728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 15 Maret 2017

    Tommy Soeharto Tidak Akan Menggandeng Prabowo, Bagaimana Skema Pilpres 2019

    Wacana Tommy Soeharto untuk menjadi calon presiden 2019, seperti yang diberitakan di beberapa media sedikit banyak telah mengundang perhatian kita dan membuat kita mencoba menebak-nebak bagaimana skema Pilpres 2019 nanti.

    Cendana Mendukung Anies Tapi Ahok Pasti Menang

    Seperti yang kita ketahui, bahwa baru-baru ini, keluarga Cendana menyatakan dukungannya kepada Anies-Sandi. Banyak yang berasumsi, bahwa alasan keluarga Cendana mendukung Anies, adalah karena Anies, pada saat ini memiliki lebih banyak peluang untuk menang. Kita sebut saja mereka ini seperti kertas. Yang suka mengikuti kemana arah angin berhembus. Tapi pertanyaanya, apakah iya?

    Apakah iya, keluarga Cendana memberikan dukungan kepada Anies hanya karena kubu Anies-Sandi memiliki lebih banyak peluang untuk menang. Setidaknya berdasarkan survei dari sebuah lembaga belakangan (saya lupa nama lembaga surveinya). Dari lembaga survei tersebut dikatakan bahwa sebanyak 60% warga DKI mendukung Anies, dan sisanya adalah Ahok. Dikurangi dengan beberapa persen sebagai pendukung AHY yang belum menentukan keputusan.

    Apakah hanya karena demikian keluarga Cendana memberikan dukungan kepada Anies? Mungkin iya, mungkin tidak. Pasalnya begini. Meskipun survei belakangan menyatakan bahwa Anies lebih unggul dari Ahok. Tapi tidak dapat dijadikan patokan bahwa Anies pasti menang. Kita bisa melihat pada putaran pertama bulan lalu. Survei yang ada jelas mengatakan  bahwa Anies dan AHY lebih unggul daripada Ahok. Selalu seperti itu. Tapi nyatanya, pada hari pencoblosan, suara Ahok yang lebih unggul.

    Dan menurut saya pribadi. Putaran kedua inipun juga demikian. Ahok pasti menang lagi. Isu akan penolakan penyolatan jenazah sudah jelas menjadi blunder yang dapat menurunkan elektabilitas Anies. Kenapa. Karena dengan adanya kasus penolakan penyolatan jenazah, secara tidak langsung akan menyebabkan adanya indikasi usaha untuk mendiskriminasi dan memojokkan kubu dan pendukung Ahok.

    Ketika hal ini terjadi. Kubu Ahok secara tidak langsung akan dinilai sebagai pihak yang terdzolimi. Kita tahu bahwa tidak menyolatkan jenazah hanya karena beda pilihan politik adalah tindakan tidak cerdas dan keterlaluan. Dan karenanya, maka masyarakat luas akan memandanag, “Wah, kok kubu Anies gitu ya? Diskriminatif sekali.”

    Meskipun dalam kenyataannya Anies sendiri tidak mendukung aksi tersebut. Justru hal ini juga menjadi blunder kedua bagi Anies. Karena begini. Isu yang diluncurkan dari kubu Anies, atau setidaknya oleh pendukung Anies, adalah SARA. Mengatakan bahwa Ahok adalah kafir. Dan semua pendukung Ahok adalah kafir juga karena mendukung penista agama.

    Pada ajaran bumi datar. Ajaran dari pihak yang sedang di domplengi oleh Anies, mengatakan bahwa kita tidak boleh menyolatkan jenazah kaum munafik dan musrikin. Mereka menggunakan salah satu ayat Al Qur’an. Makanya, mereka berani memasang spanduk, dan berani menolak menyolatkan jenazah. Dan ketika aksi itu terjadi, justru Anies, yang satu pihak dengan mereka malah membantah dan tidak menyetujui.

    Barangkali Anies ingin terlihat tidak diskriminatif. Tapi ini justru menimbulkan citra bahwa Anies adalah pribadi yang Inkonsisten dan mencla-mencle. Ini buruk baik bagi pendukung dari bumi datar, maupun pendukung dari luar. Masyarakat awam, maksut saya.

