728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 05 April 2017

    Demi Menang Pilkada, Masjid Disandera

    Tidak seperti biasanya, Ustad Buchori terlihat sholat Jum”at di masjid Al-Huda di lingkungan RW 09, Kampung Apus. Padahal, setiap hari Jum’at dia pasti tidak pulang. Karena tempat dia mengajar agak jauh dari Kampung Apus, biasanya dia langsung sholat Jum’at di masjid tempat dia mengajar. Tapi kali ini, dia terlihat ada di barisan paling depan jama’ah sholat Jum’at di Masjid Al-Huda.

    Kehadiran Ustad Buchori tentu saja membuat jama’ah agak heran. Begitu pun dengan Cang Kosim dan Madi.

    “Gak biasanya Ustad Buchori sholat Jum’at di sini, Cang?” ujar Madi dengan agak heran sedikit berbisik kepada Cang Kosim yang duduk di sampingnya.

    “Orang mau sholat di mana aja boleh, Di,” jawab Cang Kosim.

    “Iya sih, Cang. Tapi kok tumben aja. Biasanya dia selalu sholat Jum”at di masjid tempat dia ngajar,” ujar Madi lebih lanjut dengan nada penasaran.

    “Udah ah….Jangan omongin orang,” kata Cang Kosim.

    ***

    Sholat Jum’at usai. Jama’ah sudah ada yang meninggalkan Masjid Al-Huda. Sementara itu sebagian lainnya masih khusuk berdo’a. Begitu pun dengan Ustad Buchori. Dia nampak khusuk berdo’a di barisan depan tak jauh dari mimbar. Tak jauh dari tempat Ustad Buchori, terlihat Cang Kosim juga sedang khusuk berdo’a. Selesai berdo’a, Ustad Buchori menghampiri Cang Kosim yang terlihat juga sudah selesai berdo’a.

    “Assalammualaikum, Cang,” ujar ustad Buchori sambil menyodorkan tangannya untuk berjabatan tangan.

    “Waalaikum salam, Ustad,” Cang Kosim menjawab salam Ustad Buchori sambil berjabatan tangan.

    “Kelihatannya makin segeran aja nih, Cang. Udah lama juga ya kita gak ketemuan,” tutur Ustad Buchori.

    “Iya Ustad. Kita sama-sama sibuk. Apalagi Ustad, jadwalnya kan padet banget tuh,” tutur Cang Kosim sambil berjalan menuju pintu keluar masjid bersama Ustad Buchori.

    “Assalammualaikum,” kata Madi.

    “Waalaikum salam,” jawab Cang Kosim dan Ustad Buchori.

    “Gak ngajar, Ustad?” tanya Madi.

    “Ngajar. Cuma tadi mau pulang cepet aja. Kangen mau sholat Jum’at bareng jama’ah di sini,” jawab Ustad Buchori.

    “Tahu Ustad sholat Jum’at di sini, tadi kita usulin jadi khotib sekalian. Biar adem jama’ah,” ujar Madi.

    “Biar adem gimana maksudnya, Di?” tanya Ustad Buchori.

    “Kalau gak buru-buru, kita sambil duduk deh ngomongnya,” ajak Cang Kosim.

    Kemudian ketiganya pun duduk di lobi masjid. Sementara itu jama’ah lainnya terlihat satu per satu meninggalkan masjid kebangaan warga Kampung Apus tersebut.

    “Begini Ustad. Pilkada kali ini membuat suasana umat semakin panas. Ustad tahu sendiri kan, banyak upayah-upayah memecah-belah umat hanya karena beda pilihan saja. Ada politik ayat, politik mayat, kayanya masjid dijadikan tempat politik. Jadi masjid mau dipolitisasi,” papar Madi.

    “Itu juga yang membuat saya memutuskkan untuk sholat Jum’at di sini. Di masjid tempat saya mengajar, setiap Jum’at khotibnya selalu ngomong soal Pilkada. Memang sih tidak langsung ngomong pilih si A atau pilih si B,” tutur Ustad Buchori.

    “Jangan-jangan khatibnya jadi jurkam, Ustad?” tanya Cang Kosim.

    “Soal itu saya gak tahu pasti, Cang. Hanya saja pernah ada seorang konsultan politik kondang pernah isi ceramah di masjid itu. Mungkin Cang Kosim tahu si Ecep Amrulah, katanya sih pengamat politik. Sering muncul di tipi kok,” ujar Ustad Buchori.

    “Yang masih mudah itu ya, Ustad? Penampilannya klimis-klimis gitu,” kata Madi dengan nada tanya.

    “Kok lu tahu, Di?” tanya Cang Kosim.

    “Kan di rumah ada tipi, Cang. Heheheheh…” jawab Madi dengan nada canda.

    “Betul yang itu, Di. Jadi, waktu dia isi materi di suatu acara pengajian di masjid dia bilang, di Aljazair ada sebuah partai menang pemilihan karena menggunakan jaringan masjid. Jadi, khotib, penceramah diminta kalau mengisi ceramah selain isinya tentang ke-islam-an, tetapi juga dipadukan dengan poilitik yang bisa memenangkan partai itu. Dan katanya itu efektif. Partai kecil itu bisa menang,” papar Ustad Buchori.

