728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 04 April 2017

    Ada Bara Di Dalam Pasangan Anies-Sandi

    Sudah banyak tulisan yang mengulas persoalan mangkirnya Anies Baswedan dari debat di TV yang diselenggarakan oleh Kompas TV. Semua tulisan mengulas dengan sudut pandangnya masing-masing. Demikian pula tulisan ini akan mengupas secara sederhana persoalan mangkirnya Anies dari acara debat tersebut. Lho kok hanya Anies saja yang disebutkan? Sandi kok tidak disebutkan?

    Sebenarnya Sandiaga Uno mau datang (info  DI SINI ), ini dibuktikan beberapa jam sebelum acara debat berlangsung. Ini salah satu hal yang menarik untuk saya ulas, terkait ketidak kompakan atau ketidakserasian diantara mereka, Anies dan Sandi. Mengapa mereka tidak kompak soal datang atau tidak ke debat? Apakah koordinasi mereka bermasalah sehingga menentukan kesepakatan saja sulit dan malah bertentangan?
    Semisal pasangan olahragawan, belum saling sepaham itu karena banyak hal. Bisa jdi belum lama berpasangan sehingga belum tercipta chemistry atau kesehatian, bisa juga kegagalan saling paham sehingga sulit menyatukan tujuan.

    Dari menentukan ke acara debat saja sudah tidak sepaham maka bisa dibayangkan nantinya jika mereka memenangkan pilkada DKI Jakarta, betapa akan selalu ada dualisme kepemimpinan. Lho kok bisa? Lha jelas sajalah, karena mereka berdua memiliki bara ambisi yan sama-sama besar namun berbeda dasar. Ini bagaikan dua striker dalam sebuah tim sepakbola yang kedua-duanya ingin menciptakan gol, karena semua penuh ambisi maka gagal bekerjasama, sehingga hilanglah peluang menciptakan gol itu.

    Mereka itu, Anies dan Sandi sejatinya sama-sama berambisi menjadi gebernur, tidak ada diantara mereka yang hanya ingin menjadi “wakil” gubernur. Hanya “kecelakaan” sejarahlah yang menjadikan posisi mereka seperti itu. Awalnya Sandiaga Uno digadang-gadang menjadi gubernur, namun nampaknya si Uno ini masih hijau sekali di dunia persilatan politik Indonesia, khususnya DKI Jakarta, sehingga kalau dipaksakan jadi calon gebernur, bisa tidak laku. Nah, harus dicari yang lumayan lebih terkenil, eits..terkenal. ternyata sulit bagi beberapa partai mencari kader dari dalam partai (ini bukti partai politik gagal melakukan kaderisasi dan hanya sibuk bekerja demi uanginsasi) maka dicarilah “pemain” liar, upss..salah, pemain dari luar. Dan ditemukanlah bocah yang sempat terkenal namun kemudian terhempas gelombang , dialah si Anies Baswedan.

    Celakanya, mereka berdua nampaknya belum saling kenal sebelumnya. Namun karena mereka sama-sama  ketakutan “dipelototin” tokoh  politik yang sangar, mereka kemudian saling kenal. Sandiaga Uno kaya, sementara Anies Baswedan enggan jadi cawagub, maka kembali muncul kesulitan. Untunglah Sandiaga Uno masih hijau di panggung perpolitikan Indonesia, sehingga ketika dia juga  “dipelototin” tokoh politik yang  sangar ia langsung mengangguk setuju. Alhasil, seperti yang sekarang kita saksikan inilah komposisi pasangan yang ada, Anies Baswedan mantan rektor dan juga menteri, namun dipecat dari menteri berpasangan dengan Sandiaga Uno yang (katanya) pengusaha muda paling kaya se Indonesia.

    Namun meskipun mereka nampak seia sekata, orang Jawa Tengah bilang seia sehe’eh sejatinya mereka menyimpan dendam ambisi yang sungguh mengerikan. Dua ambisi yang saling  membara itu semakin mendekati pilkada semakin menampakan wujudnya, dan contohnya adalah ketidakompakan soal reaksi atau jawaban untuk  debat di kompas TV . Kelihatannya sederhana, Anies mengatakan tidak pernah meng-iya-kan undangan Rosi dari kompas TV sedangkan beberapa jam sebelum debat, Sandiaga Uno masih dengan enteng mau datang nanti malam.

    Mengapa mereka tidak kompak? Karena ambisi dan juga dendam. Ambisi apa dan dendam kepada siapa? Sandiaga Uno sejatnya berambisi jadi gubernur, lalu rela turun derajad hanya menjadi calon wakil . Sandiaga Uno merasa sudah “berinvestasi” luarbiasa banyak jika dibandingkan dengan Anies yang (katanya) cuma 0,5 berbanding 60 milyar, dari Sandiaga Uno. Maka dalam hal ini Sandiaga Uno memiliki dendam kepada Anies, memiliki sakit hati.

    “Gua yang modalin, napa loe yang nomor satu?”  Mungkin seperti itu yang bergemuruh dalam pikiran dan hati Sandi. Sementara si Anies selalu berguman sinis sembari melirik ketus ke Sandi, “Loe itu sapa, bukan mantan meteri yang dipecat, bukan pula rektor termuda di negeri ini, loe kaga pantes jadi gubernur, gua yang pantes. Gua mau jadi gubernur, untuk nurunin si presiden itu nanti pada 2019”, itu yang mungkin tersimpan kuat  dalam diri Anies.

    Dan jika mereka menang pilkada maka dentuman benturan mereka akan semakin kuat menggema. Sandi berambisi mengembalikan modalnya sementara Anies terus fokus ke ambisi membalas dendam ke presiden RI. Dan bisa dibayangkan akan seperti apa laju pemerintahan DKI Jakarta jika pasangan ini yang menang. Dan saat mereka sibuk dengan ambisi pribadinya sendiri-sendiri, masuklah kekuatan-kekuatan liar dan mengerikan menyerbu Jakarta.

    Lalu bagaimana jika mereka kalah? Akan seperti apakah relasi mereka? Jika kalah, saya sangat yakin bahwa mereka masih akan sering berhubungan, namun bukan bekerjasama melainkan untuk saling menuntut dan dituntut. Siapa yang akan menuntut dan dituntut, silakan pembaca memilihnya sendiri, tidak ada paksaan, yang beda pilihan tenang saja, ini bukan urusan surga dan neraka.

    Salam NKRI Jaya

    Penulis :  Dony Setyawan   SUmber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ada Bara Di Dalam Pasangan Anies-Sandi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top