728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Buni Yani segera Menyusul Ahok ke Pengadilan, Sulit Lolos Dari Jerat Pidana, Ini Penjelasan Hukumnya

    Berkas perkara kasus penyebaran SARA yang dilakukan Buni Yani pada 6 Oktober 2016 sekitar pukul: 00:28 WIB melalui akun Facebook nya hingga memaksa Ahok harus disidangkan ke pengadilan akhirnya P-21 atau lengkap. Dalam waktu dekat akan dilakukan pelimpahan tahap kedua yakni melimpahkan tersangka Buni Yani beserta alat bukti dari penyidik Polda Metro Jaya kepada Kejaksaan Depok untuk segera disidangkan di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Namun sulit bagi Buni Yani untuk bisa lolos dari jeratan Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dikarenakan semua unusrnya sudah terpenuhi:

    Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016:

    ‘’Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA)’’.

    Unsur ‘’setiap orang’’ dalam kasus penyebaran SARA yang dilakukan Buni Yani sudah bisa dipastikan terpenuhi, dikarenakan Buni Yani yang menyebar status bermuatan SARA tidak termasuk sebagai sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 44 KUHP, karena Buni Yani secara hukum bisa diperiksa di Pengadilan.

    Kemudian mengenai unsur ‘’dengan sengaja’’. Unsur tersebut memiliki dua syarat agar unsur tersebut terpenuhi yakni mengetahui dan menghendaki, serta memiliki niat. Buni Yani yang memiliki latar belakang sebagai dosen yang sudah pasti memiliki pengetahuan sudah pasti mengetahui akibat yang akan timbul dari perbuatannya dalam hal menyebarkan status yang bermuatan SARA karena konten yang disebarkan tersebut mengandung permusuhan dan dapat memecah belah hubungan antarumat beragama, dan itu telah terbukti dengan adanya aksi 411, 212 dan 313.

    Ketiga aksi tersebut terjadi lantaran Buni Yani telah menyinggung SARA melalui  status dalam akun Facebook nya. Padahal Buni Yani logikanya pasti sudah mengetahui  apa akibat yang timbul jika menyebarkan SARA apalagi lewat Facebook, terlebih lagi Indonesia sebagai salah satu pengguna Facebook terbesar di dunia. Buni Yani juga logikanya pasti sudah menyadari bahwa SARA yang disebarkannya tersebut ibarat menyiram bensin dan dilemparkan korek api hingga apinya membesar dan merembet lalu membakar apa saja yang ada disekitarnya (orang-orang yang membaca status bermuatan SARA tersebut).

    Karena jika Buni Yani tidak memiliki niat menimbulkan permusuhan antar umat beragama, maka Buni Yani langsung memadamkan api tersebut dengan air (menghapus postingannya tersebut). Jadi, niat Buni Yani menyebarkan status bermuatan SARAyang bertujuan menimbulkan permusuhan bisa dilihat dari dibiarkannya status bermuatan SARA itu tetap dilihat banyak orang dan dihilangkannya kata ‘’pakai’’. (statusnya dibiarkan, tidak dihapus hingga menyebakan gesekan di tengah masyarakat).

    Karena jika tidak memiliki niat untuk memecah belah hubungan antar umat beragama, logikanya status tersebut tidak akan diposting, tapi faktanya telah diposting hingga menyebabkan kebakaran merembet kemana-mana akibat Buni Yani yang menyiram bensin. Tetapi yang etelah menyiram bensin, justru Buni Yani malah melemparkan korek api hingga mengakibatkan terjadinya kebakaran. (Buni Yani membiarkan status tersebut hingga membuat semua seolah terbakar. Sedangkan syarat menghendaki dalam kesengajaan juga telah terpenuhi, dikarenakan tidak logis jika Buni Yani tidak memiliki kehendak dalam hal penyebaran status Facebook nya yang bermuatan SARA.

    Karena jika Buni Yani tidak memiliki kehendak untuk menimbulkan permusuhan SARA, maka Buni Yani membatalkan bahkan menghapus postingan tersebut, tetapi fakta hukumnya justru Buni Yani tetap membiarkan postingannya tersebut hingga terjadi permusuhan antar umat beragama sebagai imbas postingan Buni Yani.

    Karena jika Buni Yani ngotot tidak memiliki kehendak untuk menyebarkan permusuhan SARA, pertanyaan besarnya adalah mengapa status bermuatan SARA tersebut diposting? Karena jika tidak memiliki kehendak untuk menimbulkan permusuhan SARA, maka logikanya tentu Buni Yani tidak akan mempostingnya melalui akun Facebook nya. Karena dengan memposting lewat Facebook, itu logikanya Buni Yani menghendaki agar statusnya bisa dilihat oleh banyak orang, terutama yang berteman dengannya melalui jejaring Facebook.

    Karena telah terbukti akibat perbuatan Buni Yani yang menyebarkan status Facebook nya yang bermuatan SARA telah mengakibatkan terjadinya permusuhan bahkan perpecahan di tengah masyarakat akibat status Facebook yang dipostingnya pada 6 Oktober 2016 sekitar pukul: 00:28 WIB. Bahkan jika ingin dikaitkan dengan dua teori kesengajaan dalam hukum pidana pun, perbuatan berupa penyebaran SARA tersebut sudah terpenuhi dan makin menguatkan terpnuhinya semua unsur dalam Pasal 28 ayat (2) UU ITE. Jadi,  Buni Yani tidak akan lolos dari jeratan Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016, karena kesengajaannya bisa dibuktikan dengan gampang.

    Jika dilihat dari teori kesengajaan dengan maksud, tentu adanya penghilangan kata ‘’pakai’’ memiliki tujuan atau maksud tertentu, karena jika Buni Yani tidak memiliki tujuan atau maksud apapun terkait penyebaran status bermuatan sentimen SARA, maka tidak logis jika hanya kata ‘’pakai’’ saja yang bisa hilang dari rangkaian kalimat aslinya sebagaimana dalam pidato Ahok sebagaimana yang telah ditranskrip Buni Yani.

    Termasuk jika didalami dari teori kesengajaan sebagai kepastian, menurut jenis kesengajaan ini perbuatan Buni Yani juga sudah terpenuhi, dikarenakan pasti akan ada gesekan-gesekan yang timbul ditengah masyarakat akibat transkrip yang diposting lewat akun Facebook nya, dan gesekan-gesekan di tengah masyarakat terbukti telah terjadi.

    Dan unsur ketiga, ‘’tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA)’’ juga telah terpenuhi, dikarenakan Buni Yani paham bahwa jika persoalan agama dibenturkan dengan politik, yang pasti akan terjadi adalah timbulnya gejolak di tengah masyarakat akibat terpengaruh karena Buni Yani membenturkan SARA dengan politik.


    Penulis : Ricky Vinando   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Buni Yani segera Menyusul Ahok ke Pengadilan, Sulit Lolos Dari Jerat Pidana, Ini Penjelasan Hukumnya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top