728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 08 April 2017

    Ahmad Jabur Melampaui Ahok dan Anies Baswedan

    Ahmad Jabur dilantik jadi Kepala Desa Compang Ndejing, Manggarai Timur pada 30 Maret 2017 silam. Ahmad terpilih jadi Kades setelah setelah menyisihkan tiga calon lainnya. Ia akan menjabat sebagai Kepala Desa enam tahun mendatang.

    Apa yang menarik dari Ahmad Jabur? Ahmad tidak setenar Ahok atau Anies Baswedan.  Ia tidak punya akun media sosial, apalagi tim media sosial yang membelanya di facebook atau twitter.  Ia hanya orang desa yang mau mengabdi bagi kemajuan desanya.

    Nilai keterpilihan Ahmad jauh lebih hebat dari siapapun yang nanti akan menang di pemilihan gubernur DKI 2017. Bagaimana tidak, Ahmad terpilih setelah menyisihkan tiga calon lainnya yang beragama Katolik di desa yang mayoritas Katolik. Ia terpilih dengan perolehan suara sebanyak 362 suara dari umat Katolik dan Muslim yang ada.

    Untuk diketahui, Desa Compang Ndejing terletak di Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Desa ini didiami oleh 1878 jiwa,  dengan populasi umat Muslim sekitar lima belas kepala keluarga. Populasi umat Muslim di Manggarai Timur sebesar 17.123 jiwa dari total populasi 252.744 jiwa. Secara keseluruhan, umat muslim di NTT berjumlah 9,88% dari total  penduduk ( Philipus Tule, Fredrik Doeka & Ahmad Atang, 2015:7).

    Data ini penting diungkap dan disampaikan untuk mengisi narasi kehidupan keagamaan di Indonesia. Terlebih dengan maraknya penolakan terhadap calon pejabat publik karena suku dan agama yang dianutnya. Juga terkait maraknya isu sektarian atau sentimen suku, agama dan ras yang dijadikan alat kekuasaan politik.

    Sebagian besar masyarakat tentu sudah paham dengan situasi di Jakarta. Semua mata tertuju ke Jakarta, dan seolah-olah kemelut di Ibu Kota jadi gambaran Indonesia. Polarisasi politiknya bahkan merembet ke pelosok negeri. Perang wacana, fitnah dan hingga saling bully terjadi di semua media sosial. Semua ikut campur, bahkan mayat pun jadi korban penolakan karena selama hidupnya beda pilihan politik.

    Apa yang terjadi pada Ahmad Jabur dan pilihan warga Desa Compang Ndejing  adalah antitesis bagi masyarakat perkotaan di Jawa khususnya di Jakarta. Mereka berhasil menunjukan jati diri khas orang desa, orang Manggarai dan orang Flores yang memiliki tingkat kecerdasan dan kebajikan sosial politik. Mereka mau mengatakan kepada bangsa Indonesia “ Kami tidak seperti orang di kota, di Jawa atau Jakarta”.

    Edi seorang umat Katolik dan warga Desa Compang Ndejing  seperti yang diberitakan voxntt.com mengatakan “Bagi kami itu  (baca: agama Muslim atau Katolik) tidak perlu lagi. Yang penting saja, dia bisa memimpin dan membuat desa ini maju. Itu saja”. Ia menegaskan perbedaan agama bukan lagi menjadi soal di desanya.

    Nampaknya Edi dan warga desanya betul-betul paham fungsi pejabat desa atau jabatan publik. Pejabat publik, entah di desa, kabupaten, propinsi bahkan presiden adalah administrator keadilan sosial. Fungsi mereka hanyalah menata birokrasi agar bekerja untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

    Pejabat publik yang bersedia bekerja untuk keadilan, kemajuan dan kesejahteraan; layak dipilih. Mereka tidak boleh dipilih atas dasar kesamaan suku, agama atau ras, tapi dipilih karena integritas dan prioritasnya dalam melayani masyarakat. Pejabat publik yang dipilih atas dasar SARA (suku, agama, ras) hanya akan menghambat tercapainya keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.

    Pejabat publik, juga bukan pemimpin umat. Pemimpin umat melekat pada ulama, pastor, pendeta, bhiksu dan pedanda. Mereka memiliki tugas dan fungsi keagamaan yang khas. Sangat disayangkan bila ada kelompok yang memaksakan kehendak, bahwa pejabat publik itu sama atau setara dengan pemimpin umat. Kejadian penolakan Lurah di Jakarta, Kapolda Banten hingga Camat Pajangan Bantul adalah contoh bahwa masih ada sebagian masyarakat yang perlu pencerahan.

    Terpilihnya Ahmad Jabur, semoga jadi tanda baik bagi tatanan kehidupan beragama dan bernegara di Indonesia. Setidaknya ini jadi contoh bagi daerah lain yang masih ribet dengan latar belakang suku, agama dan ras calon pejabat. Warga Compang Ndejing juga membuktikan bahwa masih banyak warga Indonesia yang waras, cerdas dan bijak dalam berpolitik. Hal ini juga mengingat kita semua bahwa Indonesia itu masih ada.


    Penulis ; Andre Yuris  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahmad Jabur Melampaui Ahok dan Anies Baswedan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top