728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 09 April 2017

    Agama yang Berpolitik Adalah Penistaan yang Sebenarnya

    Politik itu kotor – Tak ada teman dan musuh abadi dalam politik – Politik itu dinamis. Demikian beberapa ungkapan yang dialamatkan pada dunia perpolitikan. Imagenya kotor, dan penuh dengan intrik dan manuver. Kadang jadi teman, kadang jadi lawan, tergantung kepentingan, tergantung tren yang berkembang, tergantung presepsi yang diinginkan masyarakat. Tapi suka tidak suka, itulah politik.

    Sedang agama adalah sebuah tuntunan hidup, pegangan hidup yang membutuhkan kebenaran, kebaikan dan konsistensi. Dan sebagai pegangan, pastinya dia haruslah stabil, tak berubah. Mana mungkin kita berpegang pada sesuatu yang terombang-ambing? Coba saja berdiri di atas sampan yang menari diterjang ombak lautan. Pasti lama-lama kita akan mual dan mabuk laut juga toh?

    Untuk informasi, saya adalah non-muslim. Jadi saya mau minta maaf dulu, kalau sampai ada salah-salah dalam tulisan saya ini. Tapi saya ingin memberikan sudut pandang saya dalam mencermati bagaimana melihat dinamika pertarungan Pilkada DKI Jakarta yang sudah berbulan-bulan membuat konsentrasi kita tercurah tak habis-habisnya ini, apalagi setelah melihat video salah satu tim sukses Paslon, memberikan arahan dalam berkampanye. Yang kalau saya perhatikan background-nya sih kelihatannya arahan ini diberikan di rumah ibadah.

    Dalam video tersebut, jelas dianjurkan untuk memakai fasilitas rumah ibadah dalam melakukan kampanye. Arahan ini juga tercermin dari model kampanye paslon yang Eep konsultasikan, yang mencoba mengidentikan balutan agama dalam citra yang paslon ini tunjukan. Entah dengan pakaian yang putih putih, tutup kepala, bagaimana mereka mengunjungi masjid-masjid, sampai pemilihan kata-kata yang Islami dalam kampanyenya.

    Yang miris adalah bagaimana aksi yang katanya bela agama, tapi kok punya muatan politik ya? Bahkan ada intimidasi seperti ancaman tidak disolatkan, dan rencana membanjiri TPS-TPS pada hari H, yang saya rasa sih, cuma akan memberikan intimidasi saat pemilu. Yang menyedihkan, semua itu dalam balutan agama Islam. Terlihat jelas bagaimana politik dicampurkan dengan agama, disini.

    Mengapa sedih? Karena seperti yang telah kita ketahui realitanya sama-sama, seperti penjelasan saya di awal, bahwa politik itu memiliki kecendrungan kotor, dan agama seharusnya bersih. Apa jadinya ketika mereka dicampurkan? Ingat, nila setitik, rusak susu sebelanga. Bagaimana pegangan hidup kita bisa hancur imagenya, saat kepentingan politik memasukinya. Bagaimana bisa hitam dan putih disatukan?

    Tidak percaya kalau nila setitik bisa bikin kacau dunia persilatan? Lihat saja bagaimana popularitas Ahok awal tahun 2016, setelah dengan gemilang banyak prestasi yang ia torehkan di Ibukota ini. Pendidikan oke, kesehatan mantab, perizinan cepat, jalanan mulus, banjir jadi barang langka, korupsi ditekan sedemikian rupa. Segudang susu segar nan nikmat, yang sempat membuat Ahok tak ada lawannya kala itu. Mungkin tanpa dukungan partaipun beliau bisa menang mudah.

    Tapi apa yang terjadi ketika tetesan nila berupa potongan video menjadi viral di masyarakat? Tiba-tiba susu itu jadi tak menarik lagi, dilupakan begitu saja dalam semalam. Dalam sekejab, sepertinya semua prestasi tersebut tak ada lagi artinya. Bukan karena Sangkuriang ato Bandung Bondowoso, tapi memang suka tidak suka begitulah cara pikir manusia.

    Manusia dalam bertahan hidup, memiliki sebuah kecendrungan untuk mengeneralisasi. Bagaimana dari potongan-potongan kejadian, kita akan menarik kesimpulan, dan kesimpulan itu akan kita jadikan pegangan. Itu sangatlah manusiawi. Dan sama dengan generalisasi di masyarakat yang terbentuk bahwa gubernur dengan segudang prestasi itu adalah penista agama, apakah jadinya kedepannya jika politik kita campurkan dengan agama? Tidakah akan terjadi sebuah gelombang penilaan (penistaan) dari susu agama yang sebenarnya?

