728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 07 April 2017

    (Analisis) Skenario Di Balik Permintaan Penundaan Pembacaan Tuntutan Terhadap Ahok

    Seperti diberitakan baru-baru ini, Kapolda Metro Jaya Irjen Iriawan meminta pembacaan tuntutan kasus penodaan agama oleh Ahok ditunda hingga usai waktu pencoblosan Pilkada DKI 19 April 2017. Dalam surat kepada ketua pengadilan negeri Jakarta Utara, Iriawan mengatakan penundaan ini perlu dilakukan demi menjaga situasi keamanan dan ketertiban Jakarta jelang pemungutan suara putaran kedua.

    Ada beberapa pihak yang menyayangkan ini sebagai bentuk intervensi kepolisian atas kasus Ahok. Awalnya saya juga tidak menyetujui ini, karena ini akan menjadi target serangan untuk menyerang Ahok. Ahok akan kembali dipersepsikan dilindungi oleh kepolisian, seperti yang sering dikoar-koarkan oleh gerombolan sebelah.

    Tapi setelah Polda Metro Jaya juga melakukan hal yang sama untuk Anies-Sandi, saya baru setuju. Pihaknya menginformasikan ke pengadilan negeri Jakarta Utara bahwa proses penyelidikan terhadap laporan polisi yang menyeret nama Anies Baswedan dan Sandiaga Uno juga ditunda hingga pemungutan suara selesai dilaksanakan. Kalau sudah begini, tidak ada yang perlu berteriak dan menangis merasa diperlakukan tidak adil.

    Terlepas dari bagaimana nanti prosesnya serta apakah dikabulkan atau tidak, nanti akan segera kita ketahui. Yang menjadi pokok pertanyaan terpenting adalah, “Mengapa Polda Metro Jaya melakukan ini?” Untuk alasan keamanan. Tapi apa penjelasan detilnya?

    Dalam salah satu poin dalam surat tersebut ada disebutkan mengenai semakin rawannya situasi keamanan di DKI Jakarta. Selain itu akan dilaksanakan pengamanan terhadap pemungutan suara di mana penguatan Polri dan TNI akan dikerahkan semua. Dari kalimat ini sepertinya kepolisian mencium bau tidak enak pada hari pencoblosan nanti. Itu yang membuat saya langsung teringat dengan program Tamasya Al-Maidah.

    Sementara itu Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Metro Jaya Merdisyam heran dengan adanya aksi ini yang bertujuan memobilisasi massa dari berbagai daerah untuk mendatangi Jakarta dan bertepatan pada tanggal 19 April. Padahal pengamanan TPS sudah dilakukan oleh Kelompok Petugas Pemungutan Suara (KPPS), ditambah dengan unsur kepolisian dan beberapa pihak terkait.

    Untuk apa bikin semak Jakarta dengan aksi yang sebenarnya tidak perlu dilakukan? Kalau tidak ada udang di balik peyek, tentu aksi ini tidak akan ada. Dan ini termasuk meresahkan dan dapat mengganggu keamanan. Bukannya bermaksud menuduh, ditakutkan ada potensi terjadinya intimidasi para pemilih. Kalau memang itu tujuannya, maka memang benar bahwa situasi sedang rawan.

    Penjelasan lainnya adalah skenario ini. Pembacaan tuntutan terhadap Ahok usai Pilkada memang adalah jalan paling aman. Jika pada nantinya Ahok dinyatakan tidak bersalah, memang akan terjadi ledakan, maksudnya ledakan emosi gerombolan sebelah yang sudah dari dulu ngidam Ahok dipenjara. Tapi efeknya mungkin tidak besar lagi karena Pilkada telah usai.

    Ahok menang pun, rasanya percuma ribut-ribut karena meski berkoar-koar, toh Ahok sudah menang. Apalagi kalau Ahok kalah Pilkada, dijamin tidak akan ada aksi dan demo tak jelas seperti dulu lagi. Tujuan dari semua ini adalah Ahok kalah Pilkada atau dinyatakan bersalah saat persidangan atau kalau bisa keduanya sekaligus.

    Bagaimana jika nantinya Ahok diputus bersalah? Situasi akan aman karena tujuan utama gerombolan you-know-who sudah tercapai. Tujuan tercapai, buat apalagi demo dan bikin aksi jilid berikutnya? Masuk akal, bukan? Baik Ahok menang atau kalah Pilkada, dan Ahok dinyatakan bebas atau bersalah, jika momen ini terjadi usai Pilkada, situasi akan berkisar antara terkendali hingga aman sentosa.

    Situasi bisa memanas jika pembacaan tuntutan terhadap Ahok nanti tidak sesuai dengan target gerombolan you-know-who. Bisa saja mereka merasa tuntutan sangat sedikit. Apalagi Ahok dinyatakan tidak bersalah? Apalagi rumornya pembacaan tuntutan akan disiarkan Live. Daya jangkau pemirsa akan lebih luas lagi. Wah wah wah. Bagi pendukung Ahok, ini mungkin menjadi berita yang membahagiakan. Tapi bagi gerombolan sebelah, ini berarti ada tindakan reaktif sebagai langkah terakhir. Skala ributnya pasti lebih bising dan besar. Mungkin inilah yang paling ditakutkan terjadi. Lain halnya jika waktunya sudah lewat Pilkada, efeknya tidak sebesar itu dan lebih mudah diredam. Mungkin ini yang menjadi pertimbangan Polda Metro Jaya mengeluarkan surat pemintaan ini.

    Jika ini dikabulkan, maka minggu depan tidak akan ada pembacaan tuntutan dan minggu berikutnya tidak ada pembacaan pledoi oleh Ahok meski saya tidak sabar ingin mengetahui hasilnya seperti apa. Pledoi ini menurut saya bisa menjadi alat untuk meyakinkan masyarakat sekaligus alat kampanye gratis. Tapi demi keamanan dan mengalah pada gerombolan you-know-who yang mirip anak-anak yang suka menangis terguling-guling di lantai kalau keinginan tidak diakomodasi, memang lebih baik sidang ditunda saja hingga Pilkada usai. Mau ribut? Proses hukum paslon sebelah juga diminta ditunda. Adil, bukan?

    Masih ngotot minta sidang dilanjutkan meski misalnya nanti ditunda? Silakan, asalkan nanti jangan kejang-kejang bila hasil tidak sesuai yang diharapkan. Sanggup menerima kenyataan pahit? Ini yang sungguh diragukan. Malah nanti takutnya dijadikan alasan untuk mendidihkan situasi dan pura-pura kehilangan kewarasan.

    Bagaimana menurut Anda?


    Penulis : XHardy   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: (Analisis) Skenario Di Balik Permintaan Penundaan Pembacaan Tuntutan Terhadap Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top