728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 13 Maret 2017

    Toean Soemarno, Tahu Nggak Bedanya Manusia dengan Hewan?

    Tenkyu Berat Sang Wangsit. Hura, hura, hura, akhirnya sang wangsit tuk namatin Trilogi Kevin Si 24 berkenan menghampiri. Cilaka 12! Eh mahap, salah! Bukan cilaka 12 deng! Melainkan, ajaib bin top abis. Gimana nggak ajaib? Wangsit yang datang bukan hanya satu tapi dua sekaligus.  Wangsit pertama ya untuk namatin Trilogi Kevin Si 24 (3).

    Cihuyyy, tenkyu berat ya, Om Wangsit. Artinya, tidak lama lagi Trilogi Kevin Si 24 (3) akan masuk dapur tulis, terus tayang dan berarti tamat. Sekarang apa sih wangsit kedua? Toean Soemarno. Woasyikkk, ada 2 wangsit loh!  Apanya yang woasyikkk? Dengan 2 wangsit, masalahnya terpaksa harus milih yang mana dulu akan tayang. Pilih namatin Trilogi Kevin Si 24 (3) atau tentang Toean Soemarno dulu? Wajib loh hukumnya namatin Trilogi Kevin Si 24. Kalau tidak tamat-tamat, jadinya bukan trilogi dong. Melainkan duologi.  Nggak lucu kan? Joedoel nya aja pake kata Trilogi. Sementara menunda Toean Soemarno sayang banget. Soalnya, Toean Soemarno saat ini lagi nge-top nge-topnya loh. Tidak hanya di kalangan penghuni bumi datar sumbu pendek, tapi juga di kalangan penghuni bumi bulat. So, yang mana dulu tayang ya? Trilogi Kevin Si 24 (3) atau Toean Soemarno? Onde mande, paniang kapalo berbi.

    Hmmm, oki doki. Setelah menimbang dan memperhatikan Pilkada DKI Jakarta Putaran ke-2 masih ± 1.5 bulan lagi, keputusannya Toean Soemarno pemenangnya. Setuju? Sori dori wori, setuju nggak setuju, keputusan sudah bulat. Toean Soemarno yang tayang duluan.

    Eitsss, supaya nggak penasaran, tak kasih deh “clue”  tokoh yang akan muncul di Trilogi Kevin Si 24 (3). Satu hal yang pasti, tokoh yang menantang Kevin di Trilogi Kevin Si 24 (3) bukan solois seperti HT. Penantangnya sama seperti  di Trilogi Kevin Si 24 (1), yaitu duet Duo F. Loh, kok? Yupsss, kalau solois, simbol keramat penghuni bumi datar sumbu pendek nggak bakal nongol. Masak yang nongol simbol 211 sih? Itu kan bukan angka keramat penghuni bumi datar sumbu pendek lageee.  Nah, agar mereka nggak tersinggung berat,  jadinya nongol deh duet Duo bla bla bla. Tadaaa, klop jadinya.  Simbol keramat penghuni bumi datar sumbu pendek yaitu 212 bisa nongol. Sekali-sekali nyenengin mereka boleh toh? Upsss, cukup ya clue nya? Pisss!

    Oki doki, lets back to the topic then. Bah, sapa pulaklah Toean Soemarno ini? Walahhh, nggak up-date nih. Siapa lagi kalau bukan yang mulia Ketua KPUD DKI Jakarta. Figur teramat penting yang bertanggungjawab dalam proses pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta.  Wuihhhh, heibat kalilah orang ini. Ya, eiyalah, sapa dulu dong Toean Soemarno? Memang sih, dulu, jauh sebelum Pilkada DKI Jakarta terlaksana, Toean Soemarno mah belum nge-top nge-top banget. Paling nge-topnya cuman di sekitaran KPUD doang dan warung sekitaran Kantor KPUD DKI Jakarta.  Nah lo, kalau gitu, sejak kapan Toean Soemarno jadi nge-top banget? Ya sejak pasca Pilkada DKI Jakarta Putaran ke-1. Bahkan kengetopannya makin menjadi-jadi menjelang Pilkada DKI Jakarta putaran ke-2 tanggal 19 April 2017 yang akan datang.

