728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Maret 2017

    Usai Jurus Ayat, Terbitlah Jurus Mayat

    Miris, sungguh miris dan sangat memprihatinkan jika politik sudah mengalahkan nalar sehat dan  rasa kemanusiaan.  ‘Ancaman’ dari  masjid yang tidak mau mensholatkan orang meninggal yang semasa hidupnya dianggap menjadi pendukung/pembela Ahok yang dituduh  penista agama, bukan isapan jempol belaka.  Setidaknya itu bisa di lihat dari kisah memprihatinkan seorang  nenek warga  Jakarta Selatan  yang meninggal  tidak disholati di musola karena semasa hidupnya mencoblos   calon gubernur yang di anggap penista agama. Hal tersebut berdasarkan pengakuan dari anggota keluarga  almarhum.

    Keluarga Nenek Hindun bin Raisman (78 tahun), seperti yang diceritakan Neneng (putri bungsu almarhum) menjadi bahan pergunjingan warga setelah dianggap  menjadi pendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat saat Pilkada DKI putaran pertama. Bahkan  karena diketahui memilih pasangan nomor dua tersebut , ketika meninggal, jenasah  Nenek Hindun ditelantarkan masyarakat sekitar.  Jenasah almarhum  ditolak di salatkan di musola oleh seorang ustad di sana dengan alasan tidak ada orang di musola, sehingga almarhum  di sholatkan di rumah. http://news.liputan6.com/read/2882270/jenazah-nenek-hindun-ditelantarkan-warga-setelah-pilih-ahok

    Nenek Hindun semasa hidupnya mungkin tidak akan pernah menyangka jika  ketika meninggal akan meninggalkan duka yang berlipat bagi  keluarganya hanya karena dianggap menjadi pendukung  Ahok yang dituduh  penista agama.

    Sang ustad memberikan klarifikasi bahwa alasan  untuk mensalati jenazah  Nenek Hindun  di rumahnya karena tidak adanya  lelaki yang akan mengangkat jenazahnya ke mushola.   Alasan lainnya  karena keburu waktu yaitu saat mau disalati, penggali kubur sudah menelepon dirinya agar jenazah cepat diantarkan untuk dikuburkan.

    Terlepas benar tidaknya alasan sang ustad dan alasan  keluarga Nenek Hindun, tetapi dampak  dari nalar kemanusian yang tertutupi kepentingan politik sangatlah memprihatinkan. Tidak hanya saat masih hidup digunjingkan, saat meninggalpun di buat menderita.

    Mungkin, saat orang-orang tersebut membuat pernyataan dengan memasang spanduk  tentang masjidnya  tidak mensholatkan  jenazah pendukung dan pembela penista agama, mereka tidak pernah berpikir dampaknya begitu luar biasa. Warga yang tidak tahu menahu merasakan dampaknya. Dari dipergunjingkan, dijadikan bahan olok-olok sampai di tolak di sholatkan di musola.


    Pilkada putaran pertama gunakan ayat, putaran kedua gunakan mayat

    Kelompok titik-titik kemungkinan besar pusing tujuh keliling. Dari awal mereka yakin akan dengan mudah menyikirkan Ahok dari putaran pertama Pilkada DKI Jakarta mengunakan  ayat (Surat Al Maidah 51). Tetapi ternyata  strategi keji  dengan  isu  penistaan agama yang dilakukan Ahok tidak bisa menjatuhkan  pasangan nomor urut dua ini, terbukti  ia keluar sebagai pemenang PIlkada putaran pertama  mengalahkan pasangan Anies- Sandi dan Agus –Sylvi. Isu SARA yang yang digadang-gadang dan menjadi senjata pamungkas untuk menjungkalkan Ahok-Djarot ternyata hanya bagai mimpi di siang bolong. Ahok-Djarot melaju pada putaran kedua Pilkada DKI.

    Putaran kedua Pilkada, meskipun diatas kertas pasangan Anies-Sandi sudah merasa percaya diri akan menang melawan Ahok karena merasa akan didukung pemilih Agus-Sylvi, tetapi sesungguhnya mereka tidak terlalu nyakin.  Mereka bisa melihat bahwa warga Jakarta semakin  rasional dalam menentukan pilihan politiknya, apalagi penolakan terhadap Ahok semakin kentara karena ada kepentingan politis.  Pun ditambah bukti setelah dari beberapa putaran persidangan  Ahok, banyak kejanggalan yang  memperlihatkan kasus Ahok memang  benar politis.

    Dalam kondisi yang binggung dan marah, setelah jurus ayat tidak mempan, dicarilah jurus mayat atau larangan untuk mensholatkan jenazah pendukung penista agama ( yang dimaksudkan adalah Ahok). Meskipun larangan mensholatkan jenazah pendukung dan pembela  penista agama  tersebut bukan berasal dari Anies-Sandi tetapi secara tidak langsung pasangan  yang didukung Gerindra dan PKS itulah yang diuntungkan dengan larangan tersebut. Larangan dalam spanduk terlihat provokatif dan menyesatkan. Karena warga bisa saja terpengaruh dan meskipun tidak  paham  agama secara benar tetapi bisa jadi mereka akan berpikir ulang untuk  memilih Ahok karena khawatir jika meninggal jenazahnya tidak akan di sholatkan di masjid tersebut.

    Hal tersebut  tidak bisa dibiarkan semakin  lama karena warga akan semakin ‘tersesatkan’. Untuk itu, kalau pasangan nomor urut ketiga  tidak mau dituduh ‘bermain’dan memanfaatkan isu tersebut, mestinya bisa mengambil sikap ksatria. Anies- Sandi sebagai seorang muslim, pastilah tahu jika larangan tersebut tidak benar, karena  berpotensi menimbulkan keresahan, kebinggungan, kemarahan, dan berpotensi menimbulkan perpecahan antar warga.

    Meskipun kecil kemungkinannya, saya sih berharap  pasangan Anies-Sandi jika memang benar-benar akan bertarung  memperebutkan kursi  gubernur DKI Jakarta secara jujur,  dalam masa kampanye ini  seharusnya  ikut meluruskan nalar warga yang tidak pas tersebut.  Tidak hanya lewat  seruan kepada warga untuk tetap menunaikan seluruh ketentuan hukum dan setiap kewajiban terhadap jenazah; serta menurunkan spanduk ancaman penolakan shalat jenazah. Tetapi juga memanfaatkan  lawatan keduanya  dengan  memberikan klarifikasi dan memberikan edukasi  secara langsung sehingga  warga tidak salah kaprah dalam bersikap dan bertindak. Jangan sampai membiarkan  nalar dan rasa  kemanusiaan warga  terlindas oleh kebencian yang tidak mendasar.**

    Salam Seword.


    Penulis :  Suci   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Usai Jurus Ayat, Terbitlah Jurus Mayat Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top