728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 April 2017

    Debat Terakhir, Anies-Sandi Menjawab Seperti Pelawak “Bolot”

    Debat putaran kedua ini mengambil tema “Dari Masyarakat untuk Jakarta” yang terdiri dari kesenjangan dan keadilan sosial, penegakan hukum, dan bonus demografi.

    Adapun subtema debat terkait dengan masalah transportasi, tempat tinggal, reklamasi, pelayanan publik berupa pendidikan dan kesehatan, serta UMKM atau dunia usaha.

    Presenter Ira Koesno kembali dipilih menjadi moderator yang akan memandu jalannya debat terakhir ini. Ira merupakan moderator dalam debat perdana pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2017.

    Perubahan format

    Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno mengatakan, ada perubahan format debat pada putaran kedua. Elemen masyarakat akan diundang untuk hadir dan memberikan pertanyaan langsung kepada kedua pasangan calon.

    “Kami ingin mengajak masyarakat untuk hadir di forum debat dan menanyakan langsung kepada calon gubernur dan wakil gubernur tentang persoalan keseharian yang mereka hadapi,” ujar Sumarno, Rabu (29/3/2017).

    KPU DKI Jakarta telah memilih empat komunitas masyarakat melalui seleksi yang dilakukan tim independen/panelis. Seleksi dilakukan untuk memastikan bahwa komunitas tersebut tidak berafiliasi ataupun menyudutkan salah satu pasangan calon.

    Adapun keempat komunitas yang dipilih yakni komunitas nelayan, komunitas pengguna transportasi umum, komunitas dalam dunia usaha kecil dan menengah (UMKM), dan komunitas warga yang tidak memiliki rumah tinggal.

    KPU DKI Jakarta tidak merilis nama-nama komunitas yang diundang sebelum debat dilaksanakan. Hal itu dilakukan untuk menghindari adanya intervensi dari berbagai pihak terhadap komunitas-komunitas tersebut.

    Perwakilan komunitas masyarakat terpilih boleh menanyakan permasalahan apapun yang berkaitan dengan komunitas mereka. Namun, pertanyaan itu akan diarahkan oleh tim panelis agar tidak tendensius. (Kompas).

    Pertarungan di arena Debat

    Ketika debat dimulai, saya berharap bakal terjadi pertarungan yang seru, dalam beradu program dan visi misi. Namun harapan itu pupus, bukan seperti nonton debat melainkan seperti nonton lawakan dari pelawak bolot. Akan tetapi lawakan bolot bisa bikin tertawa, kalau dalam debat terakhir ini, justru bikin muak plus mual.

    Jika boleh berandai-andai, dan andaikan kita adalah lawan dari petahana, tentunya kita akan memilih untuk dapat menjawab semua pertanyaan dengan konkrit. Kenapa? Karena jelas Petahana sudah lebih berpengalaman dan punya data dari kerja sebelumnya yang akurat. Jika dijawab membelok dari pertanyaan yang diajukan atau berangan-angan, maka sudah jelas tidak lebih baik.



    Pupus sudah Oke Oce

    Saya sedikit bingung melihat jawaban-jawaban dari oke oce sampai ke oke ocer. Yang lebih para ditanya A dijawab B. Wajar saja senyum Djarot tampak begitu manis.

    Ketika UMKM bertanya : Bagaimana menjamin modal pengusaha kecil?

    Petahana dengan gagah menjawabnya, yang saya dengar kurang lebih yaitu dijawab dengan pentingnya “Arus Kas”.
    Setiap pengusaha diharuskan buka rekening, dengan demikian arus kas dapat termonitor dengan baik, dengan demikian kebutuhan usaha dapat terlihat hingga kebutuhan pengusaha dan modal dapat terealisasi dengan baik. Yang menariknya pakai metode bagi hasil 80:20. Hal ini logika sederhana tentu modal pengusaha akan tetap terjamin.

    Paslon no 3, Anies-Sandi justru menjawab “Oke Mart”. Saya pun enggan mendengarkan penjabarannya, karena sudah melenceng dari yang ditanyakan.

    Kemudian ada pertanyaan dari komunitas masyarakat : “Mungkinkah transpotasi publik gratis?”

    Petahana menjawab, intinya kami sudah menggratiskan, jika gajinya sudah UMP tentu transfortasi sudah gratis dan ticketing menjadi pokok, agar terlihat dan terdata dengan baik, yang lebih dibutuhkan adalah meningkatkan dan melakukan penambahan busnya.

    Oke Oce dengan tegas menjawab “biayanya murah, nyaman, dan pemerintah menanggung ongkosnya” (Strateginya bagaimana?).

    DP Rp.0 kembali muncul, saat komunitas rusun bertanya : “Mengapa kualitas rusun kami buruk?”

    Beberapa rusun yang biasa dilakukan dengan kontraktor maling, maka kualitas rusunnya buruk. Dan sekarang kami lagi meningkatkan kualitas pembangunan rusun tersebut. (Petahana)

    Paslon no 3 menjawab perlunya penataan, program DP Rp.0 adalah solusi, dimana warga tidak dipindahkan begitu saja, DP tersebut supaya tertata dan warga diberi hak untuk mempunyai rumah.

    Paslon no 3  lagi dan lagi lari dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, tidak nyambung lebih tepatnya.

    Oh ya ada yang bisa jelaskan kalau reklamasi akan membuat banjir terus menerus? Please beserta datanya. Disisi lain Kok dari reklamasi balik ke bukit duri

    Season selanjutnya untuk saling menanggapi, saya mulai redupkan televisi, dan saya sepakat dengan pepatah lama “Retorika itu sia-sia tanpa pembuktian dan jawaban konkrit”.

    Bolot itu kalau melawak , ditanya A dia jawab B dan terkadang gak dengar.

    Ditanya sanitas & rokok tentang kesehatan, malah jawab : nenek-nenek laper, ditanya jaminan modal oleh UMKM, malah jawab : oke mart.. Sepertinya saya butuh penterjemah…

    Akhir kata saya tutup tulisan ini dengan perkataan Djarot : “Pak Sandi, wakil gubernur itu bukan ban serep”. Sedikit gemetar.



    Mau ditulis dengan detail, percuma. Anda pun mungkin enggan menuliskannya, dan lebih memilih nonton pelawak bolot.



    Disisi lain debat malam ini terlalu banyak aturan protokolnya, tambah bikin gak seru. Warga DKI mari tentukan pilihan tanggal 19 nanti untuk masa depan Jakarta yang lebih baik, pilihlah yang realistis dan rasional, karena pemimpin bukan soal obral janji apalagi jawab B ketika ditanya A.



    Penulis :  Losa Terjal  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Debat Terakhir, Anies-Sandi Menjawab Seperti Pelawak “Bolot” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top