    Apa Sih Yang Membuat Toean Soemarno Nge-Top Top

    Saat ini Toean Soemarno lagi sangat nge-top loh. Heibattt nya, nge-top nya tidak hanya pada 1 pihak Paslon yang akan berlaga di Pilkada DKI Jakarta Putaran Ke-2. Melainkan nge-top di masing-masing pendukung Paslon dan tentunya masing-masing Paslon, yaitu Paslon No. 2 dan 3. Tentu dengan versi masing-masing. Heibattt nya lagi, Toean Soemarno tidak hanya nge-top di kalangan para pendukung masing-masing Paslon. Sangking nge-top nya, Paslon No. 3 sangat mengidolakan Toean Soemarno. Yahhh, mirip-mirip Dr. Hj. Marissa Haque. Itu tuh, mantan artis dan DPR RI. Pengen tau kenapa Toean Soemarno jadi nge-top?


    Versi Pendukung Paslon No. 2:
    O o, kamu ketahuan! O o, kamu ketahuan Toean Soemarno. Yupsss, dirimu ternyata teramat sangat ANTI Ahok. Cuitan di atas memang relatif sudah lama sih. Namun, sadar tidak sadar, membuka kedok betapa konyolnya dirimu memperlihatkan keberpihakan. Heibattt nya, sampai saat ini masih menjabat sebagai Ketua KPUD DKI Jakarta. Padahal, bukankah seorang Ketua KPUD WAJIB netral? Mbok ya, kalau nggak bisa netral, mbok tau dirilah. Mundur secara terhormat! Patut di duga lo! Sayang beribu sayang, Toean Soemarno orang Indonesia. Pastinya nggak menganut budaya harikiri ala Jepun. Jadi ya gitu deh. Tetap aja menjabat sambil cengengesan kiri kanan dan atas bawah tanpa henti.

    Pengen tau lebih banyak lagi? Monggo colek Mbak Yaya. Upsss, maksudnya sungkem gih sono ke Mbah Google. Terus di paha Mbah Google ketik deh: Wahasil, bukan hanya Mbak Yaya aja yang kecolek. Tapi juga beroleh jawaban apa yang bikin Toean Soemarno jadi nge-top tapi nge-top negatif. Belum puas? Tambah sesajen, pasti Mbah Google ijinin tuk ngetik lagi di pahanya:

      Kali ini dijamin Mbak Yaya diem blass. Soalnya yang kecolek Mas HYSebastian. Lagi-lagi bakal nemu deh kenapa Toean Soemarno menjadi semakin nge-top.

    Kesimpulan: “Untuk para pendukung Paslon No. 2, nge-top nya Toean Soemarno ternyata nge-top yang NEGATIF. Kenapa NEGATIF? Patut diduga,Toean Soemarno meng-HALAL-kan segala cara agar Paslon No. 3 menang.”

    Versi Pendukung Paslon No. 3:


