728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 11 April 2017

    Benarkah Kepolisian Mengendus Ancaman Keamanan Hingga Sidang Ditunda?

    Sidang ke 18 kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok agendanya adalah pembacaan tuntutan.Namun Jaksa meminta agar pembacaan dakwaan diundur dan dijadwalkan pada tanggal 20 April 2017, sehari setelah pencoblosan. Penundaan ini menimbulkan reaksi dari kedua kubu, baik kubu pendukung Ahok maupun penentang Ahok.

    Seminggu sebelum sidang ke 18, pihak kepolisian telah mengirimkan surat permohonan agar sidang ditunda. Alasannya agar Polisi bisa konsentrasi mengamankan jalannya Pilkada putaran kedua. Pengiriman surat tersebut mendapat reaksi keras dari beberapa pihak. Polisi dituduh melakukan intervensi terhadap pengadilan.

    Awalnya saya pun heran, kenapa Polisi meminta agar sidang ditunda dengan alasan keamanan. Aneh, mengapa Kepolisian yang berhasil mengamankan rentetan aksi-aksi besar dan juga makar yang mendomplengnya tiba-tiba merasa harus melayangkan surat ke pengadilan dengan resiko akan dituduh mengintervensi.

    Sementara alasan Jaksa adalah karena terkendala banyaknya keterangan saksi dan ahli tambahan di luar berkas perkara yang telah dihadirkan pada persidangan sebelum-sebelumnya. Alasan yang bisa jadi benar-benar demikian tapi bisa jadi ada alasan lain. Karena menurut saya ini aneh masa sih Jaksa kita masih menggunakan sistem SKS?

    Awalnya saya menduga surat dari Kepolisian untuk penundaan pengadilan Ahok hanya pancingan saja, tapi hari ini Jaksa yang meminta agar sidang ditunda karena belum siap dengan alasan yang agak aneh. Berbeda dengan dugaan orang-orang bahwa ini bagus untuk Ahok atau ini intervensi untuk melindungi Ahok. Saya justru jadi khawatir, kalau sampai Jaksa akhirnya meminta penundaan sidang maka jangan-jangan yang dikhawatirkan Kepolisian adalah benar. Benar bahwa ada ancaman menjelang Pilkada dan Polisi sedang berupaya mengantisipasi ancaman tersebut sehingga Kepolisian butuh banyak sumberdaya untuk melakukannya.

    Kepolisian memang tidak bisa meminta penundaan sidang, tapi sepertinya pihak Kepolisian mengendus sesuatu yang cukup besar sehingga mengirimkan surat tersebut. Jaksa agung pun setuju dengan pihak kepolisian.  Mungkin kah pihak Kepolisian sudah berkomunikasi dengan Jaksa Agung?

        Muhammad Prasetyo telah menerima tembusan surat dari Polda Metro Jaya soal penundaan sidang tuntutan perkara dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

        Prasetyo pun sepakat jika sidang tersebut ditunda hingga Pemilihan Kepala Daerah serentak tuntas.

        “Saya bisa menerima dan membenarkan apa yang diharapkan dan diimbau pihak Polri supaya sidang itu bisa dijadwal ulang karena sudah mendekati masa-masa tenang untuk pelaksanaan pilkada putaran 2,” ujar Prasetyo di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (7/4/2017).

    Pilkada DKI saat ini memang menyedot banyak perhatian, banyak kebencian berakumulasi disana dan banyak orang yang ingin memanfaatkan situasi tersebut, dari sekedar mencari popularitas seperti Aa Gym hingga upaya makar. Bayangkan, sedikitnya sudah tiga kali ada upaya makar yang berhasil digagalkan oleh kepolisian sejak bulan-bulan terakhir ini. Kenapa bisa banyak seperti itu? Karena Jokowi saat ini sedang memberantas mafia-mafia diatas sana, tidak hanya mafia saja, Freeport pun ditekan.

    Belakangan ini juga terjadi peningkatan penangkapan dan serangan teroris.

    23 Maret 2017

        Densus 88 Antiteror, menangkap lima terduga teroris di wilayah Banten, Kamis (23/3/2017). Satu dari lima terduga teroris dikabarkan tewas saat terjadi baku tembak dengan petugas. Empat terduga teroris lainnya kini masih menjalani pemeriksaan oleh Tim Densus 88 Anti Teror Mabes polri.

        Dari informasi yang dihimpun, kronologis penangkapan lima terduga teroris ini berawal dari penangkapan Mulyadi, terduga teroris yang lebih dulu ditangkap tim densus 88 anti teror di Jalan Raya Labuan Cisata tepatnya di depan Man Kananga Kec. Cisata, Labuan, Banten.

