728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Anies Baswedan LANGGAR Semboyan Salam Bersama OK OCE

        Sebelum saya menulis lebih dalam, saya tertarik untuk mengutip sebuah kalimat berikut ini!
        “Adalah sama menjadi seorang pemimpin dengan menjadi dirimu sendiri; bisa sangat mudah dan sederhana, tapi juga bisa sangat sulit.”

        (Anonim)

    Kalimat tersebut memiliki makna yang sangat dalam, bahwasannya menjadi seorang pemimpin, kita harus bisa memimpin diri kita lebih dahulu. Logikanya sangat sederhana, bagaimana mungkin kita bisa memipin banyak orang sedangkan diri kita sendiri saja tidak bisa kita pimpin.

    Makna pemimpin tidak hanya sebatas  soal jabatan atau atasan dan bawahan. Pemimpin tidak hanya bercerita soal tangguh dan lemah, melainkan soal karakter dan kesetiaan yang tidak pernah abu-abu. Yang sekarang katakan Ya dan nanti atau lusa katakan Tidak.



    Sehingga tidak heran calon pemimpin biasanya yang paling disoroti adalah karakter dan kesetiaannya akan ucapan janjinya sebelum memutuskan maju sebagai calon pemimpin.

    Sejauh mana mereka berpegang teguh akan janji kampanye nya kepada warga, serta sejauh mana mereka sanggup merealisasikannya. Tapi sayangnya yang sering kita jumpai dilapangan banyak sekali pemimpin yang lupa akan janji-janjinya. Sehingga tidak berlebihan jika mengatakan politikus itu penipu ulung. Mereka bersandiwara akan membangun jembatan bahkan di tempat yang tidak ada sungainya, mereka berjanji akan menciptakan lapangan kerja, memberikan kesehatan dan lain-lainnya. Namun setelah mereka terpilih menjadi pemimpin, yang terjadi justru sebaiknya, mereka mendadak terserang amnesia akut. LUPA!

    Anies-Sandi Salam Bersama-HalloJakarta.com

    Mirip dengan ulasan diatas, seorang Calon Gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan tiga, Anies Baswedan adalah contoh seorang pemimpin yang paling sering mengobral janji, mempermainkan kata seenaknya untuk mendapatkan dukungan. Sekarang mengatakan jangan, nanti atau besok melanggar.

    Contohnya, di debat pilkada putaran pertama, Anies dengan lantangnya menolak dana Rp 1 miliar per RW milik Agus. Anies beralasan program 1 miliar tiap RW yang dicanangkan Agus tidak memajukan warga DKI. “Itu adalah cara kampanye, tapi itu bukan cara memajukan warga Jakarta,” ujar Anies.

    Namun siapa sangka, setelah memastikan diri melaju keputaran kedua, Anies lupa kata-katanya, dia justru mengadopsi program dana Rp 1 miliar milik Agus. Parahnya, Anies menaikkan dana yang tadinya 1 miliar, akan ditambah menjadi Rp 3 miliar tiap RW. Lantas salahkah saya kalau mengulangi pernyataan Anies saat berteriak mengatakan  “Itu adalah cara kampanye, tapi itu bukan cara memajukan warga Jakarta.”

    Perhatian, Anies melanggar ucapannya dengan status masih calon Gubernur. Bagaimana nanti setelah dia duduk menjadi Gubernur? Bisa-bisa warga DKI tidak memiliki identitas lagi, warga DKI akan dicap sebagai warga pendusta yang nangkring diposisi teratas dari 34 provinsi di Indonesia. Mengerikan!

    Bagi kalian yang penasaran akan bahayanya ucapan Anies yang sering kali kontradiksi dengan perbuatannya, silahkan searching di mbah gugel.

    Yang terbaru yang paling saya soroti adalah, Anies melanggar semboyan salam bersama OK OCE ketika hadir di debat Mata Najwa. Ini saya lampirkan bukti screenshot-nya.

    Jakartamajubersama.com


    Foto diatas saya kutip dari situs resmi Anies-Sandi, disana jelas sekali mereka menekankan kepada masyarakat, bahwasannya ajang kampanye haruslah dijadikan festival adu gagasan dan karya, bukan ajang caci maki sesama. Pernyataan ini  sebenarnya lebih mengarah kepada penggiringan opini publik, bahwasannya Anies-Sandi ingin warga DKI beranggapan bahwa mereka adalah orang yang lebih menyukai kemenangan dengan cara yang elegan tanpa SARA atau menyerang kepada orangnya langsung.

    Tapi ketika debat yang disiarkan oleh Metro TV beberapa hari yang lalu, kita semua lihat bagaimana Anies menyerang Ahok dengan fitnah, Anies menyerang Ahok tanpa bukti. Inilah deretan serangan Anies kepada Ahok sekaligus bukti Anies melanggar semboyan salam bersama OK OCE.

        “Kalau saya, yang harus disiapkan adalah menjadi Gubernur. Kalau Pak Ahok, yang harus disiapkan (adalah) kalau tidak jadi gubernur,” kata Anies Baswedan di ujung debat saat moderator Najwa Shihab menanyakan kesiapan para calon gubernur untuk kalah. Sedangkan Ahok menjawab menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, ketiak ditanya pertanyaan serupa.
        “Pilihannya sederhana, gubernur yang putus asa melihat kenyataan itu, atau gubernur yang mau mencari solusi melihat kenyataan itu.” Ucap Anies , sebelumnya Ahok meminta penjelasan Anies soal rumah murah 300 juta per unit. 1 juta rumah dikali 300 juta itu 300 triliun. Uang itu  darimana ?  Tanya Ahok
        “Saya yakin Jakarta butuh pemimpin efektif, kepemimpinan yang mengayomi, bukan berpihak ke atas, tapi mengayomi semuanya.” Ujar Anies. Lagi ujaran fitnah Anies ditepis Ahok yang mengatakan, “Kalau tidak benar, pasti tidak bisa saya rangkul, dan saya bangun infrastruktur itu buat orang,” ujar Ahok. “Di sini ada problem, (Ahok) tidak bisa membedakan artinya merangkul dengan menegakkan aturan,” Balas Anies.

    Diatas adalah bukti kecilnya bahwa Anies lebih kearah menyerang daripada menyampaikan gagasan dan program kerjanya. Tapi kita patut bersyukur dengan adanya debat antar calon Gubernur ini, disini kita bisa sama-sama menilai siapa yang layak menjadi Gubernur, Ahok atau Anies. Jadi seharusnya Salam Bersama OK-OCE harus dihapuskan untuk menghilangkan bukti, bahwa Anies tidak melanggar semboyan Salam Bersama.

    Begitulah Kura-Kura

    Salam Seword,


    Penulis : Tiur Panondang 17  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies Baswedan LANGGAR Semboyan Salam Bersama OK OCE Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top