    Cihuyyy, di mata Dr. Hj. Marissa Haque, Toean Soemarno adalah Kekasih ALLAH. Duh duh duh, pasti Toean Soemarno teramat bahagia disebut Kekasih ALLAH oleh mantan bintang pelem dan DPR RI yang merasa diri PALING suci. Bukan hanya Dr. Hj. Marissa Haque seorang loh. Banyak banget loh yang memuja-muji sang Ketua KPUD DKI Jakarta. Tentunya para pendukung Paslon No. 3 bersama para penghuni bumi datar sumbu pendek. Termasuk Paslon nya sendiri loh. Nggak percaya? Tengok saat pencoblosan ulang di TPS 29 di Kalibata, Jakarta Selatan. Seorang Paslon No. 3 sampai-sampai harus hadir. Dan eng ing eng, ktemuan deh dengan Toean Soemarno. Upsss, belum cukup rupanya. Paslon No. 3 bahkan sempat-sempatnya dinner an bareng dengan Toean Soemarno di sebuah hotel. Dan hotel tersebut adalah tempat pelaksanaan Rapat Pleno Penetapan Paslon untuk Pilkada DKI Jakarta Putaran Ke-2. Molor deh jadinya waktu pelaksanaan rapat pleno tersebut tersebut. Apa aja sih yang dibicarain Paslon No. 3 dengan Ketua KPUD DKI Jakarta saat dinner an bareng yang bikin Paslon No. 2 manyun terus WO? Halooowwww, rahasia dung!


    Kesimpulan: “Untuk para pendukung Paslon No. 3, nge-top nya Toean Soemarno ternyata nge-top yang POSITIF. Tentu sesuai dengan persepsi mereka lah yauwwww. Menang dengan TIDAK ETIS atau menang dengan cara yang patut diduga melakukan praktek KKN, TIDAK MASALAH. Nyang penting MENANG. Itu sebabnya perlu buat gebrakan dengan ketemuan  di TPS 29, terus dinner bareng.  PERTANYAAN: POSITIF menurut kacamata apa ya, Mbak Dr. Hj. Marissa Haque cs?

    Toean Soemarno, Mari Kembali Sejenak Ke Jaman Kanak-Kanak

    Toean Soemarno pasti SELALU ingat toh? ALLAH menciptakan kita semua, baik penghuni bumi bulat maupun bumi datar dengan sumbu pendek, sebagai MANUSIA kan? Bukan sebagai HEWAN! Artinya, ALLAH tidak hanya sekedar memberi instink alias naluri, tapi memberi kita semua MANUSIA anugerah AKAL-BUDI alias NURANI. Hewan, termasuk si Doeboek tidak. ALLAH hanya memberi para hewan-hewan ini naluri alias instink untuk survive. Jadi para hewan tidak tau apa itu BAIK-BURUK atau BENAR-SALAH. Apalagi DOSA atau TIDAK DOSA. Tentu parameter BAIK-BURUK, BENAR-SALAH, dan DOSA atau TIDAK BERDOSA, adalah Firman ALLAH. Buat para HEWAN yang imut, juga si Doeboekersss, nyang penting dapat makan.Caranya? Sebodok teiiing! Bedah toh dengan MANUSIA? CARA punya peran signifikan. Kecuali mau disebut Doeboekersss jadi-jadian!

    Toean Soemarno juga ingatkan dari mana datangnya kemampuan kita membedakan MANUSIA dengan HEWAN? Ingat kan proses awal sewaktu kita semua masih kanak-kanak? Awalnya kan cuma: 

    Mamm…ma, mamm…ma, mamm’ma. Papp…pa, papp…pa, papp’pa.” Atau ada yang mau lebih keyennn: “Mommm…, mommm…, mommmyy! De…, de…, dedd’dy!” Upsss, bukan si Kang Dedy Bupati Purwakarta loh. Seiring waktu yang terus berjalan, kemudian meningkat menjadi: Ini Soemar, ini Kakak Soemar. Ini Mama Soemar, ini Papa Soemar, dan seterusnya dan seterusnya.

    Metode repetition ini pasti selalu ada dalam proses belajar-mengajar ANAK. Setelah hapal pal, meningkat menjadi: Ini anjing. Ini kucing. Ini Doeboek. Suara anjing bagaimana ya? Guk guk guk! Suara kucing bagaimana ya? Meong meong meong! Suara doeboek bagaimana ya? Hiihhh, hihhh, hihhh! Dan seterusnya dan seterusnya. Ingat toh, Toean Soemarno?
    Metode repetition dalam proses belajar-mengajar ini tidak hanya ada di Indonesia. Dapat dipastikan, hampir seluruh negara yang ada di dunia menerapkannya. Walau dengan versi sesuai konteks masing-masing negara. Dari jaman baheula sampai jaman modern, para orang tua maupun guru pasti menggunakan metode ini. Hasil dari metode belajar-mengajar inilah yang kemudian memampukan setiap orang membedakan MANUSIA dengan HEWAN, termasuk si Doeboek. Termasuk Toean Soemarno kan?

