728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 30 April 2017

    Demi Indonesia, Ahok dan Jakarta Memang Harus Kalah

    Telah banyak disaksikan, didengar, dibicarakan, diperdebatkan, ditalkshow-kan, ditulis dan diulas bahwa Pilkada DKI 2017 merupakan ajang pemilihan pimpinan daerah yang paling ramai di Indonesia. Pilkada tersebut juga disinyalir paling ganjil, dan melibatkan cara-cara kotor serta kelam, menggunakan strategi-strategi kampanye yang diadopsi dari sudut-sudut gelap peradaban manusia untuk memenangkan diri dan mengalahkan pesaing.

    Ajang ini melibatkan janji-janji kosong, sindiran dan nyinyiran (mungkin bisa dibuat meme: apa pun kejadiannya, tanggapannya tetap nyinyir), kampanye hitam, intimidasi, pembodohan masal, sampai indikasi ketidaknetralan penyelenggara dan kecondongan oknum ketuanya pada paslon tertentu.

    Ajang pemilihan gubernur tersebut bahkan seperti atau dikondisikan seperti permusuhan dan pertempuran dunia akhirat. Memilih pemimpin dunia, tapi melibatkan dimensi-dimensi akhirat seperti rumah ibadah, ayat-ayat suci, janji surge, ancaman neraka, bahkan mayat yang notabene penghuni alam baka. Strategi ini selain tidak patut juga berbahaya, karena berpotensi memecah-belah persatuan bangsa yang sudah susah-payah disusun dan didirikan dasarnya oleh para pendiri bangsa ini.

    Sempurna! Sungguh suatu proses pemilihan yang tidak patut dan memalukan. Dan untuk melengkapi kesempurnaan itu, hasil hitung cepat menunjukkan bahwa pengguna strategi-strategi kelam itu menjadi pemenangnya. Kemenangan ini menunjukkan kekalahan banyak hal. Bukan saja kekalahan pesaingnya yaitu petahana (yang mengantongi 75% tingkat kepuasan warga), namun juga kekalahan Jakarta dan warganya, sebagai “pengguna” alias user atau yang akan dilayani dan yang akan menggaji gubernur baru nanti. Ini juga menunjukkan kekalahan akal sehat, pikiran waras, nurani yang bebas, sportivitas, etika dan kepatutan berbangsa serta berpolitik.

    Lebih hakiki lagi, ini juga menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu menang. Tanpa usaha, tanpa perjuangan, tanpa perlawanan, kebenaran juga bisa kalah oleh kebathilan. Ini mengingatkan kita bahwa kebenaran memang harus diperjuangkan supaya mendapatkan tempatnya yang layak.  Dan diam tidak selalu berarti emas. Dalam banyak situasi, diam tidak ada bedanya dengan sampah. Sama sampahnya dengan retorika.

    Sungguh, ini pelajaran yang pahit, peringatan yang keras. Kita mendapat pelajaran bahwa cara-cara kotor dapat digunakan untuk memenangkan pemilihan pimpinan daerah. Dan kalau seorang calon pemimpin menggunakan cara-cara kotor untuk memenangkan pemilihan, patut diduga bahwa motivasinya untuk menjadi pemimpin juga bukan motivasi yang bersih. Maksud dan tujuannya patut diwaspadai sebagai maksud dan tujuan yang titik-titik.  Fokus pelayanannya perlu dicurigai bukan daerah yang dipimpinnya, tapi pihak lain yang entah. Apalagi jika sang pemenang tersandera dalam banyak hal : kendaraan dan dukungan politik, dukungan massa, sampai pendanaan.

    Tetapi selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Kekalahan Ahok, kekalahan Jakarta menunjukkan bahwa Yang Maha Memimpin masih menyayangi kita. Ya, dihadapkan pada kalahnya kebenaran dalam skala “kecil”, skala propinsi. Bayangkan bila ini terjadi pada Indonesia. Bayangkan bila cara-cara kelam akhirnya bisa digunakan untuk memenangkan pemilihan presiden Indonesia. Bahaya, seluruh negara bisa terpecah-belah dan hancur. Atau jika bernasib baik, kita sekedar akan berada dalam mode autopilot seperti sepuluh tahun terakhir.

    Kekalahan Ahok, kekalahan Jakarta, seperti halnya kita gagal dalam try-out ujian nasional. Untunglah kita gagal hanya dalam try-out. Bayangkan jika gagalnya saat ujian nasional. Kita bisa tidak lulus sebagai bangsa dan negara yang beradab. Untunglah ujian nasionalnya masih dua tahun lagi. Kita punya waktu dua tahun untuk belajar lagi, memperbaiki kesalahan, memoles kecerdasan dan kewarasan, sambil menginspirasi dan mencerahkan sesama pemilih. Selama dua tahun ke depan, mungkin kita akan semakin tercerahkan dengan melihat nasib Jakarta. Harapannya, pada saat ujian nasional alias pilpres nanti, kita dapat memilih dengan pikiran jernih dan nurani yang bebas, serta mendapatkan pemimpin yang benar dan tepat.

    Jadi, mari berterimakasih kepada Ahok, kepada Jakarta. Mereka serasa menjadi tumbal bagi bangsa ini. Mereka rela berkorban dan mengalami kekalahan demi keselamatan dan ketenteraman Indonesia.  Ya, mereka rela, meski resikonya, kemungkinan Jakarta akan menanggung nasib buruk selama lima tahun kedepan. Kemungkinan loh…

    Selain berterimakasih, kita juga jangan menyia-nyiakan pengorbanan mereka. Kita perlu waspada, dan menginspirasikan serta menyebarkan kewaspadaan itu kepada orang-orang lainnya. Kita jangan diam lagi. Lakukan apa yang bisa dilakukan. Saling mengingatkan, mencerahkan, meluruskan, berdiskusi, berdebat, menegur, menulis… apa saja hal baik yang mungkin dilakukan.

    Kita harus pastikan bahwa cara-cara kotor tidak digunakan lagi dalam pemilihan pemimpin apa pun. Kita harus pastikan bahwa proses demokrasi harus berjalan dengan benar, sehingga menghasilkan pemimpin yang tepat dan pantas untuk negara ini.

    Salam!


    Penulis : Sutan Saja    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Demi Indonesia, Ahok dan Jakarta Memang Harus Kalah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top