728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 29 April 2017

    Ahokisme, Merayakan Kekalahan Secara Jenaka

    Tak ada yang menyangka kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI justru memberi warna baru dalam demokrasi di Indonesia. Kekalahan setelah perjuangan ‘berdarah-darah’ tak dipandang sebagai sesuatu yang menimbulkan duka mendalam bagi pendukung apalagi nyinyir maksimal terhadap kemenangan kubu sebelah.

    Pendukung Ahok melakukan sesuatu yang di luar dugaan banyak orang terutama pendukung Anies-Sandi yakni lewat karangan bunga. Melalui karangan bunga pendukung Ahok mengekspresikan kesedihan maupun memberikan dukungan dengan cara yang jenaka.

    Lihatlah betapa kata-kata yang dimuat dalam karangan bunga untuk Ahok kini tengah viral di media sosial. Diksinya tidak ada yang berat, tidak pula membuat yang membacanya berlinang air mata. Justru banyak pembacanya justru senyum-senyum sendiri dengan quote yang kadang lucu bahkan menggelitik.

    Menariknya, dari hari ke hari jumlah karangan bunga berdatangan ke kantor Ahok terus bertambah. Bahkan belakangan ini, fenomena tersebut tak hanya terjadi di Jakarta tapi juga menjalar ke daerah-daerah lain seperti Batam dan Jogja. Bisa jadi daerah-daerah lain akan segera menyusul juga mengekspresikan rasa kehilangannya atas mantan.

    Tanpa rasa cinta tentunya hal ini tak akan terjadi. Bagi orang-orang yang tak punya perhatian berlebih, apa yang dilakukan oleh pendung Ahok ini adalah kurang kerjaan dan menguras dompet. Namun seperti itulah orang-orang yang sudah terlanjur cinta, susah move on.

    Soal karangan bunga yang oleh sebagian orang dianggap mubazir pun sepertinya telalu lebay. Seperti yang dipetakan oleh banyak lembaga survei, pendukung Ahok sebagian besar merupakan kalangan menengah-atas. Mereka tak perlu juga menginformasikan amal yang diperbuat kepada orang yang sirik.

    Kecintaan para pendukung Ahok ini tentu ada alasan yang kuat. Rasa cinta ini berbeda dengan kecintaan sebagian warga Sumut terhadap keramahan Gatot Pujo Nugroho, atau pula kecintaan sebagian warga Jawa Barat terhadap Kang Aher yang rajin mengajak warganya untuk berdoa.

    Jarang-jarang terjadi di Republik ini seperti fenomena Ahok. Kecintaan yang benar-benar mengakar mungkin hanya terhadap Soekarno dan Gus Dur saja. Presiden boleh berganti-ganti namun di rumah seorang penggemar Soekarno, sampai kiamat foto presidennya ya tetap Soekarno. Begitu pula ketika terjadi masalah-masalah sosial yang beraroma SARA dan diskriminasi, penggemar Gus Dur tanpa sadar kadang mengucap “Seandainya Gus Dur masih ada”.

    Umumnya kecintaan mengakar yang berujung pada fanatisme dibumbui oleh latar belakang dan representasi si figur itu sendiri. Megawati misalnya pernah menjadi simbol perlawanan wong cilik karena diobok-obok Orde Baru. Tak mengherankan, ketika Megawati kalah dalam pemilihan presiden pertama kalinya banyak pendukungnya yang menangis. Kontras dengan kekalahan Prabowo saat Pilpres 2014, pendukungnya tak menangis, cuma nyiyir saja di sosmed.

    Rizieq Shihab pun sebenarnya punya banyak pendukung di kalangan garis keras karena ia merupakan representasi perlawanan terhadap pemerintah yang dianggap sekuler. Fanatisme pendukungnya luar biasa, bahkan ada di antaranya yang menganggap Rizieq sebagai orang suci sehingga bisa kualat kalau ada yang menghinanya.

    Bedanya dengan Soekarno, Gus Dur atau Megawati, Rizieq menjadikan fanatisme pendukungnya tersebut sebagai komoditas.  Pendukungnya yang rata-rata galak ini dijadikan sebagai tukang gebuk kala Rizieq membutuhkannya.

    Balik lagi soal kekalahan, Rano Karno yang nota bene seorang artis juga didukung PDIP, perahu yang sama dengan Ahok pun tak seheboh ini. Tak ada pendukungnya yang mellow maupun baper padahal kekalahan Rano sangat tipis dari pesaingnya. Perlahan namun pasti Rano menghilang dari peredaran. Mungkin dia menepi sejenak seperti Agus Yudhoyono yang kemudian muncul lagi di spanduk-spanduk partai Demokrat sebagai Next Leader.

    Yah, tapi salahmu sendiri juga sih Hok. Pencoblosmu di Pilkada DKI hanya 40%. Sementara 30% warga DKI lainnya sebenarnya puas dengan kinerjamu tetapi terlalu takut dengan neraka dan khawatir tidak disolatkan jika meninggal. Tapi engkau tetap merupakan sebuah fenomena dalam demokrasi di Indonesia.

    Fenomena seperti ini mungkin bisa terjadi lagi pada 2019 mendatang yakni jika Jokowi kalah saat pilpres. Tapi kemungkinannya kecil sekali, karena Jokowi akan menang pada Pilpres mendatang apalagi kalau lawannya Prabowo!

    Ahok telah menghadirkan kesan yang mendalam di hati para pendukungnya. Hasil kerjanya dianggap bermanfaat sehingga para pendukung menghargainya. Mereka tetap mendukung meski Ahok telah kalah sehingga dia bisa lupa dengan kekalahan tersebut. Kekalahan ini adalah kekalahan yang menceriakan.

    Ahok-Djarot faktanya sudah kalah dan para pendukungnya tak bisa memungkiri hal itu. Kenyataan tersebut memang pahit namun hidup harus tetap berjalan. Ahok tak akan habis, dilempar kemana pun mutiara tetap akan berkilau.

    Ahok adalah siapa saja yang menghargai sebuah kerja keras yang tak kenal lelah.


    Penulis : Metenget Megermet  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahokisme, Merayakan Kekalahan Secara Jenaka Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top