728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 06 April 2017


    Saat Ahok blusukan ia menemukan poster perbandingan KJP dan KJP Plus dengan tulisan besar, KJP tetap ada. KJP atau Kartu Jakarta Pintar memang andalannya Ahok selama ini, dan Anies tau hal tersebut lalu dengan tanpa malu-malu menirunya. Bagi Anies tak penting dianggap meniru atau tidak, baginya yang penting program andalan Ahok bisa diminimalisir efeknya. Tapi benarkah KJP Plus lebih baik?

    Saat Ahok mempelajari poster perbandingan tersebut, awak media lalu bertanya soal kebenaran tulisan dalam poster tersebut. Gubernur DKI Jakarta nonaktif ini menyerahkan bantuan pendidikan kepada siswa SD sebesar Rp 210.000, SMP sebesar 280.000, SMA sebesar Rp 375.000, SMK sebesar Rp 390.000 dan PKBM sebesar Rp 210.000.

    Sedangkan program milik pasangan nomor urut tiga, bantuan pendidikan untuk SD sebesar Rp 250.000, SMP sebesar Rp 300.000, SMA sebesar Rp 420.000, SMK sebesar Rp 450.000 dan PKBM sebesar Rp 300.000.

    Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, Ahok mengatakan, data yang dipaparkan tidak tepat. Menurutnya, ‎bantuan untuk SMP dan SMA lebih dari apa yang tertera dalam spanduk milik pasangan Anies-Sandiaga.

    “SMA itu ada yang Rp 600.00 ribu perbulan. Kalau SD emang segitu. SMP ada yang Rp 400.000-600.000,” kata Ahok kepada wartawan di Jalan H. Syaip, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan, Rabu.

    Ahok menjelaskan, program KJP miliknya tidak hanya sekadar memberikan bantuan, tapi juga sekaligus mendidik masyarakat agar semangat bersekolah.

    “Kita mau dorong anak biar mau sekolah. Kalau dia (Anies – Sandi) kan anak enggak sekolah dikasih juga. Enggak boleh dong, justru anak harus sekolah supaya dapet, supaya terdorong mau sekolah,” Ahok melanjutkan. Bila memang ada warga tak ingin bersekolah lagi, kata Ahok, pihaknya akan menawarkan kerja sama bisnis dengan Pemprov DKI, yang pembagiannya 80 persen keuntungan untuk warga, sedangkan Pemprov DKI 20 persen.



    Saat debat di Metro TV, terlihat jelas perbedaan antara KJP dan KJP Plus dan yang paling penting adalah penerimanya. KJP hanya menyasar kelompok anak sekolah, siswa tidak sekola yang tidak mampu. Sementara KJP Plus menawarkan juga kepada semua anak usia sekolah tanpa melihat apakah si anak itu mau sekolah atau tidak. Model KJP Plus ini sebenarnya lebih mirip bantuan tunai ketimbang membuat pintar. Program KJP Plus sebenarnya memberikan uang bagi semua anak, tanpa perlu melihat apakah si anak tersebut sekolah atau tidak.

    Kartu Jakarta Pintar, namanya saja sudah kartu pintar maksudnya membuat anak supaya pintar. Bukan Kartu Jakarta Pengangguran pun gue kasih duit, ini jelas tidak mendidik. Pernah lihat anak-anak remaja mengemis, atau ngamen dipinggir jalan? Tanya pada mereka kenapa mereka tidak bersekolah, salah satu jawabannya adalah karena dijalan mereka bisa dapat uang. Lalu tanya pada diri sendiri, apakah memberi uang kepada anak-anak itu adalah jalan yang terbaik? Tentu tidak, sekolah adalah satu-satunya jalan terbaik bagi mereka.

    Kita juga sering melihat, anak-anak ini acap kali dimanfaatkan oleh orang-orang lebih dewasa, ibu nya misalkan. Anak-anak ini disuruh menggendong bayi yang tertidur karena obat tidur agar tidak rewel, lalu mengemis di jalanan. Hasil ia mengemis atau mengamen di  jalanan lalu disetorkan kepada preman disitu atau ibunya. Entah untuk apa uang tersebut tapi yang jelas si anak yang bekerja sementara premannya yang terkadang ibunya sendiri asing ngerokok sambil ngopi di warung terdekat sambil mengawasi si anak ‘bekerja’. Apakah hal yang sama tidak akan terjadi dengan KJP Plus? Sepengetahuan saya rencana KPJ Plus ini memberikan uang dalam bentuk tunai, apakah uang tersebut benar-benar digunakan untuk keperluan anak sekolah? Atau malah untuk beli rokok si orangtua-nya? Atau mungkin lebih parah, untuk berjudi, miras dan sebagainya?

    KJP saja tanpa plus sudah banyak orang yang ingin memanfaatkan nilainya untuk keperluan dirinya bukan untuk anaknya. Maling itu namanya, dan itu kenapa Ahok marah. Pemerintah membantu anak-anak yang kesulitan dana untuk bisa bersekolah, eh uangnya malah diambil. Gimana ini? Masa diem aja? Kalau KJP yang jelas-jelas hanya untuk anak sekolah saja sudah banyak yang ingin maling apalagi yang plus itu?

    Anies sendiri saat debat mengatakan bahwa, mengembalikan anak putus sekolah itu suuulliittt nya luarrrr biasa (mohon dibaca dengan gaya khas Anies saat ingin menekankan). Lalu sudah tahu sulit malah dibiayai? Ya makin sulit lah. Pak Anies kerap bicara angka partisipasi anak sekolah di Jakarta Utara yang hanya 52%, taruhan pak dengan KJP Plus angka itu akan semakin turun, apalagi dengan ada tambahan nilai, makin drop pak itu angka. Dan saya juga ingin bertanya sebagai rakyat, apa yang anda lakukan terhadap kenyataan tersebut saat menjadi Menteri Pendidikan?

    KJP ini sudah pas, karena tujuannya memang untuk membuat anak bersekolah. Ini bedanya orang yang mau mendidik dengan orang yang berambisi jadi Gubernur, berambisi untuk berkuasa. Jangan tertipu, ingat gak semuanya yang ditambah plus itu lebih baik, kacamata plus makin gede plusnya makin jelek artinya. Juga Panti Pijet, kalau ditambah dengan Plus jadi? Jomblo-jomblo ngeres pasti pada tau lah….


    Penulis : Gusti Yusuf   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top