728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 13 April 2017

    Debat Pamungkas: Gangguan Teknis, Dugaan KPU Memihak Anies-Sandi, Hot Segmen dan Baju Biru Hasil konsultasi Denny J A

    Gangguan Teknis Masih Terjadi
    Agak kecewa dengan debat pamungkas ini. Bagaimana tidak masalah teknis yang seharusnya sudah tidak perlu ada masih terjadi.

    Kalau di debat sebelumnya Anies yang mengalami gangguan mikrofon, di debat kali ini waktu hitung mundur ketika Ahok memaparkan jawabannya tidak berjalan berhenti di waktu 01.29 dari 2 menit waktu yang disediakan.

    KPU masih saja abai terhadap masalah-masalah yang sepele ini. Gangguan di segmen pertama ketika Ahok baru menjawab pertanyaan pertama jelas merusak fokus Ahok. Ahok sampai terlihat bingung dan sempat komplain kalau waktunya tidak jalan.

    Modifikasi Format Debat

    Untunglah format debat yang mengalami modifikasi sedikit banyak terlihat dan terkesan lebih menarik, walaupun tetap kesan kaku karena terlalu banyak aturan jelas terlihat. Jawaban yang keluar dari masing-masing paslon juga terkesan sesuai protokoler tidak menukik tajam ke pokok masalah kecuali satu segmen ketika Ahok dan Anies saling tanya jawab.
    Secara jujur dari semua debat baik resmi dari KPUD maupun yang tidak resmi yang digagas oleh TV swasta, debat di acara Mata Najwa di Metro TV dengan tajuk ‘Babak Final Pilkada Jakarta’ adalah format terbaik.

    KPU Kembali Memihak Anies-Sandi?

    Awalnya ada yang menarik dengan perwakilan masyarakat yang terdiri dari Kelompok UMKM, Masyarakat Transportasi, Nelayan, Rumah Susun yang mengajukan pertanyaan dari kelompoknya kepada masing-masing pasangan calon dengan cara mengambil pertanyaan secara acak.

    Mulai terlihat janggal ketika muncul pertanyaan yang dibacakan masing-masing perwakilan terutama yang paling mencolok adalah perwakilan nelayan dan rumah susun yang sangat benderang tendensiun menyerang petahana.

    Kejanggalan saya menemukan jawaban karena pembahasan pasca debat di Metro TV ternyata para pengamat yang dihadirkan oleh Metro TV yakni Yuniarto Wijaya (Toto) , Burhanudin Muhtadi dan Pimred Metro TV Don Bosco Salamun membahas hal ini.

    Mereka sepakat untuk mempertanyakan teknis dari pengajuan pertanyaan dari perwakilan komunitas tersebut karena terkesan disetting dan diarahkan untuk menghajar petahana. Menurut para pengamat, KPUD Jakarta dalam hal ini Sumarno sebagai ketuanya yang sudah divonis DKPP melakukan pelanggaran kode etis seperti menebalkan stigma negatif bahwa KPUD memihak pada paslon tertentu.

    Menurut mereka perlu ditanyakan lebih lanjut apakah pihak paslon dua dilibatkan atau tidak mengenai teknis pertanyaan dari perwakilan komunitas itu untuk mengetahui apakah pertanyaan tersebut benar-benar netral dan benar-benar murni perwakilan komunitas tersebut ataukah akal-akalan KPUD yang memihak Anies-Sandi.

    Hot Di Segmen Tanya Jawab Ahok-Djarot

    Tanpa mengerdilkan segmen tanya jawab antara Djarot vs Sandi yang hanya disajikan dalam dua putaran. Bagian terpanas debat pamungkas ini ada di segmen tanya jawab antara Ahok-Djarot yang dikemas dalam empat putaran.

    Memori debat di Mata Najwa seketika menyeruak dalam benak dan secara kasat semakin menegaskan perbedaan karakter Ahok yang tegas, dan seorang eksekutor program yang mumpuni melawan Anies yang pandai bermain kata dalam suatu retorika.

    Bonus demografi di DKI yang menurut Anies akan menjadi bom waktu untuk tejadinya ledakan pengangguran akibat banyaknya kelompok usia produktif yang putus sekolah. Ditanggapi dengan sangat gamblang oleh Ahok dengan memaksimalkan pelatihan di bidang perumahan, dilibatkan dalam pekerja lepas dan kejar paket serta muaranya setelah mereka menguasi keahlian tersebut bisa digunakan untuk melamar ke perusahaan swasta untuk mendapatkan upah yang lebih layak. Pada akhirnya memaksa Anies untuk memberikan jawaban yang pada intinya sama tapi menjadi sedikit berbeda karena dibumbui retorika khas Anies.

