728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 11 April 2017

    Aksi Heroik Kepolisian Memerangi Terorisme di Tuban, Nyinyiran Komnas HAM, dan Narasi Besar NU

    Melihat berita berseliweran dimana-mana terkait aksi terorisme di Tuban, Jawa Timur, tangan saya tergerak untuk menulis. Kebetulan Tuban adalah kampung halaman saya, dimana kejadian seperti ini jarang sekali ditemui. Di Jawa Timur, Tuban terkenal sebagai salah satu Kabupaten yang masyarakatnya sangat toleran terhadap semua golongan. Apalagi secara kultur agama, hampir 90% masyarakatnya adalah penganut NU. Yang terkenal dengan julukan Islam toleran.

    Budaya pluralisme di Tuban, bukanlah asupan jempol belaka. Hal ini terbukti dengan adanya bangunan Kelenteng Kwan Sing Bio yang sudah berdiri sejak abad ke-19. Tepatnya pada tahun 1928 silam. Bangunan yang berdiri diatas lahan seluas 4 hektar itu, tercatat sebagai Kelenteng terbesar se-Asia Tenggara.

    Lokasinya pun tak jauh dengan Masjid Agung di Tuban. Memang terlihat sangat kontras, mengingat Tuban yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi begitulah kenyataannya. Jika saja masyarakat Tuban intoleran, mana mungkin bangunan Kelenteng sebesar itu bisa berdiri megah disana.

    Bukan hanya itu, ada contoh lain yang menunjukkan sisi toleransi di Tuban. Suatu contoh ketika ada hari raya Nyepi atau hari besar umat agama lainnya, secara otomatis suara adzan yang biasa berkumandang melalui pengeras suara dikecilkan suaranya untuk menghormati saudara sebangsanya menjalani ibadah.

    Begitulah sekilas cuplikan tentang Tuban yang terkenal dengan julukan Bumi Wali. Tidak ada alasan khusus, kenapa saya harus menulis. Tak lain tujuannya adalah untuk meluruskan opini publik dari pengaruh media-media hoax yang cukup meresahkan masyarakat. Terutama masyarakat kalangan bawah, yang sangat rentan terhadap provokasi menyesatkan.

    Akhir-akhir ini telah terjadi sederet peristiwa yang masih menyisakan drama tersendiri bagi sebagian orang, terutama para pelaku kejadian.

    Pertama, aksi teror di Tuban yang menewaskan enam orang terduga teroris menjadi bagian pertama yang akan saya bahas. Dari hasil investigasi dilapangan, penyerangan Pos Polisi di Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu (8/4) sebagai aksi balas dendam. Terduga teroris menembak polisi yang berjaga karena sehari sebelumnya terjadi penangkapan terduga teroris di Lamongan, Jawa Timur.

    Dalam penangkapan terduga teroris di Lamongan, polisi menangkap Zainal Anshori yang disebut berperan dalam penyediaan senjata untuk peristiwa Bom Thamrin 2016. Zainal juga menjabat sebagai Amir Jamaah Anshar Daulah, kelompok yang sudah membaiat diri kepada ISIS.

    Hal itu dikuatkan dengan pernyataan Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Rikwanto. Brigjen Rikwanto menyebutkan bahwa untuk perencanaan penembakan terhadap Pos Lantas Res Tuban yang berada di Jalan Raya Tuban – Semarang merupakan perintah dari Zainal Anshori, apabila dirinya ditangkap.

    Penyerangan kepada polisi di Tuban terjadi pada Sabtu (8/4) sekitar 10.00 WIB. Pelaku yang mengedarai satu unit mobil, menghampiri Pos Polisi di Jalan Raya Tuban-Semarang. Aiptu Yudi dan Aiptu Tatag yang berjaga di tempat itu, curiga dan mendatangi mobil terduga teroris. Namun, mereka malah disambut empat kali tembakan.

    Setelah meletuskan senjata apinya, para pelaku lari dan baru tertangkap pada 17.00 WIB di area persawahan Kecamatan Jenu, Tuban. Enam orang terduga teroris tewas dalam kontak senjata dengan polisi.