    Mungkin saya mau memberi contoh bagaimana pengalaman saya sendiri, dari yang dahulu saya rajin ke gereja (bisa 3 kali seminggu, lho), jadi malas sekali sekarang, selain karena saya pernah melihat bagaimana pengurus gereja tega-teganya memarahi dengan berlebihan seorang tukang becak (apapun alasannya, thats too much), dan selain juga, bisa-bisanya gereja pecah jadi 2 ( Ini tuhannya yang salah, pendetanya yang salah, ato 2-2nya ya?). Saya pun memperhatikan bagaimana kotbah pendeta waktu itu, akan berisi topik perpuluhan, sekitar 1,5 sampai 2 bulan sekali (perpuluhan itu seperti zakat, tapi besarnya 10%, dan diberikan ke gereja). Itu sangat intense bukan?

    Tak ada yang salah memang dengan perpuluhan. Tapi otak saya jadi bertanya-tanya, kenapa sering sekali membicarakan mengenai ini? Dan yang menurut saya sangat parah, adalah penekanan yang berlebihan si pendeta itu yang isinya kira-kira berbicara, bahwa dengan memberikan perpuluhan, maka Tuhan akan mengembalikannya berpuluh-puluh kali lipat.

    Yah kembali, memang tidak ada yang salah dengan isi khotbah tersebut. Tetapi penekanannya dan intensitasnya, seakan memaksa saya untuk berfikir kalau pendeta-pendeta itu pingin sekali mendapat uang perpuluhan itu. Dan caranya adalah dengan menekan hasrat serakah manusia, bukan dengan keikhlasan. Jadi kalau kita ingin hidup berkelimpahan, bergelimang uang (manusiawi banget kan?), maka jangan lupa setor perpuluhan, ya.

    Intinya apa? Intinya adalah biarkan agama tetap suci, tetap bersih, tetap menjadi pegangan hidup bangsa ini. Politisasi agama saat ini, hanya akan membuat sebuah generasi ateis di masa mendatang. Politics is all about interest. Perhatikan saja bagaimana negara-negara barat yang selalu berbicara HAM, dapat setuju dengan pengeboman di syria akhir-akhir ini. Bagaimana Saudi Arabia, yang seharusnya tidak menjadikan nasrani sebagai aulia (teman setia), malah mesra dengan Amerika. Bagaimana Israel, rasanya rukun-rukun aja sama Turki dan Arab Saudi. Atau China yang ideologinya komunis, jadi sangat liberal dalam ekonominya. Thats Politics..

    Mungkin sebagai renungan untuk para umat islam, mari coba lihat sejarah. Bagaimana setelah Nabi meninggal, dan terjadi perbedaan pandangan politik, antara yang pro Abu Bakar dan pro Ali, sebagai penerus kekhalifahan saat itu. Sehingga sekarang isyu Sunni dan Syiah yang saling bertentangan, menjadi alasan untuk konflik tak berkesudahan di timur tengah.

    Dan rasanya selama ini, konsep kekhalifahan selalu membuat penguasa akan berkuasa seumur hidup. Entah kekhalifahan awal, sampai Ottoman Turki. Saudi Arabiapun rasanya masih begitu. Bahkan Iran setelah revolusi juga, membuat Imam Besar sebagai orang terkuat di dataran Persia, menduduki jabatannya seumur hidup. Mari lihat sejarah, kenapa sampai ada revolusi Prancis, karena muak dengan monarki yang jabatannya tentu seumur hidup. Perhatikan bagaimana penguasa seumur hidup, sangat rentan pada korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Tak cukupkah rezim Orde Baru yang 3 Dekade jadi pelajaran untuk kita? Mari kita perhatikan logika berfikir Kyiai Muda NU ini mengenai konsep kekhalifahan.

        Jadi hindarkanlah politisasi agama, pilihlah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dengan erat. Para pendiri bangsa ini bukan iseng dalam meletakan dasar negara kita. Para pejuang terdahulu bukan ingin memperjuangkan kediktatoran. Para pemuka agama menginginkan Ketuhanan menjadi sila pertama bukan tanpa alasan. Saatnya Indonesia Emas, dengan mengusung meritokrasi, Berdasar prestasi dan rekam jejak. Mari lebih berfikir kritis, karena mencerdaskan kehidupan bangsa adalah cita-cita kita bersama.


    Penulis : Victor Wijaya   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Agama yang Berpolitik Adalah Penistaan yang Sebenarnya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top