    Ahok juga menegaskan bahwa untuk mewujudkan persatuan Jakarta yang terpecah belah akibat Pilkada dibutuhkan pemimpin yang adil, tidak menerima suap tidak memihak pihak manapun. Ahok menyentil Anies yang belum pernah menjabat jadi gubernur, bupati atau walikota karena Ahok tahu persis di Belitung dulu mengalami hal yang sama seperti yang Ahok alami di Jakarta. Adil yang menurut Anies tidak sekedar kata-kata tapi pada programnya, justru semakin ditegaskan Ahok bahwa program mana lagi dari Pemprov yang tidak adil dari mulai pembebasan PBB sampai KJP yang dimanfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat Jakarta yang kurang mampu.

    Publik juga bisa menilai reklamasi oleh Anies-Sandi hanya dijadikan senjata politik untuk mengeruk suara di Pilkada Jakarta ketika Ahok mempertanyakan ketidak konsistenan Anies-Sandi yang terkesan tarik ulur, suatu waktu mengatakan reklamasi akan diberhentikan di waktu yang lain mengatakan akan ditinjau ulang. Sementara dari sisi lain, Ahok begitu gamblangnya menjabarkan manfaat reklamasi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta baik dari kaum elit sampai kaum marginal, dari para pelaku industri sampai dengan nelayan.

    Dan tak ketinggalan pula masalah hunian yang kembali dipertanyakan Ahok karena perbedaan pernyataan Anies dan Sandi mengenai kriteria pendapatan warga Jakarta yang akan mendapatkan hunian. Disinlah tergambarkan dengan detil bahwa Anies-Sandi hanya memfasilitasi dalam hal pembiayaan mendapatkan hunian bukan ke proses bagaimana menciptakan hunian baru.

    Ahok memukul Anies-Sandi dengan telak bahwa hunian baru baik rusun maupun rumah tapak wajib dibangun dan difasilitasi oleh pemprov DKI dan mendapatkan subsidi untuk mengatasi pertumbuhan penduduk Jakarta yang sangat tinggi. Tinggal klasifikasinya berdasarkan pendapatan wargalah nanti yang akan menyortir mana yang bisa memiliki rumah susun, rumah tapak atau hanya mampu menyewa.

    Pertanyaan Penutup Di Akhir Debat

    Segmen pertanyaan terakhir untuk menutup juga sangat menarik. Saya simpulkan dengan jujur bahwa Ahok lebih humanis, Ahok yang telah bertransformasi menjadi Basuki membuktikan kepada kita adalah orang yang rendah hati. Sikap rendah hati yang meminta maaf secara tulus kepada semua paslon mulai dari Agus-Silvi dan Anies-Sandi bahwa ejekan, sindiran atau sedikit cercaan bukan untuk melecehkan dan menyerang pribadi tapi untuk bertahan dari serangan pasangan lain karena posisinya sebagai petahana adalah pihak yang merasa telah melakukan bukan sekedar janji atau retorika.

    Dan pada titik inilah Ahok menang telak, karena Anies tidak secara tegas meminta maaf kepada Ahok-Djarot karena kalimat pengantarnya yang terlalu berbelit. Ahokpun secara cerdas menyebut pasangan Agus-Silvi dalam pernyataan maafnya sekaligus strategi jitu untuk bisa menarik masa pendukung Agus-Silvi dan hal ini luput dari Anies yang terlalu sibuk retorika.

    Konferensi Pers Pasca Debat

    Pada akhirnya setelah acara debat selesai dan masing-masing paslon memberikan konferensinya terhadap kalangan media kedua paslon memiliki kesamaan dalam mengangkat persatuan Jakarta menjadi hal yang penting setelah perhelatan Pilkada usai. Namun kembali kita menangkap kesan jumawa Anies yang sudah teramat yakin akan memenangkan Pilkada dengan melontarkan program 100 harinya ketika menjabat sebagai gubernur kelak
    .
    And last but not least… Akhirnya saya manggut-manggut kecil ketika Anies-Sandi menjelaskan tentang baju birunya yang tidak biasa. Baju biru yang khusus dipakai didebat pamungkas untuk menegaskan persatuan dan kebhinekaan dan melepas atribut baju putih khasnya..

    Hmmmm.… Tenyata baju biru inilah hasil konsultasi Prabowo dengan konsultan politik barunya Denny JA untuk mencitrakan Anies-Sandi sebagai tokoh yang menjaga perstuan dan kebhinekaan….. Alamaaakkkk....

    Salam Persatuan Kura-Kura,

    Aliems Suryanto
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Debat Pamungkas: Gangguan Teknis, Dugaan KPU Memihak Anies-Sandi, Hot Segmen dan Baju Biru Hasil konsultasi Denny J A Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top