    Empat dari enam orang yang tewas itu diketahui bernama Adi Handoko, Satria Aditama, Yudhistira Rostriprayogi, Endar Prasetyo. Sedangkan dua orang lainnya belum diketahui identitasnya.

    Apa yang dilakukan anggota kepolisian adalah tindakan refleksi untuk membela diri dari ancaman pembunuhan oleh terduga teroris. Dalam kondisi yang terhimpit, kecil kemungkinan untuk melakukan negosiasi agar mereka menyerah tanpa perlawanan. Tidak ada tawar menawar disini, apa lagi masing-masing dari mereka membawa senjata api yang terus melakukan perlawanan. Jika tidak sigap, justru aparatlah yang akan menjadi bulan-bulanan para terduga teroris yang bisa berujung kematian.

    Keselamatan banyak orang lebih diutamakan, dari sekedar menangkap terduga teroris hidup-hidup. Karena kalau tidak, lolosnya mereka dari kejaran, justru akan menambah PR baru bagi kepolisian. Imbasnya, masyarakat sekitar akan semakin ketakukan karena terduga teroris masih berkeliaran. Untuk itu, perlu kita support dan apresiasi setinggi-tingginya agar mereka tetap semangat dan tetap waspada terhadap aksi-aksi teror yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

    Kendati demikian, selalu ada nyinyiran-nyinyiran yang justru menyudutkan kepolisian. Dalam hal ini, pihak yang selalu kontra terhadap pemerintahan, justru mereka memiliki tanggapan yang berbeda. Terutama dari kalangan sumbu cingkrang. Mereka menganggap, apa yang dilakukan oleh aparat kepolisian adalah suatu tindakan berlebihan. Dalam keyakinan sesatnya, mereka mengatakan hal itu bukanlah tindakan terorisme, tetapi hanya gerombolan perampok yang kebetulan singgah di Tuban. Sungguh opini yang tak bertanggung-jawab.

    Kedua, hal yang serupa juga dilontarkan oleh Komnas HAM. Ironis memang, instansi yang sama-sama berdiri di garda pemerintahan, justru membuat pernyataan yang malah melemahkan kepolisian. Melalui pernyataanya yang tersiar dibeberapa media, Maneger Nasution mengatakan :

    “Kebijakan pemerintah lewat penegak hukum dalam penanggulangan terorisme di Indonesia sudah menyimpang,” ujar dia melalui pesan singkat, Minggu (9/4/2017)

    “Densus 88 Polri cenderung menerapkan konsep strategi ‘perang’ dengan cara pembunuhan dan pembantaian terhadap terduga teroris, bukan preventif,” lanjut dia.

    “Penembakan enam orang terduga teroris di Tuban, Jawa Timur oleh Densus 88 diduga tidak berbasis HAM, bertentangan dengan prinsip HAM,” ujar Maneger.

    “Apakah akan terus terjadi penembakan terhadap kelompok tertentu dengan dalil terduga teroris sesuai skenario sutradaranya? Marilah bangsa ini jujur pada diri sendiri, jujur pada dunia kemanusiaan dan jujur pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa,” lanjut Maneger.

    Saya sangat menyayangkan pernyataan Maneger pada poin terakhir. Seolah-olah dia menganggap jika kejadian kemarin itu adalah rekayasa. Yang bisa diatur sesuai dengan kemauan sutradara, dalam hal ini kepolisian. Terlepas dari tindakan yang diambil kepolisian dalam melumpuhkan teroris, mungkin Maneger lupa dengan serangan bom Tamrin tahun lalu, yang bisa saja merenggut nyawa banyak orang.

    Atau kisah diluar sana, serangan teroris yang membabi buta di Timur Tengah telah menghilangkan banyak nyawa. Tidak mengenal mana yang tua atau mana yang muda, mana yang seagama atau mana yang berbeda agama, semua dipukul rata tanpa memihak. Mungkin ini bisa menjadi renungan untuk kita semua, tidak ada yang diuntungkan dalam aksi teroris kecuali para pelakunya sendiri.

