728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 28 April 2017

    Banjir Bunga Untuk Ahok Bikin Haters Kejet-Kejet

    Karangan Bunga Simpatisan Anies-Sandi di Balai Kota. (Sumber: Kompas.com).
    Apresiasi masyarakat pada Ahok-Djarot melihat kepemimpinannya di ibukota yang telah mengubah Jakarta menjadi semakin maju dan mensejahterakan warganya memang tidak bisa dipungkiri. Berbagai survei menunjukkan tingkat kepuasan diatas 70%. Warga yang berpikir rasional pun menginginkan kembali agar Ahok-Djarot meneruskan memimpin Jakarta. Namun rasionalitas ini sayangnya dikalahkan dengan bombardir isu agama dan demo berjilid. Akibatnya sebagian masyarakat merasa terintimidasi dan mengkhawatirkan keamanan ibukota. Sebelumnya sudah menentukan pilihan pada Ahok akhirnya berpaling ke paslon lain karena sudah merasa jenuh dan muak melihat situasi Jakarta. Ada rasa ketakutan dan trauma di masyarakat mengingat kejadian kerusuhan 1998 terulang lagi melihat ancaman-ancaman revolusi bila Ahok menang.

    Ditambah lagi pembagian sembako yang vulgar dan penuh keganjilan semakin mendelegitimasi suara Ahok. Semacam ada kesengajaan adanya pembagian sembako dilakukan di masa tenang. Di era keterbukaan ini akan sangat mudah diketahui lalu menyebar dan dianggap politik tidak sehat yang hanya berakibat membuat alergi pada masyarakat. Sebutan tiko yang sempat menjadi viral menyebabkan etnis tertentu pun makin cemas dan menambah rasa ketakutan bila Ahok menang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi menjelang hari H pencoblosan seakan bukan sebuah kebetulan mengiringi kekalahan sang petahana.

    Kekalahan Ahok mungkin adalah jalan terbaik demi menyelamatkan kepentingan lebih besar bangsa ini untuk menghindari kegaduhan. Para sponsor yang menunggangi kasus Ahok sebagai pintu masuk menuju target utama menggoyang pemerintah untuk sementara bisa diredam dan mereka pun gigit jari. Tudingan bahwa Presiden melindungi dan mendukung Ahok terbantahkan dengan hasil PIlkada yang memenangkan Anies-Sandi.

    Namun mereka ini juga tidak kehabisan akal, fokus selanjutnya menyasar pada hasil persidangan Ahok. Mereka yang sebelumnya bersepakat menyerahkan kasus dakwaan penistaan agama pada hukum dan menghormati apapun keputusannya, sekarang mempermasalahkan tuntutan jaksa. Dianggap terlalu ringan dan tidak menjebloskan Ahok ke penjara. Tidak mau melihat fakta persidangan yang memang membuktikan Ahok tidak menista agama.

    Tuntutan jaksa sebenarnya sudah cukup menutupi muka MUI agar tidak terlalu tercoreng melihat fakta persidangan bahwa Ahok memang tidak ada niat sedikitpun menista agama maupun menyerang ulama. Kalimat yang dipermasalahkan ditujukan pada para elit politik yang menggunakan ayat suci sebagai alat propaganda kampanye. Apabila jaksa menuntut bebas akan menampar fatwa MUI yang terkesan terburu-buru mengeluarkan fatwa tanpa didahului proses tabayyun dalam hal ini mengklarifikasikan pada Ahok dan hanya keputusan sepihak saja yang dinilai lebih banyak bermuatan politik terkait Pilkada.

    Kebanyakan pendukung Ahok pun menyadari dan memahami situasi saat ini serta bisa menerima “kekalahan” Ahok dengan legowo. Terbukti tidak ada kerusuhan diciptakan seperti yang digembar-gemborkan oleh kaum sumbu pendek hingga memprovokasi warga daerah lain datang ke Jakarta. Mungkin malah bisa terjadi sebaliknya bila Anies-Sandi yang kalah dan bermodal kata dicurangi lalu melakukan revolusi dan kerusuhan seperti ancamannya.

    Membanjirnya karangan bunga ke Balaikota DKI dimana Ahok dan Djarot masih berkantor sampai Oktober nanti, adalah aksi “revolusi” ala pendukungnya yang diwujudkan dengan santun tanpa mengganggu kenyamanan warga ibukota. Bukan demo berjilid yang mengganggu warga pengguna jalan dan menelan biaya sangat besar. Ucapan yang tertulis di karangan bunga pun beraneka ragam dari yang sedih hingga bentuk lelucon guyonan tanpa menyerang pihak lain menunjukkan kedewasaan.

    Namun hal ini ditanggapi lain oleh kaum sumbu pendek. Pendukung Ahok dianggap belum bisa move on dan jurus andalan pun dikeluarkan dengan menyebar fitnah. Kiriman bunga adalah settingan Ahok. Berbagai bantahan yang membuktikan bahwa tudingan fitnah ini tidak benar sudah banyak beredar di medsos maupun media mainstream. Pernyataan langsung dari penjual maupun pemesan bunga. Tidak ada arahan dari Ahok.tapi murni partisipasi para pendukung.

    Tudingan gagal move on yang akhir-akhir ini selalu diulang dan ditujukan pada pendukung Ahok terlihat sebagai upaya pembungkaman terhadap kritikan yang nantinya bakal ditujukan pada Anies-Sandi. Bila ada yang mengkritiknya, stempel gagal move on tidak bisa menerima kekalahan akan disematkan karena memang menyadari bahwa janji-janji yang diucapkan sewaktu kampanye beberapa diantaranya bermasalah dan kontroversial. Bahkan sulit terealisasi.

    Dalam kasus kiriman bunga di Balaikota ini saja sebenarnya sudah menunjukkan pihak mana yang gagal move on. Ekspresi pendukung Ahok terhadap sosok yang dicintai dengan mengirim bunga pakai duit sendiri dan tidak ada ucapan menyinggung pihak Anies-Sandi ditanggapi berlebihan sampai ada fitnah segala. Pendukung Ahok merayakan “kekalahan” dengan ekspresi wajar bahkan penuh guyonan tapi malah terlihat haters yang sudah dikasih kemenangan jadi kejet-kejet.

    Mungkin sebaiknya pendukung Anies-Sandi bisa meniru cara sama bila nanti jagoannya yang oke oce mulai dinas di Balaikota dengan mengirimi sesuatu sebagai ucapan selamat. Kalaupun bunga dianggap hanya menghamburkan uang dan lebih baik digunakan untuk dana demo berjilid, bisa diungkapkan dengan cara lain. Misalnya mengirim sejuta daster putih ke Balaikota yang akan terlihat lebih spetakuler. Ini hanya sebuah usulan saja daripada nyinyirin terus aksi orang lain yang tidak ada kaitannya dengan junjungannya….

    Salam Anu

    Penulis :  Elde   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Banjir Bunga Untuk Ahok Bikin Haters Kejet-Kejet Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top