728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017

    Ahok Si Tukang Ngadu Dan Jokowi Si Perekrut Jendral-Jendral Tangguh

    Melihat kasus e-KTP ini kita dapat mengamati bagaimana konsistennya Ahok melawan korupsi. Ditengah-tengah gerombolan tikus-tikus got itu ada orang yang enggan ikutan menjadi tikus. Tentu saja kehadiran Ahok membuat gusar para tikus-tikus serakah, mereka serta merta melempari Ahok dengan kotoran tikus agar Ahok baunya sama dengan mereka. Hanya yang bodoh yang bisa tertipu, yang cerdas pasti tau kalau Ahok itu bersih.

    Perlu menjadi yang terbaik bagi seseorang dengan status minoritas ganda untuk bisa berkarir dengan cemerlang. Statusnya lah yang membuat ia tidak boleh korupsi, sekali saja ia korupsi, habis dia dimakan beramai-ramai oleh para tikus-tikus itu. Bahkan tidak korupsi pun dituduh korupsi,” Ah, yang penting ada yang percaya”, kata para koruptor sambil tertawa terkekeh-kekeh, “keh keh keh keh”.

    Saya jadi teringat ketika masih SD dulu, masih polos belum tau apa-apa. Masa-masa dimana masalah terbesar itu bukan melawan hoax atau godaan janda sebelah. Tapi menyelesaikan PR Matematika sementara Nintendo menanti untuk dimainkan. Saat ulangan ada teman saya yang menyontek, saya lihat sendiri dia mencontek dengan membuka buku di bawah meja. Guru saat itu kurang waspada, akhirnya selesai ulangan saya laporkan kepada Guru. Hasilnya oleh Guru saya dianggap anak baik tapi oleh teman saya, dia langsung memusuhi saya dan enggan bercakap-cakap hingga lebaran tiba.

    Ternyata perilaku seperti ini juga terbawa hingga dewasa. Benar dan jujur itu artinya harus siap dianggap musuh oleh banyak orang. Kerap saya dengar bagaimana orang jujur tersingkir, aneh bukan? Orang jujur yang lurus dan bersih justru tersingkir. Inilah Indonesia dan ini salah satu masalah yang membuat negara sulit maju. Lebih parah lagi, maling di Indonesia malah punya pendukung setia, banyak pula.

    Itu pula yang terjadi pada Ahok selama ini. Sekarang saya semakin paham mengapa Ahok dibenci banyak koruptor, yang kemudian memanfaatkan status minoritas ganda Ahok untuk menghasut orang-orang ikut memusuhi Ahok. Kasus e-KTP ini bisa menjadi indikator.

    Mantan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, yang mengungkapkan semua anggota Komisi II DPR menerima aliran dana, menurut Ahok pernyataan tersebut bisa saja berisi daftar nama anggota Komisi II, bukan daftar penerima dana.
    “Mungkin saja list-nya semua terima. Tapi, kan enggak pernah berani kasih ke aku. Orang gue uang perjalanan dinas aja gue balikin,” ucap Ahok di Kawasan Gandaria Seatan, Rabu, 5 April 2017.

    Ahok mengaku tidak mengetahui siapa saja anggota Komisi II yang menerima uang korupsi E-KTP.

    “Gue enggak tahu. Pasti dong kalau dia bagi ke semua Komisi II, atas nama saja kan. Pasti hitungannya semua komisi,” kata Ahok.

    Meskipun benar ada pembagian kue E-KTP, ia menegaskan pihak pembagi tidak akan berani memberikan uang E-KTP. “Persoalannya, anggota komisi berani kasih ke gue enggak? Kalo lu kasih gue, pasti gue laporin,” tegas Ahok.

    “Sekarang lu bayangin, lu temen gue nih. Kita perjalanan dinas tiga hari terus perjalanan dipalsuin lima hari, gue ngamuk-ngamuk, sampai dua hari gue balikin (duit dinas). Lu sebel enggak sama gue? Perjalanan dinas aja enggak gue ambil, duit enggak jelas kasih ke gue. Lu berani enggak kasih ke gue? Kalo gue bocorin?,” tambah Ahok.

    Kalau di masyarakat kita, Ahok ini disebut tukang ngadu. Seperti anak SD yang suka maen lapor-lapor, kalau lihat ada yang curang, nyontek, mukulin anak lain, pokoknya yang dia anggap gak beres langsung lapor ke Guru atau ke Kepala Sekolah. Anak seperti itu pasti banyak yang gak suka, ya inilah kita, masyarakat kita. Diajak bener susah, ditegur saat nyerobot ngantri malah balik marah, motor nyerempet mobil kita malah kita yang salah.

    Beruntung sekarang jamannya Jokowi, sejak jadi calon Gubernur Jokowi sudah mengetahui sepak terjang mantan bupati Belitung ini. Jokowi senang orang jujur dan pekerja keras, ia rekrut Ahok sebagai pendampingnya maju menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Kalau bukan karena Jokowi maka cerita klasik orang jujur tersingkir akan terjadi lagi pada Ahok.

    Jokowi ini magnet bagi orang-orang hebat dan pekerja keras. Mereka mau meninggalkan kehidupan mewah dan santai demi berjuang bersama Jokowi, Sri Mulyani, Bu Susi Pudjiastuti yang dulu sempat di-bully karena bertato dan latar pendidikannya tidak sementereng Anies, Archandra, dan masih banyak lagi. Sejarah membuktikan bahwa Raja-raja yang hebat, yang memenangkan banyak pertempuran, menguasi banyak wilayah adalah Raja yang mempu merekrut Jendral-Jendral hebat dan tangguh.

    Jadi sebuah tanda tanya besar, jika Jokowi bisa menarik orang-orang hebat dan jujur lalu mereka mau meninggalkan kehidupan mewah, gaji besar, hidup nyaman untuk bekerja bersama Jokowi. Lalu apakah artinya yang dipecat Jokowi itu bukan orang hebat? bukan orang jujur? bukan pekerja keras? Ah pembaca seword saja yang jawab deh, saya gak mau dituduh fitnah.

    Tapi kalau di film-film sih Jendral yang dihukum penggal, atau di asingkan, atau di pecat biasanya Jendral-Jendral yang berkhianat, korupsi, melanggar perintah, kalah perang karena kebodohannya, atau selingkuh dengan permaisuri Raja. Kalau mantan Jendral yang satu itu kira-kira kenapa yah? Yang jelas gak mungkin karena selingkuh dengan permaisuri.


    Penulis :  Gusti Yusuf  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Si Tukang Ngadu Dan Jokowi Si Perekrut Jendral-Jendral Tangguh Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top