728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 26 Maret 2017

    Ulama Ternama Sheikh Imran Hosein Jelaskan Makna Al-Maidah 51, Tidak Sebut “Pemimpin”

    Pembahasan soal makna Al-Maidah 51 masih saja hangat untuk didiskusikan, apalagi dengan adanya berita pemecatan Ustad Ahmad Ishomuddin sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, hanya karena menyampaikan pendapat berbeda dengan sekelompok ulama di MUI soal makna ayat ini. Dan menarik, di youtube ada satu video yang juga membahas tentang Al-Maidah 51. Sosok yang berceramah di video itu bernama Sheikh Imran Hosein.

    Siapa Sheikh Imran Hosein? Dikutip dari Wikipedia, beliau merupakan sarjana Islam, penulis, dan seorang pemikir khususnya tentang eskatologi Islam, politik dunia dan ekonomi. Beliau menulis banyak buku tentang Islam, yang menunjukkan bahwa beliau bukan sarjana sembarangan. Ia juga secara rutin berkunjung ke berbagai negara untuk mengajar.

    Di video itu (link di bawah), beliau menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan surat Al-Maidah 51. Dari video itu, saya menangkap beberapa poin menarik berikut ini:

    1. Ketika menyebut ‘awliya’ di Al-Maidah 51, Sheikh Imran Hosein tidak mengartikan kata ini sebagai “pemimpin”, tetapi “teman dan sekutu”. Sebagai seorang yang ahli di bidang agama, beliau tentu sangat paham apa yang diucapkan. Ini tentu menarik, karena di Indonesia, sekelompok orang, termasuk yang menyebut diri mereka ‘ulama’ maupun pendukungnya yang awam yang bisa dikatakan hanya ikut-ikutan, secara mutlak (seolah kebenaran hanya milik mereka) mengartikan kata ‘awilya’ itu sebagai “pemimpin”, dan dengan demikian secara sempit menyimpulkan “orang Muslim dilarang memilih pemimpin non-muslim.” Mereka seakan tidak menerima pendapat lain diluar itu. Bahkan lebih jauh mereka mencap orang yang berbeda tafsir dengan mereka sebagai munafik. Hal ini dialami Ustad Ahmad Ishomuddin, yang dipecat oleh MUI dan dituduh munafik oleh kelompok tertentu lainnya, hanya karena menyampaikan pendapat berbeda dengan sekelompok ulama di MUI. Padahal, apa yang disampaikan Ustad Ishomuddin sama seperti yang disampaikan Sheikh Imran Hosein tentang makna ‘awliya’.

    2. Ketika mengartikan ‘awliya’ sebagai “teman dan sekutu”, Sheikh Imran bertanya, apakah ini memaksudkan Allah ingin orang Muslim menjauhi SEMUA orang Kristen dan Yahudi? Sheikh Imran menjawab: tidak. Sebab, ia menjelaskan, di bagian lain dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa ada orang Kristen yang bersahabat dengan Muslim. Artinya, ayat Al-Maidah 51 ini tidak bisa ditafsir main pukul rata, menjauhi SEMUA orang Kristen atau Yahudi. Dengan demikian, andaipun ayat itu diartikan “pemimpin” (sebagaimana pendapat sekelompok orang di Indonesia tadi), pun tidak berarti boleh main pukul rata, menolak SEMUA pemimpin non-muslim. Melainkan orang Kristen/Yahudi yang memperlihatkan sifat tertentulah yang harus dihindari. Yang bagaimana itu? Akan dijelaskan di poin berikutnya. Namun dapat saya tambahkan, berkaitan dengan persidangan BTP, poin (2) ini menurut saya relevan dengan pertanyaan majelis hakim yang menanyakan kepada Ustad Ishomuddin (ketika menjadi saksi di persidangan), jika sebagai teman setia saja tidak boleh, bagaimana dengan pemimpin? Saya berharap video Youtube Shaikh Imran Hosein ini bisa dilihat majelis hakim yang menyidang kasus BTP, bahwa kalau diartikan “teman setia”, pun tidak berarti Muslim harus menolak SEMUA teman setia yang non-muslim. Dan begitu juga, kalau diartikan “pemimpin”, pun tidak berarti orang Muslim harus menolak (atau tidak memilih) SEMUA pemimpin non-muslim. Melainkan orang yang memperlihatkan sifat tertentulah yang harus ditolak/dihindari. Hal ini bisa menjadi referensi tambahan bagi hakim untuk lebih jernih dan objektif menilai persidangan BTP ini. Semoga saja dengan satu atau lain cara, para hakim bisa mengetahui video Sheikh Imran ini.

    3. Oknum Kristen dan Yahudi bagaimana yang harus dihindari? Syeikh Imran menjelaskan bahwa jawabannya ada di ayat berikutnya dari surat Al-Maidah itu, yakni Kristen dan Yahudi yang “secara misterius bekerja sama” (ini kalimat Sheikh Imran). Kalau kita maknai lebih jauh, secara misterius bekerja sama dapat dipahami sebagai bekerja sama untuk tujuan mencelakai umat Muslim. Tentu saja hal demikian tidak dibenarkan, dan orang demikian sudah sepantasnya dihindari. Dan kalau kita kaitkan ke Pilgub DKI, apakah BTP mencelakai umat Muslim? Tidak. Yang ada, ia malah membantu memajukan umat Muslim dengan program-programnya, sebagaimana juga dijelaskan oleh Ketua PPP Djan Faridz, sebut saja salah satunya, membangun masjid. Oleh karena itu, BTP bukan termasuk kategori orang yang harus dihindari itu.

    Dengan demikian, jelaslah bahwa makna Al-Maidah 51 itu tidak mengartikan pemimpin atau pejabat publik (sebab kalau diartikan pejabat publik, bagaimana dengan ulama-ulama dan ratusan ribu umat Muslim di negara-negara Barat yang setiap beberapa tahun memilih pemimpin non-muslim? Haramkah mereka? Masuk neraka kah mereka? Tidak boleh disholatkan-kah jenazah mereka? Mereka Muslim juga, bukan? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara memuaskan oleh kelompok sebelah). Bahkan andaipun diartikan “pemimpin”, juga tidak berarti menolak SEMUA pemimpin atau calon pemimpin non-muslim.

    Memang sangat aneh fenomena di negara tercinta kita ini, sepertinya hanya di negara Indonesia ini yang meributkan dengan begitu hebatnya soal larangan memilih pemimpin non-muslim, dan lebih anehnya lagi, itu terjadi hanya beberapa tahun belakangan! Aneh memang. Oleh karena itu, video-video seperti ceramah Sheikh Imran ini perlu disebar secara luas, agar wawasan orang-orang terbuka, bahwa makna suatu ayat tidaklah selalu seperti yang mereka sangka.

    Video ceramah Sheikh Imran Hosein tersebut dapat dilihat di link youtube https://www.youtube.com/watch?v=VxrqZMqUmzE


    Penulis :   Rey Nald   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ulama Ternama Sheikh Imran Hosein Jelaskan Makna Al-Maidah 51, Tidak Sebut “Pemimpin” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top