728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 April 2017

    Ada 4 Pesan Tidak Nyambung Dari Prabowo Untuk Ahok Dari Tanah Abang

    Ada yang membingungkan sekaligus ironis membaca pernyataan Prabowo yang ditujukan kepada Ahok. Seorang sekelas Prabowo yang semestinya sudah menjadi negarawan tidak pantas mengeluarkan pernyataan yang justru saling bertolak belakang, tidak nyambung dan terkesan tabrakan.

    Hal ini saya kutip dari laman merdeka.com dengan tajuk berita, “Prabowo : Demi yang terbaik, Ahok satu periode saja lah.” Ketikdakonsistenan kata-kata Prabowo yang dikatakannya di di Wisma Serbaguna Senayan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (11/4) adalah sebagai berikut :

    Pertama, Ia mengatakan bahwa pada 2012 lalu dirinya yang mengusung Jokowi dan Ahok untuk maju sebagai pasangan Gubernur-Wakil Gubernur DKI. Ia ingin membuktikan Pancasila. Namun, kini Ia tidak ingin melihat ke belakang.  Pernyataan ini agak aneh dan terasa tidak nyambung. Jika dahulu Ahok berpasangan dengan Jokowi posisinya sebagai Wakil Gubernur, maka sekarang, Ahok maju sebagai Gubernur, apa yang kurang Pancasila-nya ? Malah menurut pendapat saya, pembuktian bahwa Pancasila masih melekat pada diri masyarakat dan warga DKI adalah justru ketika Ahok bisa memenangkan Pilgub kali ini. Ketimbang Pilgub 2012 lalu, ujian Pancasila terasa lebih berat pada Pilgub 2017 ini. Mengapa berat ? Sebab, Pilgub kali ini Pancasila diuji dengan isu-isu SARA yang sangat massif dan brutal. Pelecehan soal minoritas, agama minoritas menjadi isu yang sangat besar, dan justru dibanding dengan calon gubernur lain, Ahok menjadi sasaran tembak yang empuk.

    Kedua, Prabowo menambahkan bahwa saat ini Indonesia sedang membangun demokrasi. Menurutnya, Demokrasi satu-satunya jalan yang menjamin perdamaian. “Yang lain tidak memberi jaminan keamanan, perdamaian, “ lanjutnya. Nah, di sini  justru kata-kata Bapak tidak mencerminkan bapak sedang memerjuangkan demokrasi. Jika memang demokrasi –seperti yang bapak yakini- sebagai satu-satunya jalan, maka hargai juga proses demokrasinya. Jangan ujug-ujug mengeluarkan pendapat yang berbanding terbalik dengan pernyataan sebelumnya. Jika bapak menghargai demokrasi, maka kontestasi Ahok dan pasangannya Djarot untuk berkompetisi dalam Pilgub DKI  adalah sebuah hak asasi dan tidak boleh dihalang-halangi.

    Ketiga, Mantan Danjen Kopassus itu mengatakan menang kalah tidak masalah karena yang terpenting mengabdi kepada masyarakat. “Jangan bernafsu berkuasa. Nafsu kekuasaan itu adalah pengabdian. Makanya jangan curang,” Katanya. Perkataan ini semestinya berlaku untuk kedua belah pihak, bukan hanya tertuju kepada Paslon Ahok-Djarot. Pasalnya, bukankah justru pihak Ahok-Djarot yang banyak dizholimi dengan kampanye-kampanye hitam SARA ? Bukankah Ahok banyak diserang karena etnis dan keyakinannya ? Bagaimana dengan cap sesat, kafir, murtad, dan munafik yang dialamatkan kepada para pendukung Ahok ? Bagaimana dengan pelarangan mengurus dan mensholatkan jenazah warga yang kebetulan mendukung dan memilih Ahok semasa hidupnya ? Bagaimana dengan intimidasi-intimidasi yang mencomot klaim-klaim agama untuk menakut-nakuti para pemilih Ahok ? Jika Bapak menerima informasi yang benar dari lapangan, tentu Bapak akan paham bahwa siapa sesungguhnya yang sedang “membahayakan demokrasi.”

    Oh iya, ngomong-ngomong soal demokrasi, tahukah Bapak bahwa sebagian kalangan yang mendukung pasangan calon, Anies-Sandi, pasangan yang Bapak dukung dan support adalah justru pihak-pihak yang selama ini mengangkangi demokrasi ? Pihak-pihak yang tidak setuju dengan demokrasi dan ingin membuangnya ke tong sampah ? Merekalah kelompok dan ormas-ormas intoleran yang aksi-aksinya bertolak belakang dengan nilai-nilai demokrasi yang sedang Bapak perjuangkan.

    Keempat, Bapak mengatakan bahwa Pilgub DKI 2017 ini  adalah “pertarungan untuk menjamin Demokrasi.  Kalau soal Bhineka Tunggal Ika saya ikut pasang badan.” Nah, ini masalahnya, seperti yang barusan saya bahas. Boleh-boleh saja Bapak menganggap bahwa pertarungan atau kontestasi Pilgub DKI kali ini adalah pertarungan Demokrasi seperti yang Bapak sampaikan. Namun, ternyata sebagian kalangan tidak sependapat. Ini adalah sebuah pertarungan hidup mati. Bahkan sebagian sudah buat pamflet. Jika Anies-Sandi kalah, maka “umat akan bergerak.” Maksudnya apa ? Bergerak kemana ? Bukankah cara-cara intimidasi semacam ini adalah upaya penggembosan demokrasi ?

    Bicara soal Bhineka Tunggal Ika, saya sepakat dengan Bapak bahwa kita harus pasang badan untuk pilar bangsa ini. Tetapi seperti yang saya bilang, ujian terbesar dan terkuat bagi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika ada di Pilgub DKI 2017 ini. Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika bisa hancur dan tenggelam ke dasar lautan jika cara-cara diskriminasi SARA masih terus marak dilakukan. Saya yakin Bapak adalah Pancasilais dan negarawan sejati. Jangan biarkan Pilgub DKI menenggelamkan NKRI ke dasar samudera !

    Penulis : Akhmad reza   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ada 4 Pesan Tidak Nyambung Dari Prabowo Untuk Ahok Dari Tanah Abang Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top