728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 10 April 2017

    Analogi Sang Penista dan Saksi Palsu

    “Bu …” Tono menghampiri ibunya yang sedang merajut di ruang keluarga.

    “Ada apa, Nak?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan pada anak kelas 3 SMA itu.

    “Ibu sudah baca ayat hari ini?” Tono duduk di sebelah ibu lalu membuka Alkitab bagian tengah.

    “Belum,” ujar ibu sambil menggelengkan kepala, “coba, tolong bacakan, Nak.”

    Tono membantu membacakannya. Cukup panjang ayat dari Tambahan-Tambahan pada Kitab Daniel pada bagian kitab Deuterokanonika itu, tapi sang ibu dengan sabar mendengarkan setelah menyingkirkan rajutannya untuk sementara.

    “Nah,” Tono menutup Alkitabnya dengan menyelipkan pembatas buku, “ ada yang terbesit cerita yang sama dengan ini enggak, Bu?”

    “Cerita?” ibu mengernyit, “maksudnya?”

    “Itu lho, Bu, berita yang lagi heboh dituduh menista agama tertentu.”

    “Oh, iya iya. Sampai sekarang masih di sidang ya?”

    “Iya, Bu. Aku terbesit setelah membaca ayat-ayat ini, sepertinya kurang lebih kasusnya sama seperti itu,” Tono membuka lagi kitab tadi yang ber-subjudul Kisah Susana dan Daniel, “aku rangkumkan dengan bahasaku ya dari 62 ayat ini.”

    Ada seorang wanita yang bernama Susana. Ia bersuamikan Yoyakim. Yoyakim adalah orang terhormat di Babel.

    Kemudian ada dua orang tua-tua yang ditunjuk menjadi hakim. Mereka sering mengunjungi rumah Yoyakim.

    Suatu hari Susana sedang berjalan-jalan di taman rumah dan mereka mengintipnya. Karena parasnya yang cantik jelita, timbullah nafsu birahi. Namun, dipendamnyalah setiap hari hingga suatu hari Susana sendirian dan mereka ingin melakukan tindakan tak senonoh. Susana menolak dan diancam. Susana tak takut, katanya “lebih baiklah aku jatuh ke dalam tangan kamu dengan tidak berbuat demikian, dari pada berbuat dosa di hadapan Tuhan.”

    Setelah gagal, di depan rakyat mereka benar-benar memfitnah Susana sesuai dengan ancaman sebelumnya bahwa mereka melihat Susana tidur bersama pria lain yang tidak diketahui identitasnya karena telanjur kabur sewaktu ketahuan.

    Saat nyawa Susana akan dihabisi, Tuhan mendengarkan doanya mengenai kesaksian palsu si pemfitnah dan menurunkan Roh suci pada anak muda yang bernama Daniel.

    Akhirnya Daniel berkata, “Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel? Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti?”

    Setelah kembali ke tempat pengadilan, orang tua-tua itu dipisah untuk diperiksa. Namun, jawaban mereka akan pertanyaan tempat Susana melakukan tindak terpuji itu tidaklah sama. Karena ketahuan bersaksi palsu, mereka pun akhirnya dibunuh menurut Taurat Musa.

    “Hmm … ya,” tangan ibu menopang dagu, “kurang lebih sama ya.”

    “Sudah kelihatan kan, Bu, siapa yang difitnah dan siapa yang memberi keterangan palsu. Sama dengan kasus yang heboh itu. Hanya jalan ceritanya saja yang berbeda.”

    “Kamu hati-hati lho, jangan asal menafsirkan ayat,” ibu menasehati.

    “Enggaklah, Bu,” ucap Tono meyakinkan, “aku kan hanya menganalogikan sebuah cerita dan kasus saja, tapi tidak mengartikannya.”

    “Tapi, Bu …,” tiba-tiba Tono melanjutkan ucapannya, “kan sudah banyak tuh yang bersaksi palsu di sidang beliau, berarti harusnya dibunuh dong!”

    “Kamu ini,” ibu hanya tersenyum geli, “kita ini kan hidup di negara berdasarkan hukum, bukan negara agama. Jadi hukuman pun berdasarkan aturan yang sudah dibuat negara.”

    “Sudah SMA harusnya sudah tahu dong,” sang ibu menambahkan.

    “Iya sih, Bu, tapi kan kesal gitu. Mereka memberikan bukti-bukti juga enggak kuat tapi sidangnya masih saja berjilid-jilid. Ada berapa ya saksi palsu? Sepuluhkah? Lihat di Kisah Susana dan Daniel tadi saja dua saksi palsu dan hanya satu jilid.”

    “Zamannya juga sudah berbeda, Nak,” sang ibu menjelaskan, “biasanya zaman sekarang ada kepentingan politik di balik itu. Kamu lihat saja siapa saja orang-orang di balik saksi palsu.”

    Tono hanya mengangguk dengan agak memajukan bibirnya, “Ya, semoga hakim bisa memutuskan yang terbaik, ya, Bu.”

    “Nah, gitu dong,” kata sang ibu sambil membelai pelan rambut sang anak, “jadi orang juga harus jujur, biar mereka yang enggak jujur berurusan dengan Tuhan.” Sang ibu diam-diam mengagumi pikiran kritisan anaknya.

    “Assalamualaikum,” terdengar suara panggilan dari teras rumah.

    “Waalaikumsalam,” ibu dan Tono berbarengan menimpali.

    “Ah iya, aku mau izin belajar bareng Budi dulu ya, Bu,” kata Tono sambil membereskan Alkitabnya lalu bergegas ke kamar mengambil buku dan tasnya.

    “Pulang sebelum magrib ya,” perintah sang ibu setelah anaknya mencium tanga



    Penulis : Devina Kwanady  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Analogi Sang Penista dan Saksi Palsu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top