728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 28 April 2017

    Apakah Hakim Akan Bertindak Seperti Pilatus Dalam Memutuskan Kasus Ahok?

    Kalau didalam ilmu hukum ada adagium seperti ini “lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang benar”. Sementara dalam dunia politik ada ungkapan yang hampir mirip tapi tak sama, yaitu “dusta yang terus menerus diulang akan menjadi suatu kebenaran”

    Ada juga ungkapan orang batak seperti ini “talu do hata tingkos dibahen hata torop” yang kalau di terjemahakan kedalam bahasa indonesia yang baik dan benar alias EYD, akan seperti ini, “perkataan yang benar dapat dikalahkan oleh pendapat orang banyak”

    Ada banyak Hakim salah dalam memutuskan suatu perkara, tentu ada banyak faktor yang menuntunnya bertindak seperti itu, ada faktor karena tekanan, ada faktor karena uang, ada faktor karena kebencian dan masih banyak lagi faktor lain membuat seorang hakim menutup mata hatinya untuk mellihat suatu kebenaran.

    Bukan rahasia umum lagi di negara yang  kita cintai ini hukum itu bisa dibeli dan bisa di jual tergantung selera. . >>sudah kayak rongsokan ya..bisa jual beli he he he.

    Mungkin pembaca seword masih ingat kasus Ketua Mahkamah Konstitusi (MA) Akil Mochtar dan Patrialis Akbar dan sederet lagi hakim-hakim yang tersangkut kasus hukum di negeri ini. Mereka bisa mempermainkan hukum itu padahal mereka sendiri adalah pendekar keadilan. Betapa bobroknya mental kita yang mengaku beragama itu.

    Begitu juga dengan kasus-kasus hukum lainnya yang sering terjadi ditengah-tengah masyarakat kita, misalnya kasus yang oleh karena salah tangkap dan salah memberikan keputusan akhirnya menghukum orang yang tidak bersalah menjadi bersalah. Parahnya lagi aparat penegak hukum sepertinya tidak bertanggung akan tindakannya yang telah merugikan orang lain.

    Publik tentu berharap banyak kepada aparatur penegak hukum agar dapat memberikan rasa keadilan kepada mereka yang tersangkut hukum. Khususnya terhadap kasus yang menimpa Basuki Tjahya Purnama (Ahok).

    Kini pengadilan massa telah menjatuhkan vonnis kepada Ahok, sebagai penista agama. Dan memang benar seperti ungkapan diatas bahwa “dusta yang terus menerus diulang akan menjadi suatu kebenaran” atau “perkataan yang benar dapat dikalahkan oleh pendapat orang banyak”

    Saya menjadi teringat akan cerita sengsara Yesus yang saya Imani sebagai Tuhan Allah dan juga Juru Selamatku, ketika Yesus diperhadapkan dengan penguasa Romawi kala itu dijabat oleh Pontius Pilatus. Dihadapan Pilatus yang berperan sebagai Hakim dan Penguasa Yesus diintograsi dan adili, namun Pilatus tidak mendapatkan kesalahan apa yang dituduhkan kepada Yesus. Pilatus akhirnya menyerah, dia berkata, “Aku tidak mendapatkan kesalahan orang ini”. Saat itu Pilatus dalam keadaan bingung, antara membebaskan atau menghukum, melepaskan Yesus berarti sama dengan melawan orang-orang Jahudi  dan pamor dia sebagai penguasa akan redup. Menghukum Yesus Pilatus tidak menemukan kesalanNya. Tetapi karena tuntutan orang Jahudi, para ahli-ahli agama dan parisi akhirnya pilatus menyerahkan Yesus ketangan mereka untuk di adili lalu kemudian disalibkan. Pilatus akhirnya “cuci tangan” dengan menulis disecarik kertas “saya tidak menanggung dosa akan kesalahan orang ini”.

        Dan setelah berbicara dengan Yesus, Pilatus keluar lagi menemui orang-orang Yahudi dan mengatakan kepada mereka, ”Aku tidak mendapati kesalahan orang ini. Lagi pula, kamu mempunyai kebiasaan bahwa aku harus melepaskan seseorang bagimu pada paskah. Karena itu, apakah kamu ingin agar aku melepaskan bagimu raja orang Yahudi?” Lalu mereka berteriak lagi, katanya, Bukan Dia, Bukan Dia, lepaskan bagi kami Barnabas. Barnabas adalah seorang perampok yang juga di adili saat itu.

    Dari kaca mata hukum atau pengadilan sejatinya Yesus harus terbebas pada saat itu juga karena Pilatus tidak menemukan satupun pasal atau kesalahan apa yang harus dijatuhkan kepada Yesus. Namum secara politis Pilatus mendapat tekanan dari tua-tua Jahudi yang mengatakan Yesus itu bukan seorang raja, Dia juga bukan raja orang Jahudi, Yesus itu adalah sumber permasalahan di tengah-tengah orang Jahudi sehingga harus di hukum dan disalibkan. Begitulah suara-suara mereka yang tidak mengingikan kehadiran Yesus di tengah-tangah bangsa Jahudi.

    Sekian % kaum dungu warga jakarta tidak mengingikan keberadaan Ahok, Sikian % para politisi busuk juga tidak menginginkan keberadaan Ahok. Sekian % pengusaha hitam tidak mengingikan Ahok, Sekian % Koruptor juga tidak menginginkan Ahok. Jika ditotal secara keseluruhan 58% mereka tidak menginginkan keberadaan Ahok. Hanya yang berpikir waras 41% yang mengiginkan Ahok.

    Pertanyaannya adalah apakah yang Mulia (Hakim) akan mendengar suara-suara mereka yang tidak mengiginkan Ahok??

    Tanggal 9 Mei 2017 adalah hari penentuan untuk sang Gubernur Ahok, apakah terbebas dari segala tuduhan atau dihukum dari ketidak bersalahannya.

    Sejarah mungkin akan selalu berulang, mari kita lihat apakah kita masih hidup dijaman kegelapan atau sudah hidup dijaman peradaban.

    .“Sesungguhnya rahmat Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

    Salam perdamaian dari sipecinta perbedaan.

    Penulis :  Sidabutar Hebron  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Apakah Hakim Akan Bertindak Seperti Pilatus Dalam Memutuskan Kasus Ahok? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top