    Kenapa buruk. Karena kaum bumi datar, pasti akan merasa di khianati oleh Anies. Dan masyarakat awam, pasti akan melihat adanya ketidak konsistenan sikap Anies. Kemarin bilangnya tempe. Sekarang malah dele.

    Nah, jika sudah demikian, maka saya sangat yakin. Jika dalam beberapa minggu lagi, lembaga survei yang pernah mengatakan Anies lebih unggul elektabilitasnya, saya yakin maka elektabilitas Anies akan turun. Apalagi dengan kasus Anies soal dugaan korupsi dan Sandiaga tentang pencemaran nama baik, sudah pasti akan menjadi tali yang nyerimpeti jalannya elektabilitas Anies-Sandi. Ditambah lagi dengan citra positif yang dibangun Ahok belakangan, yaitu tentang tidak adanya nama Ahok di daftar kasus suap e-KTP pasti akan menambah citra positif Ahok.

    Apalagi dengan adanya deklarasi dari NU belakangan juga. Bahwa muslim, boleh memilih pemimpin non muslim. Hal ini pasti akan menambah keyakinan masyarakat awam untuk lebih yakin memilih Ahok. Karena menurut hasil survei dari lembaga yang sama mengatakan bahwa sebenarnya masyarakat tahu bahwa Ahok berkompeten, tapi mereka tidak memilih karena isu perbedaan agama. Dan dengan adanya deklarasi NU yang memiliki pengaruh kuat, pasti akan mematahkan stereotip pengkotakan pilihan berdasarkan agama yang diluncurkan oleh kaum bumi datar.

    Nah, jika sudah demikian. Apakah mungkin pihak Cendana tidak tahu akan peta kemenangan dan kemungkinan akan kemenangan Ahok. Lalu kenapa Cendana tetap memihak pada Anies?

    Jawabannya adalah karena prinsip kerja Cendana, dan orientasi politiknya berbeda dengan Ahok. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa partai pendukung Ahok adalah PDIP yang yang diketuai oleh Megawati. Setahu saya, Cendana, dan PDIP tidak pernah akur. Nanti saya bahas di artikel tersendiri, tentang kontroversi Soekarno vs Soeharto dan rentetan perseteruan Golkar (Cendana) vs PDIP (Megawati).

    Tommy Soeharto Tidak Akan Menggandeng Prabowo

    Jadi begini. Kenapa saya mengatakan bahwa Tommy Soeharto tidak akan menggandeng Prabowo. Prabowo. Menurut pengamatan kepribadiannya. Tidak suka jika menjadi nomor dua. Dalam Pilpres 2019 nanti. Dia kemungkinan besar tidak akan mau jika hanya menjadi Calon Wakil Presiden RI. Dia harus menjadi Presidennya. Dia harus menjadi yang nomor satu!

    Kedua, saya pribadi juga memandang demikian kepada kepribadian Tommy Soeharto. Kenapa Tommy Soeharto ingin maju menyalonkan presiden? Karena dia ingin meneruskan dinasti Soeharto. Dinasti Cendanaisme. Dinasti itu, tidak akan tercapai. Jika Tommy hanya menjadi Wakil Presiden. Kita tahulah, bisa apa Wakil Presiden. Kecuali, jika nanti Tommy Soeharto mengalah sebentar, pura-pura menjadi wakil, lalu setelah menjabat menusuk dari belakang Prabowo, dan membuat Tommy menjadi presiden.

    Tapi pun demikian, strategi tersebut tidak dapat dilakukan oleh kepada Prabowo. Prabowo adalah lulusan militer. Dan karenanya, dia memiliki strategi dan intuisi lebih dari orang lain. Dan dalam beberapa hal, kemungkinan dia akan lebih licik. Maksut saya bukan kelicikan negatif. Tapi lebih tinggi dan hati-hati dalam penggunaan strategi. Jika Tommy Soeharto harus menggulingkan Prabowo, saya pastikan dia tidak akan mampu. Karena itu, jelas dia tidak akan menggandeng Prabowo.