    “Lalu, apa hubungannya dengan kita, Ustad?” tanya Madi penasaran.

    “Ya, ente tahu sendiri kan, Di. Pilkada ini kan yang maju sisa si kotak-kota sama si baju putih. Jadi gampang aja para khatib di masjid menggunkan ayat untuk menjatuhkan si kotak-kotak yang kebetulan non-muslim. Padahal, jama’ah yang datang sholat Jum’at di situ kan belum tentu pendukung calon yang muslim. Ini kan sama saja mengesankan kalau masjid udah berpihak,” jawab Ustad Buchori.

    “Tapi menurut saya, Ustad, ada yang disembunyikan si Ecep Amrullah itu. Saya yakin kalau dia orang politik pasti udah khatam baca buku-buku politiknya. Saya juga yakin dia selalu mendapat info soal politik terbaru,” tutur Cang Kosim.

    “Maksudnya Cang Kosim dia bohong?” tanya Ustad Buchori.

    “Gak. Dia ga bohong soal itu. Hanya saja saya merasa dia tidak fair dalam memberikan materi,” tegas Cang Kosim.

    “Yang dimaksud Cang Kosim ada yang disembunyikan apaan tuh?” tanya Madi.

    “Begini, gua gak tahu dia udah baca atau belum. Namun, yang udah gua pernah baca, ada kok negara-negara Islam yang hancur karena politiknya masuk ke mimbar masjid seperti Libya dan Mesir. Kedua negara tersebut porak-poranda karena khatib atau penceramahnya diberi kebebasan tidak terbatas dalam melakukan hujatan politik berbalut agama, hingga mengaburkan pandangan masyarakat terhadap agama yang sakral,” papar Cang Kosim.

    “Iya, saya juga pernah baca tuh, Cang. Di negara itu polanya sama dengan di Jakarta sekarang ini. Penggerakan massa dilaksanakan di hari Jum’at, sehabis sholat Jum’at dan berawal dari masjid. Politisasi masjid seperti ini punya peran juga dalam membakar konflik Timur Tengah,” jelas Ustad Buchori.

    “Maroko di tahun 2014 hampir juga hancur karena politisasi masjid ini. Jadi ceritanya pemilihan anggota parlemen Maroko bertepatan pada bulan Ramadhan. Pada saat itu, terjadi bermacam manuver politik praktis di atas mimbar-mimbar masjid, dari pembunuhan karakter lawan politik dengan taktik takfir  sampai propaganda kekerasan yang memecah belah dan mengancam keutuhan negara,” ujar Cang Kosim.

    “Jadi, sama aja dengan yang sedang terjadi di Jakarta ya, Cang?” tanya Madi.

    “Kurang-lebih sama. Untuk mengatasi supaya gak semakin panas, Raja Maroko, Muhammad VI, mengeluarkan sebuah putusan resmi yang fundamental berkaitan dengan aktivitas politik di masjid. Yaitu berupa larangan bagi para imam masjid dan khotib untuk terlibat dalam segala bentuk aktivitas politik, termasuk menunjukkan pandangan politik. Hasilnya, Maroko saat ini menjadi negara yang relatif stabil,” tutur Cang Kosim menjawab pertanyaan Madi.

    “Mestinya kita banyak belajar dari Timur Tengah soal ini. Agama memang mempunyai perhatian yang komprehensif atas kehidupan, tapi masjid adalah rumah semua orang beriman, sehingga selayaknya menjadi pengayom,” ujar Ustad Buchori.

    “Bener, Ustad. Politik praktis itu kan hanya ijtihad (usaha) saja. Dan setiap orang berhak dengan pilihannya masing-masing. Jangan main paksa. Apalagi di masjid. Kalau kelompok lain yang kebetulan sholat di situ juga dan gak terima, bisa ramai,” tutur Cang Kosim.

    “Saya tiap Jum’at, bahkan setiap ada pengajian di masjid tempat saya mengajar itu selalu mendengar soal politik masjid ini. Menjelekkan yang lain dan mengkafirkan yang tidak sepaham. Saya jadi merasa minoritas. Karena saya tidak bisa melakukan perlawanan. Semua teman-teman saya sudah terpegaruh dengan politisasi masjid ini. Di group medsos, udah gak kondusif lagi. Tapi saya diam saja. Walau pun ada keinginan untuk melawan ini,” ujar Ustad Buchori.

    “Jadi sadis banget ya Ustad?” tanya Madi.

    “Iya, Di. Demi menang pilkada, masjid disandera,” jawab Ustad Buchori.

    “Maksudnya, Ustad?” tanya Madi lagi.

    “Supaya menang Pilkada, masjid digunakan sebagai tempat untuk menjelekan lawan. Ini kan sama aja menyandera masjid,” jawab Ustad Buchori.

    “Mendingan kaya masjid kita nih. Gak apa-apa yang ceramah ustad tua-tua, yang penting sejuk. Mengajarkan agama. Tapi, lain kali Ustad harus ceramah di sini juga ya?” ujar Cang Kosim.

    “Insya Allah, Cang,” jawab Ustad Buchori.

    Penulis : Junaidi Sinaga   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Demi Menang Pilkada, Masjid Disandera Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top