728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 April 2017

    Debat Final: Ahok-Djarot All Out dan Menang dengan Telak

    Kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat saat Debat Publik Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4/2017). Pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran kedua akan dilaksanakan 19 April 2017 mendatang. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO(KRISTIANTO PURNOMO)
    Sesi pertama masih adem-adem saja, Anies-Sandi tampil dengan kemeja biru biasanya putih. Mungkin ingin menjauhkan kesan dari yang suka pake daster putih-putih itu. Ahok langsung tampil baik, beda dengan saat di Metro TV artinya dia fit sekarang.

    Sejak awal Anies-Sandi hanya bisa muter-muter saja dan Ahok-Djarot terlihat sangat praktis dan terlihat berpengalaman. Namun yang menarik adalah sesi adu argumen, dan saya akan langsung membahas sesi ini saja.

    Adu argumen, Djarot dan Sandiaga. Pertanyaan Djarot langsung menusuk dengan cara menyusun KUA-PPAS yang langsung saja Sandiaga tidak paham apa itu KUA-PPAS. Lalu Sandi hanya bisa muter-muter tidak jelas dan tidak menjawab pertanyaan lagi. Dan langsung dihajar lagi oleh Djarot yang paham betul birokrasi. Berkali-kali Djarot harus membetulkan kesalahan-kesalan Sandi. Ini seperti Dosen melawan anak SD untuk pertanyaan kalkulus. Jelas disini Sandi itu jadi wakil tapi dia gak paham apa tugasnya, sepertinya dia hanya jadi wakil karena orang super kaya saja.

    Sandi hanya bertanya soal kenaikan harga menjelang lebaran. Djarot menanggapi dengan lagi-lagi jawaban yang sangat praktis dengan membangun kontainer untuk menampung bawang dan cabe. Dan usaha-usaha lain untuk melawan tengkulak dan mafia. Lagi-lagi Sandi ini ibarat anak SD yang sedang diajari oleh gurunya. Sandi yang sudah babak belur berusaha bangkit dengan bicara soal menjaga ketersediaan dan rantai pasok bahan-bahan yang justru itu sedang dilakukan Djarot dengan membangun kontainer-kontainer tadi.

    Saat Gubernur maju, Anies membuka pertanyaan soal anak-anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Ahok mengaku memang ada anak-anak yang tidak sekolah tapi angka partisipasi kasar meningkat, tapi tetap tidak mau sekolah, ada KJP dan sebagainya lalu direkrut pegawai lepas dengan gaji UMP.  Anies menanggapi dengan muter-muter, ngawang-ngawang dan KJP Plus. Ahok selalu menaggapi dengan hal-hal praktis dan membumi. Ini sama lagi seperti seorang praktisi yang mengajari seorang dosen, dan Anies selalu bilang sama dan sama lagi.

    Kalau sama ngapain diganti Pak? Udah jelas Ahok lebih bagus.

    Berikutnya Ahok bertanya soal reklamasi dan menunjukkan plintat, plintutnya Anies soal reklamasi. Lagi-lagi Anies berputar-putar gak jelas lalu masuk aturan Gubernur tapi gak jelas ngapain, ngawang-ngawang lagi. “Jangan membohongi” Ahok mulai tegas dan menjelaskan soal reklamasi dengan data-data yang akurat. Ahok menjelaskan dengan gamblang semua tentang reklamasi dan uang triliunan yang didapat untuk digunakan untuk masyarakat. Anies terlihat gak paham soal pesisir, dimana reklamasi bikin banjir karena air ke laut ditahan reklamasi? Dan sisanya Anies hanya bisa muter-muter lagi. Lagi-lagi menunjukkan bahwa  Ahok soal bukit duri dan titik banjir yang sudah berkurang karena sebelumnya Anies mencoba menyerang dengan pernyataan bahwa warga bukit duri dibohongi kampanye. Ahok menutup dengan baik adu argumen soal reklamasi, jelas sekali Anies tidak paham apa-apa sehingga cuman bisa nyengir aja.

    Anies saat ini sudah mirip anak SMA yang sedang dimarahi oleh gurunya karena berbohong.

    Selanjutnya Anies membuka pertanyaan dengan apa strategi untuk bisa membangun persatuan di Jakarta. Ahok berpengalaman soal kampanye, ancaman-ancaman. Jadi pemimpin cuman adil, tidak terima suap dan tidak berpihak. Anies muter-muter lagi malah jadi terlihat gak paham kondisi kampanye. Ahok mengatakan bahwa Jakarta itu adil untuk rakyat kecil dan Anies sepertinya tidak dapat mengontrol emosinya hingga ingin ingin memotong Ahok, “Sabar dong pak, saya lagi ngomong” begitu ujar Ahok yang membuat Anies tersipu malu. Jadi kita bisa tau siapa yang sebenarnya emosional. ketika menanggapi lagi-lagi muter sampai habis waktu.

    Berikutnya lagi, Ahok bertanya soal DP 0 rupiah. Lagi-lagi Ahok membongkar Anies yang plintat plintut, dan mengatakan skema DP 0 rupiah tidak adil. Rumah susun skema Ahok memang lebih baik. Ahok mendesak Anies, rumah susun atau rumah tapak. Anies ngeles lagi bukan bangun rumah tapi instrumen pembiayaan. Entah sudah berapa kali direvisi lagi soal DP 0 ini.

    Ahok tegas mengatakan Anies “Tidak menjawab pertanyaan”. Memang orang macam Anies yang suka muter-muter itu harus ditegaskan seperti itu. Ini artinya Ahok fokus pada topik dan pertanyaan dan tidak mau dibawa terhipnotis oleh ucapan Anies. Lagi-lagi Anies ngotot dengan DP 0 dan soal keberpihakan padahal dulu rumah 350 juta di web saja ternyata bohong. Lagi-lagi Ahok jelas dan menohok jawaban-jawaban Anies dengan jawaban yang masuk akal.

    Dalam debat kali ini jelas Ahok dan Djarot lebih layak untuk jadi pemimpin Jakarta. Ahok-Djarot paham betul Jakarta. Ahok dan Djarot paham pertanyaan yang diajukan dan menjawab pertanyaan bukan ngeles. Ini jelas pemimpin yang sangat baik, mendengarkan dengan baik dan menjawab dengan baik. Sementara Anies-Sandi menurut saya hanya beretorika malah seperti murid yang sedang belajar dan beberapa kali dihukum karena berbohong oleh guru-gurunya.

    Jadi warga Jakarta,  mana yang kalian pilih untuk menjadi gubernur? Yang masih berstatus murid atau gurunya?



    Penulis :  Gusti Yusuf  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Debat Final: Ahok-Djarot All Out dan Menang dengan Telak Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top