728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 April 2017

    Debat yang Gagal dan Bahaya Anies yang tidak Siap Kalah

    Format debat yang dibuat oleh KPU DKI sangat tidak mutu, semua seperti protokoler yang tidak mengena kepada substansi. Entah bagaimana caranya seleksi komunitas yang dihadirkan? Apakah pertanyaan komunitas tersebut titipan? Tentu saja itu wajar jika dipertanyakan. Jadi tidak salah jika dikatakan debat malam ini merupakan debat yang gagal.

    Hampir tidak bisa berkomentar tentang debat pilkada terakhir kali ini, karena seperti biasa semuanya tetap sama, yang satu bicara tentang program, yang satu nyinyir. Ibaratnya, yang satu belum pernah bekerja tetapi sudah sok tahu, dengan menghina yang sudah bekerja.

    Seperti biasa juga, sikap sinis Anies disaat debat berusaha memancing Ahok untuk meledak-ledak. Mungkin itulah taktik yang memang sengaja dilakukan oleh paslon nomor tiga Anies-Sandi dengan segala nyinyirannya, supaya Ahok emosi, tapi sayang, pancingannya tidak membuahkan hasil.

    Nuwon sewu, mungkin itulah balasan Ahok untuk pacingan Anies yang membuatnya semakin kesal terhadap Ahok.

    Debat yang tidak ada guna dan faedahnya, karena semuanya tetap sama dengan debat-debat sebelumnya. Di bidang pendidikan, Ahok tetap menjabarkan dari A sampai z secara terperinci apa yang dilakukan, sedangkan Anies masih tetap dengan retorika tidak jelas yang mengandalkan kata-kata, terutama kata keberpihakan yang terkesan hanya di bibir saja.

    Hal yang lucu lagi adalah pertanyaan Anies yang dilontarkan kepada Ahok, mengenai bagaimana cara mempersatukan rakyat yang bhineka. Padahal pada kenyataannya, yang memecah belah persatuan adalah orang-orang yang di belakang Anies. Bukanlah rahasia lagi, bahwa kebanyakan pendukung Anies banyak yang RASIS. Jadi tentunya pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang lucu.

    Pertanyaan Anies mengenai mempersatukan tidak lain tidak bukan hanyalah untuk menggiring opini publik bahwa Ahok merupakan orang yang tidak mempersatukan. Padahal sudah jelas-jelas, bukan Ahok yang memecah belah, tetapi para orang-orang RASIS yang tidak mau menerima perbedaanlah yang memecah belah persatuan.

    Dalam penjelasannya mengenai bagaimana mempersatukan, Ahok mengatakan, dengan berbuat adil terhadap semua warga, baik yang memilih maupun yang tidak memilihnya. Ahok berlaku adil kepada semuanya, karena memang dia disumpah untuk itu.

    Jika walaupun dengan berlaku adil tetap saja tidak dapat mempersatukan, benar apa yang dikatakan Ahok, bahwa mereka memiliki sifat kebencian yang mendalam.

    Jika Anies dengan mudah mengatakan merangkul, untuk Ahok pasti susah merangkul, karena ada sebagian kelompok RASIS yang secara terang-terangan tidak mau dipimpin oleh kafir. Jadi walaupun Ahok selalu berusaha merangkul, tetapi hal tersebut akan sulit, karena para kaum bumi datar diliputi kebencian yang membabi buta terhadapa Ahok karena dia kafir.

    Namun giliran Ahok bertanya mengenai DP 0 rupiah kepada Anies, jawabannya tetap saja ngalor-ngidul tidak karuan, sehingga tidak didapatkan kesimpulan, mengenai jawaban dari pertanyaan DP 0 rupiah tersebut. Anies yang kebingungan mengenai DP 0 rupiah hanya memberi pernyataan, bahwa mereka tidak membangun rumahnya, tetapi instrumen pembiayaannya. Ah entahlah, pusing kepala saya menangkap maksud omongan Anies yang muter-muter.

    Debat yang diadakan KPU tentu saja bisa dikatakan debat yang gagal, atau memang sengaja dibuat gagal, karena format yang terkesan setingan. Kesan setingan terlihat dari pertanyaan komunitas yang mencoba menjatuhkan Ahok atau secara tidak langsung memberi umpan lambung terhadap Anies untuk membobol gawang Ahok, tetapi sayangnya, gagal.

    Debat tersebut bisa dikatakan gagal juga karena, semuanya serba tanggung, sehingga tidak menyentuh substansi. Serba tanggung sehingga tidak bisa digali secara lebih dalam lagi mengenai pernyataan-pernyataan masing-masing paslon. Dan saya yakin, jika debat terakhir kali ini dapat menggali secara mendalam mengenai semua program-program yang ditawarkan oleh masing-masing paslon, tentu saja Anies-Sandi akan babak belur, karena tidak dapat menjelaskan secara detail dan spesifik. Semua yang diutarakan Anies tidak lebih hanya seperti retorika, seperti yang diceploskan oleh Ahok kepadanya.

    Dan hal yang perlu digaris bawahi adalah disaat penutupan, dimana pertanyaan penutup mengenai apa yang akan dilakukan terkait terpecahnya warga akibat pilkada. Pak Djarot dengan bijak menyatakan, siapapun yang menang, Ahok-Djarot akan mentelpon pak Anies-Sandi. Siapapun yang menang, dan apapun hasilnya, akan menggandeng semua pihak.

    Tetapi berbeda dengan pernyataan Anies, yang menekankan jika dia menjadi Gubernur akan melakukan ini itu. Semua yang dikatakan Aneis, terkait jika mereka menjadi Gubernur. Hal ini tentu saja berbahaya, karena sudah jelas, mereka tidak siap kalah.

    Orang yang tidak siap kalah, tentu saja akan melakukan berbagai cara untuk menang. Sungguh sangat mengerikan jika dalam suatu kompetisi ada salah satu peserta yang tidak siap kalah, selain bisa gila, tentu saja bisa membuat onar dengan serangan yang membabi buta.



    Penulis :   Cak Anton   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Debat yang Gagal dan Bahaya Anies yang tidak Siap Kalah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top