    Nah loh, tapi kan sekarang dia mendukung Anies, dan sudah pasti Gerindra dengan ketuanya Prabowo. Jika Prabowo dan Tommy Soeharto ingin maju Pilpres, seharusnya mereka saling menggandeng dong. Kan sekarang dia sudah menggandeng Anies.

    Yang pertama, yang sedang diincar oleh Cendana bukanlah Prabowo. Tapi Anies dan Rizieq, serta elektabilitas mereka untuk mendompleng nama Cendana. Kedua, meskipun Gerindra dan Cendana sekarang ada di satu koalisi. Ketika Anies nanti kalah, mereka akan kembali terpisah. Bahkan jikalaupun Anies nanti menang, mereka akan tetap terpisah, dengan Anies berada di kubu Cendana. Kenapa di kubu Cendana. Karena Cendana kaya. Dan Anies adalah orang yang bertipe isuk tempe, sore dele. Alias mencla-mencle.

    Jika Tidak Anies, Hary Tanoe

    Maka kemungkinan akhir jika Tommy Soeharto tidak menggandeng Prabowo. Alternatif pilihannya sementara adalah. Jika tidak Anies, ya Hary Tanoe. Anies, apakah nanti dia berhasil menjadi Gubernur atau tidak. Saya tidak yakin jika dia tidak akan tergiur jika ditawari menjadi Wakil Presiden. Orang nomor 2 RI. Kita tahulah, bagaimana sifat Anies. Dan jikalaupun gagal. Masak gagal jadi Gubernur terus nyalon presiden? Kenapa tidak? Politik, broo. Toh, dalam Pilkada ini Anies juga sudah punya nama dan pendukung. Dan ini juga menjadi sedikit berkah plus modal untuk maju ke Pilpres.

    Tapi saya sendiri, juga masih sangsi jika nanti Tommy akan menggandeng Anies. Meskipun dia punya nama, tapi dia ini ndak modal banget. Haha. Bahkan di perhelatan Pilkada saja dia harus nebeng pakai duit Sandiaga dan Prabowo. Maka kemungkinan terakhir adalah, Hary Tanoe.

    Hary Tanoe, sejauh pengamatan kepribadiannya adalah sosok yang pragmatis. Meskipun beberapa waktu yang lalu, dia mengatakan bahwa dia akan maju menjadi presiden. Tapi bukan berarti dia benar-benar akan menjadi calon presiden. Dalam hal ini, dapatkah kita samakan Hary Tanoe dengan Sandiaga? Bukankah dia dulu juga seperti itu. Dan HT pun saya rasa juga demikian.

    Dia tidak masalah jika harus menjadi orang nomor 2 RI. Justru dengan menjadi Wakil. Dia tidak akan terlalu tersoroti oleh media dan masyarakat. Dan dia justru akan lebih aman. Kenapa aman. Karena yang salah itu selalu pemimpin nomor 1. Bukan nomor 2. Haha.

    Dan secara cara pandang serta kepribadian. Saya melihat bahwa Tommy Soeharto ini lebih mirip dengan Hary Tanoe daripada Anies. Karenanya, jika mereka berduet, maka mereka akan menjadi pasangan yang serasi. Dan Anies, dia akan menjadi tim sukses mereka berdua.

    Pilpres 2019 Ada Tiga Pasangan

    Dari analisis kemungkinan di atas. Maka saya menyimpulkan bahwa 2019 nanti akan ada 3 pasangan yang maju untuk mencalonkan dirinya. Tommy Soeharto yang akan menggandeng HT. Prabowo dengan entah siapa, saya belum dapat menganalisa. Dan Jokowi, juga entah dengan siapa. Yang jelas bukan Ahok. Saya yakin.

    Salam, Pecandu Kopi



    Penulis : Rohmat Tri Santoso    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Tommy Soeharto Tidak Akan Menggandeng Prabowo, Bagaimana Skema Pilpres 2019 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top