan teknologi insenerator untuk pemilahan sampah melalui panas dan menghasilkan energi.

    Untuk lima tahun ke depan, Ahok-Djarot akan melaksanakan beberapa program baru, antara lain:

        Membangun insenerator dengan kapasitas besar minimal di empat lokasi: Sunter, Semanan, Cakung dan Marunda. Insenerator ini memiliki kapasitas pengolahan sampah sebanyak 1.000 ton per jam.
        Membangun insenerator di setiap kelurahan, agar sampah tidak perlu dibawa hingga ke Bantar Gebang.
        Membangun unit Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Penerapan teknologi dalam pengelolaan sampah dapat menghasilkan gas metan dan energi, dijual ke Perusahaan Listrik Negara.
        Memudahkan pengadaan lahan bagi bank sampah untuk mengurangi sampah yang dikirim ke TPA. Sampah kering ini menghasilkan uang, oleh sebab itu disebut Bank Sampah.  Program Bank Sampah sudah dimulai dua tahun lalu. Ditargetkan setiap Rukun Warga memiliki satu Bank Sampah.

    Program pengelolaan sampah Ahok-Djarot itu bisa disebut cukup lengkap. Namun ada dua catatan yang perlu diperhatikan.

    Pertama, sampah plastik cukup besar volumenya. Sampah ini sulit terurai dan berpotensi membahayakan lingkungan. Sampah plastik yang dibuang ke TPA mungkin akan didaur ulang oleh warga setempat. Namun sampah plastik yang dibuang ke sungai akan mengalir ke hilir menuju laut dan merambah pantai. Pengelolaan sampah plastik ini perlu dicari solusinya.

    Kedua, berterima kasihlah kepada Anies Baswedan yang meninjau TPS Dipo Kalibata pada 9 November 2016 lalu saat berkampanye pada putaran pertama, seperti yang diberitakan di media massa.[4]

    TPS Dipo, Kalibata yang ditinjau Anies 9/11/2016 (Foto: tempo.co)


    TPS ini dalam kondisi bermasalah: tembok bak sampah retak, sampah seringkali tidak tertampung sehingga berserakan di jalan. Pengelolanya sudah meminta ada perbaikan kepada pemerintah DKI, namun belum dilakukan. Mungkin saja ada TPS yang kondisinya rusak seperti itu. Untuk itu Ahok dan Djarot perlu mengagendakan perbaikan seluruh TPS di Jakarta, tanpa menunggu sampai ada masalah.

    ***

    Program pengelolaan sampah Ahok-Djarot bisa dipastikan akan membuat Jakarta bebas sampah, mendahului target nasional tahun 2025. Intinya adalah mengikutsertakan warga, menerapkan sistem pengangkutan sampah yang efisien, dan menggunakan teknologi modern untuk pengolahan sampah.

    Ingin melihat kampung-kampung di Jakarta lebih kinclong ‘kan?


    Penulis : Wardanto   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Djarot Ajak Warga Pisahkan Sampah. Sosialisasi sekaligus Kampanye Positif Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top