728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 07 April 2017

    Anies,”Ngga Usah Cengenglah, Biasa Saja”

        “Fitnah lagi fitnah lagi, panggilan polisi lagi panggilan polisi lagi. Kita lihat saja, kami banyak lapor tapi nggak di-follow up tuh. Sementara kalau manggil Bang Sandi baru dilaporin langsung di-follow up. Kenapa ya,” ucap Anies.

    Fitnah lagi?
    Memangnya ada fitnah ke Anies Sandi? Kalau ada yang fitnah kan ini negara hukum, tinggal dilaporkan saja. Selama memiliki bukti bahwa apa yang dikatakan itu tidak benar, tinggal lapor kan Pak?

    Kalau tidak lapor tapi bilang saya difitnah, bukannya itu namanya cengeng ya?

        Panggilan polisi lagi, panggilan polisi lagi?

    Berapa kali dipanggil Pak? cuma dipanggil kan apa susahnya, kalau tidak salah disahut saja kali.
    Kan kita negara hukum, saat hukum memerlukan data dari kita, ya sudah sepantasnyalah kita datang dan memberikan data yang kita miliki, masalah nanti status kita berganti, itu nanti, kan negara hukum.
    Lihat tu Pak Ahok, sudah sampai 17 kali datang di sidang, tujuh belas kali Pak! dan tidak pakai acara ngeluh, disidang lagi disidang lagi!
    Ini baru namanya ga cengeng. Laki!

        “Kok polisi responsif ya kalau ada pelaporan terhadap Sandi, tapi kalau ada laporan dari kami kok ya lama prosesnya,” tutur Anies.

    Hah? Simpulan dari data yang mana nih Pak?
    Data mana? Mana data! Ta ta ta ta ta ta….
    Jangan bilang itu hanya simpulan diri sendiri dari data perasaan lo ya!

    Sebagai perbandingan nih ya Pak,
    Guru Besar Hukum Universitas Bengkulu Profesor Djuanda mengakui proses penyidikan hingga pelimpahan berkas ke pengadilan tidak biasanya, sangat cepat dibanding kasus hukum lainnya.

    Dah, ga pakai kalimat bersayap lagi, jelas! Lebih cepat dibanding kasus lainnya. Menurut Guru Besar Hukum Universitas Bengkulu. Bukan menurut perasaan.

        Anies tidak mengetahui sebab responsifnya kepolisian menangani kasus yang melaporkan pihaknya. Namun pihaknya mengajak masyarakat turut mengajak aparat pemerintah berlaku netral. “Kami mengajak kepada semua warga, yuk kita ajak pemerintah untuk netral. Yuk kita ajak polisi untuk netral. Kan yang harusnya ngajak netral kan pemerintah, bukan warga. Tapi kalau melihat begini rasanya kita harus mengingatkan tuh semuanya,” kata Anies.

    Simpulan responsifnya kepolisian ini hanya simpulan Pak Anies ya, datanya belum teruji.
    Nah yang parah adalah kalimat selanjutnya. Anies mengajak masyarakat untk mengajak aparat pemerintah berlaku netral.

    Dari kalimat ini ada beberapa asumsi yang ingin ditanamkan ke benak pembacanya. Pertama asumsi bahwa aparat pemerintah tidak berlaku netral.
    Benarkah ini yang Pak Anies maksudkan?

    Kalau benar maka parah.
    Pak Anies berarti menuduh bahwa aparat pemerintah ada yang berlaku tidak netral. Yakin Pak? Jangan fitnah lo ya.

    Saya bandingkan dengan beberapa kejadian yang melibatkan penyelenggara pemilu nih, Sebutlah:

        Pertemuan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath dan kawan-kawannya dengan ketua KPU di Kantor KPU DKI Jakarta, Salemba, Jakarta Pusat pada hari Nyepi.
        Aksi walk out Ahok Jarot saat penetapan pasangan calon untuk pilkada putaran kedua. Dengan alasan KPU tidak mengetahui kalau Ahok sudah datang terlebih dahulu.
         Aksi 313 yang dinilai KPU tidak termasuk kampanye. Padahal Forum Umat Islam (FUI) dengan tegas telah menyatakan bahwa Aksi 313 yang digelar di Jakarta bertujuan untuk memenangkan gubernur muslim di Pilkada DKI. “Aksi besok tidak bubar di istana. Kami akan pulang bareng dan menuju titik yang dituju untuk Salat Maghrib. Ini dalam rangka kesatuan umat Islam bela Islam, Alquran dan memenangkan gubernur muslim Jakarta,” ujar Sekretaris Jenderal FUI Muhammad Al Khathtath kepada wartawan di Jakarta, Kamis (30/3).

    Dari hal hal tersebt saja terlihat bahwa KPU lebih berat ke arah Anies Sandi. Tapi apakah Ahok Jarok mengeluhkan hal ini dengan berkoar koar di media. Tidak, mereka langsung ngomong ke KPUnya, kami walk out! Itu jantan, bukan cengeng. Ngemeng di belekeng.

    Satu lagi, anies mengajak rakyat untuk mengajak pemerintah berlaku netral. Maksudnya ngajak demo nih Pak?
    Ngomong mbok ya yang jelas, kan sudah ada sistemnya. Kalau merasa ada aparat pemerintah yang bertindak tidak profesional tinggal laporkan ke pengawasnya. Kalau Polisi laporkan ke provostnya. Kan gitu. Jangan malah membuat aturan lain di luar sistem.



        Anies menilai laporan berbagai pihak itu tidak menurunkan elektabilitasnya. “Apalagi kita juga tidak merespons dengan marah. Kita santai aja, biasa-biasa aja,” ujar Anies.

    Pak Pak, kalau biasa saja, kalau santai saja, kan tinggal datangi itu kepolisian, tinggal jawab pertanyaan dari mereka. Beres, ngapain ngeluh-ngeluh, ngapain ngajak ngajak rakyat mengingatkan aparat dengan kalimat bersayap, kan sudah ada sistemnya Pak.

        Pihaknya merespons fitnah tersebut ketika banyak pertanyaan dari awak media yang datang kepadanya. “Karena Anda-anda (wartawan) bertanya, jadi kami jawab. Kalau nggak, ya kami cuek saja, karena yang kita pikirkan itu adalah kampanye ini untuk warga Jakarta. Kampanye ini bukan tentang kita, tapi warga Jakarta,” kata Anies.

    Rakyat juga butuh kejelasan soal calom pemimpinnya Pak, Kalau memang mikirin rakyat, minta tuh Sandi datang ke kepolisian.
    Gitu ya, tidak usah pakai kalimat bersayap lagi. Tunjukkan saja tindakannya.

        “Biasa, kalau makin kuat ya makin banyak yang begini-begini, nggak usah cengenglah biasa aja,” tutur Anies.

    Ahahaha, saya tunggu tindakan nyatanya ya Pak!


    Penulis : Taksa Madani   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies,”Ngga Usah Cengenglah, Biasa Saja” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top