    Jumat 31 Maret, Densus 88 diturunkan pada aksi 313

        Forum Umat Islam (FUI) akan menggelar aksi pada hari ini, Jumat (31/3). Polri akan mengerahkan Tim Densus 88 Antiteror agar massa tidak disusupi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

        “Kalau disusupkan, diduga ada penyusupan teror, itu juga diantisipasi. Itu sudah dilakukan oleh Densus 88 jadi sudah ada kegiatan-kegiatan deteksi dini terhadap potensi kerawanan teror,” terang Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar di kompleks Mabes Polri Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan, Kamis (30/3).

    7 April 2017

        Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) melakukan penggeledahan di rumah, Tempat Pendidikan Al Quran (TPA), dan toko milik terduga teroris ZA (50), setelah penangkapannya Jumat (7/4/2017) pagi.

        Dari penggeledahan di rumahnya, polisi mengamankan sebuah baju seragam Front Pembela Islam (FPI), tujuh buah senjata tajam, di antaranya parang, golok, celurit, sangkur, sebuah foto ZA bersama Habib Rizieq, beberapa buku dan VCD terkait FPI.

    9 April 2017

        Aksi para teroris itu dimulai dengan menembak ke arah polisi yang sedang berjaga pada Sabtu, 8 April 2017. Kedua polisi yang berhasil lolos dari penembakan adalah Aiptu Yudi dan Aiptu Tatag.

        “Datang 1 unit mobil Daihatsu Terios warna putih H 9037 BZ dan kemudian berhenti di dekat pos. Kemudian karena merasa curiga, anggota lantas atas nama Aiptu Yudi dan Aiptu Tatag mendatangi mobil tersebut dan kemudian penumpang yang berada di bangku penumpang depan kiri dan penumpang dari bangku tengah melakukan penembakan sebanyak 4 kali ke arah anggota tersebut,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar melalui keterangan yang diterima detikcom, Minggu (9/4/2017).

    Masih 9 April 2017

        Seorang anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), MNU (44), ditangkap Detasemen Khusus 88 Anti-teror saat turun dari pesawat di Bandara Internasional Juanda Surabaya.

        Dia diduga terlibat jaringan ISIS. MNU diamankan saat turun di Terminal II Bandara Internasional Juanda Surabaya, Sabtu (8/4/2017), sekitar pukul 15.21 WIB.

        “Dia diperiksa terkait keterlibatannya dengan teroris yang ditangkap di Lamongan beberapa hari lalu,” kata Kabid Humas Polda Jawa TimurKombes Frans Barung Mangera, Minggu (9/4/2017).

    Terbaru, 11 April 2017

        Hari ini, Senin (11/4/2017), sekitar pukul 10.10 WIB anggota Polres Banyumas Jawa Tengah hendak dibunuh di halaman Mapolres Banyumas.

        Korban tiga orang anggota kepolisian yakni Aiptu Ata Suparta, Bripka Irfan, dan Bripka Karsono.

        Adapun kronologis kejadian diawali saat seorang pelaku yang masuk ke dalam Mapolres Banyumas dengan menggunakan sepeda motor Honda Beat warna Hitam nomor polisi R 3920 SV dan langsung menabrakkan diri.

        Kejadian itu mengenai korban seorang polisi.

    Kalau dilihat lokasinya memang berada jauh dari Jakarta tapi agak mencemaskan karena terjadi eskalasi serangan dan juga penangkapan teroris akhir-akhir ini. Biasanya mereka ini saling terhubung, jadi bisa saja Kepolisian menemukan informasi yang membahayakan keamanan disaat menjelang Pilkada DKI. Apalagi beberapa teroris yang ditangkap ternyata ada yang memiliki hubungan dengan ormas dan partai tertentu.

    Kemungkinan besar saat ini pihak Kepolisian telah mengendus sebuah serangan yang cukup besar menjelang Pilkada DKI, hasil dari serangkaian penangkapan beberapa bulan terakhir ini. Sepertinya ancaman ini cukup besar hingga pihak Kepolisian harus mengirimkan surat meminta pengadilan ditunda, dan Jaksa Agung pun setuju hal tersebut. Apalagi serangan-serangan teroris kali ini beberapa kali mengarah pada personal Kepolisian. Bisa jadi serangan yang diendus oleh Polisi adalah untuk mengacaukan Pilkada atau untuk menyerang pihak Kepolisian.

    Kemungkinan besar dibalik ini semua,  pihak Kepolisian ingin agar dapat fokus mengatasi masalah teroris yang belakangan ini menyerang personel mereka. Dan tidak ingin terpecah konsentrasi serta sumberdaya-nya jika sampai ada aksi-aksi susulan lagi. Terakhir, semoga pihak Kepolisian dapat fokus dan mengantisipasi kelompok-kelompok yang ingin menghancurkan Indonesia.



    @GusBatmanYusuf


    Penulis :  Gusti Yusuf  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Benarkah Kepolisian Mengendus Ancaman Keamanan Hingga Sidang Ditunda? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top