    Mereka sengaja menciptakan kekacauan guna memenuhi hasrat golongan. Untuk itu Pak Maneger yang terhormat, jangan salahkan kepolisian jika mereka bertindak tegas. Apakah anda memikirkan kegelisahan keluarganya yang sedang menunggu di rumah. Polisi juga manusia, dan tidakannya dalam memerangi teroris, jauh lebih manusiawi dari seorang teroris yang menghilangkan banyak nyawa.

    Ketiga, aksi istighosah yang digelar oleh kaum Nahdliyin Jawa Timur seolah menunjukkan kegundahannya terhadap bahaya radikalisme yang mengatasnamakan agama. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU siap berdiri di garda paling depan jika ada yang berani mengusik keutuhan NKRI. NU tidak mau ditunggangi sebagai organisasi yang memecah belah umat. Karena dalam keyakinan NU, membela negara adalah sebagian dari iman.

    Istighosah di Sidoarjo itu seperti menutup rangkaian peristiwa yang terjadi di Jawa timur akhir-akhir ini, dimana paham radikalisme sedang mencoba masuk kesana. Seperti kita ketahui kemarin Sidoarjo dan Surabaya sempat tegang ketika Khalid Basalamah ustad para radikalis berusaha untuk mengadakan pengajian disana.

    Selain Khalid Basalamah, Banser dan Anshor juga menolak kedatangan Habib Rizieq dan tidak membiarkan FPI berkembang disana. Sebelum itu para kyai dan santri di Madura sepakat menolak penyebaran paham wahabi dan ISIS di daerahnya.

    Ketika para ulama atau kiai sepuh sudah turun gunung, tandanya ada persoalan besar yang menjadi kegelisahan. Sebab, para kiai NU konsisten mewujudkan komitmen dan kepedulian pada persoalan keagamaan, keumatan, dan kebangsaan. Hampir semua kiai merasakan hal yang sama. Yaitu kegelisahan atas bahaya radikalisme yang mulai masuk ke Indonesia. Untuk itu para kiai dan ulama berkumpul untuk meyakinkan umat dan menutup pintu masuk paham radikalisme.

    Selain itu ada maklumat PWNU Jatim untuk mengarahkan umat Islam dan seluruh elemen bangsa dalam rangka menguatkan kembali bangunan keagamaan dan kebangsaan di tanah air. Di tanah air Indonesia belakangan ini, terjadi beberapa peristiwa yang menimbulkan wacana dunia bahwa Islam Moderat di Indonesia telah mati. Maka dari itu NU menjawab dengan doa bersama para ulama.

    Event besar ini murni swadaya yang mengedepankan kemandirian umat. Umat Islam dari berbagai kalangan tampaknya merindukan kehadiran dan kemurnian persatuan antar ulama. Ulama dan umat mendoakan kejayaan Islam dan menguatkan NKRI dalam menghadapi berbagai ancaman dan ketimpangan.

    Karena itulah, umat Islam secara suka rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, perhatian, biaya dan kerendahan hati untuk sama-sama menunduk, menengadahkan tangan dan memohon keselamatan untuk keutuhan negeri tercinta ini. Bagi NU, NKRI adalah harga mati.

    Dimana pun berada NU selalu kompak, seperti yang terlihat di Jakarta akhir-akhir ini. NU paham betul dengan adanya oknum yang memanfaatkan isu agama sebagai tunggangan politik. Maka tak heran, jika NU berani secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada salah satu pasangan calon. Dalam hal ini NU mendukung pasangan Ahok-Djarot. Meski pada kenyataannnya salah satu pasangan calon berasal dari non muslim. Saya yakin NU tidak salah pilih, karena NU lebih mengutamakan kepentingan umat daripada kepentingan golongan.

    Untuk itu, sehat terus NU, kuangkat secangkir kopi setinggi-tingginya untukmu.


    Penulis : Handoko Suhendra  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Aksi Heroik Kepolisian Memerangi Terorisme di Tuban, Nyinyiran Komnas HAM, dan Narasi Besar NU Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top