728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 09 April 2017

    Didzalimi, Djarot Masih Memaafkan dan Berjiwa Besar, Anies Yang Tukang Protes

    Djarot semakin mendapatkan tempat di hati msayarakat. Semakin kesini, terlihat eloknya kepribadian Djarot. Saya semakin ngefans sama Djarot. Tindakan-tindakan yang dilakukannya sangat menginspirasi.

    Baru-baru ini, kubu Ahok-Djarot telah ditelantarkan oleh ketua KPU. DKPP resmi menyatakan ketua KPU Jakarta melanggar kode etik Pilkada. Sudah sewajarnya kubu Ahok-Djarot marah. Namun Djarot menanggapi hal ini dengan tanggapan yang tidak terduga.

    Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat ikut berkomentar soal pelanggaran kode etik yang dijatuhkan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) kepada Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno.

    Menurut Djarot, keputusan yang diambil oleh DKPP harus dijadikan pembelajaran oleh KPU DKI agar ke depannya lebih baik lagi.

    “Enggak apa-apa, itu kan koreksi ya, masukan supaya kita kerja lebih baik lagi,” ujar Djarot di kawasan Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu (8/4/2017).

    Djarot menilai, kesalahan tersebut bukan murni dari ketua KPU DKI semata. Menurut dia, semua komisioner mempunyai tanggungjawab yang sama atas putusan dari DKPP tersebut.

    “Saya datang tepat waktu banget. Waktu acara belum dimulai saya datang enggak ada yang nyambut. Sendiri saya di VVIP, sebelum jam 19.00 saya sudah ke sana enggak ada orang,” kata Djarot.

    “Ada satu petugas menemui saya, itu sekretaris KPUD, sehingga saya ngobrol dengan sekretaris KPU di ruang VVIP. Semua komisioner belum ada,” ucap dia.

    Djarot berharap dengan adanya putusan dari DKPP ini, kinerja dari KPU DKI akan lebih baik kedepannya.

    “Sebenarnya kita sudah enggak mempermasalahin lagi kok, enggak apa-apa,” kata Djarot.

    DKPP sebelumnya menyatakan Sumarno terbukti melanggar kode etik penyelenggara pemilu karena molornya pelaksanaan rapat pleno penetapan pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017 di Hotel Borobudur beberapa waktu lalu.

    DKPP menilai hal tersebut berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu di Indonesia karena rapat pleno tersebut disiarkan dan tersebar luas. DKPP memberikan sanksi peringatan kepada Sumarno. Sumarno  telah menyatakan menerima keputusan tersebut.

    “Menurut perspektif DKPP bahwa saya melakukan pelanggaran kode etik. Saya menerima putusan itu,” ujar Sumarno seusai sidang putusan di Kantor DKPP, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017).

    Betapa elok tanggapan Djarot. Beliau tidak marah apalagi menuntut Sumarno padahal Djarot punya hak untuk itu. Djarot bahkan dengan legowo memaafkan Sumarno. Djarot bahkan tidak mau menyalahkan Sumarno dan menganggap itu hanya kekeliruan saja dan bukan hanya menjadi tanggungjawab Sumarno seorang.

    Mudah-mudahan dengan tanggapan Djarot ini membuat Sumarno sadar dan memperbaiki kinerjanya. Seharusnya Sumarno mau berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan-tindakan yang mencederai kode etik Pilkada.

    Djarot juga mendoakan agar peristiwa ini bisa menjadikan kinerja KPU lebih baik. Djarot tidak mau memperpanjang urusan ini karena hanya akan membuat situasi semakin panas.

    Begitulah Djarot dengan perilaku-perilakunya yang sangat elok. Dicaci-maki, didzalimi, diintimdasi, Djarot masih bisa tersenyum. Tak ada sekitipun Djarot menunjukkan wajah marah, cemas, atau takut. Seperti halnya Ahok, Djarot sudah selesai dengan dirinya. Tidak ada lagi rasa takut meskipun terus diintimidasi.

    Berbanding terbalik dengan Djarot, Anies-Sandi belum selesai dengan dirinya. Ciri orang yang sudah selesai dengan dirinya adalah tenang, siapa menerima kekalahan, serta bermental melayani. Misi hidupnya adalah bagaimana semaksimal mungkin melayani masyarakat.

    Kita bisa melihat bagaimana Anies-Sandi begitu panik, suka mengeluh, dan protes. Jumlah DPT bertambah saja Anies protes. Pemprov DKI mengadakan program bedah rumah malah dikatakan ada unsur politis.

    Anies-Sandi sangat panik dan ketakutan dengan kekalahan di putaran dua. Ketakutan itu membuat mereka play victim  dan berburuk sangka. Wajar memang, modal yang dikeluarkan oleh Sandi sudah sangat besar. Nama baik Anies juga semakin merosot. Satu-satunya jalan untuk memperbaiki nama baiknya adalah dengan memenangkan Pilkada DKI.

    Adakah tindakan KPU dan Pemprov DKI merugikan Anies-Sandi? Jika tidak merugikan mengaa Anies-Sandi harus protes?

    Saya membayangkan jika kubu Anies-Sandi yang ditelantarkan oleh Ketua KPU. Saya hampir yakin Anies-Sandi akan melakukan protes keras. Bukan mustahil juga Sumarno akan dilaporkan oleh Anies-Sandi dengan tuduhan tidak netral dan merugikan kubu mereka.



    Penulis :  saefudin achmad  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Didzalimi, Djarot Masih Memaafkan dan Berjiwa Besar, Anies Yang Tukang Protes Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top