    Pertanyaan kembali untuk Toean Soemarno: “Masih ingat kah Toean Soemarno dengan metode  repetition dalam proses belajar-mengajar ini?” Bah, menghina kalilah kalian ini? Toean Soemarno nggak mungkin lupalah!  Bukankah sebelum segodek sekarang, Toean Soemarno juga pernah jadi anak-anak? Jadi pasti pernah ikut dalam proses belajar-mengajar dengan metode repetition tersebut. 

    Mosok sih dengan baca mantra simbsalabim, abrakadabra, Toean Soemarno tiba-tiba nongol di dunia sudah segodek seperti sekarang? Sungguh, masa kanak-kanak teramat indah ya Toean Soemarno. Bebas sebebas bebasnya dari belenggu dan jeratan KKN. Bebas sebebas bebasnya dari godaan Firza Hots. Bebas sebebas bebasnya dari iming-iming depe 0% alias depe Rp. 0,- dan lain sebagainya. Dan akan hal ini, hanya MANUSIA yang tahu. Tidak dengan para HEWAN, termasuk Doeboekersss.

    Oh iya, Toean Soemarno pasti juga ingat bahwa proses belajar-mengajar dengan metode repetition seperti di atas tadi tidak hanya berhenti sampai di situ kan? Berlanjut terus, tidak pernah berhenti sekejap pun. Dulu waktu masih kanak-kanak beroleh pengajaran, sekarang setelah segodek ini, tentu Toean Soemarno yang mengajar. Baik untuk anak-anak maupun cucu-cucu serta orang-orang yang ada di sekitaran Toean Soemarno. Sampai akhirnya, semua orang, termasuk Toean Soemarno, termasuk anak-cucu Toean Soemarno, mampu membedakan eksistensi MANUSIA dengan HEWAN. Toean Soemarno tentu juga tau perangai para hewan, khususnya Doeboekersss alias Dubuk alias Heyna. Jadi, tidak perlulah mengurai panjang lebar perbedaan MANUSIA dengan HEWAN, khususnya Doeboekersss. Pasti Toean Soemarno sudah paham sepaham-pahamnya kan?

    Toean Soemarno: “Quo Vadis Jelang Pilkada DKI Jakarta Putaran Ke-?” 

    ALLAH menciptakan MANUSIA sangat berbeda dengan HEWAN. ALLAH menciptakan MANUSIA dengan derajat yang lebih tinggi ketimbang HEWAN. ALLAH memberi MANUSIA AKAL-BUDI, sedang HEWAN tidak. Di sini masalah bermula. Dengan AKAL, bukan dengan BUDI alias NURANI, MANUSIA mampu merekayasa dorongan HAWA NAFSU ke level maksimal. Salah satunya, MANUSIA mampu mengadopsi perilaku HEWAN, termasuk perilaku Doeboekersss.Tidak aneh apabila di Indonesia budaya KKN masih tumbuh subur.

    Berbanding terbalik dengan HEWAN. Tidak ada seekor HEWAN, termasuk Doeboekersss, yang mampu berperilaku seperti MANUSIA. Utamanya mampu menentukan mana yang BAIK, mana yang BURUK. Mana yang BENAR, mana yang SALAH. Mana yang DOSA, mana yang TIDAK BERDOSA. Soal ini, hanya manusia yang ahli alias jagonya.
    Plautus menegaskan hal ini dalam karyanya berjudul Asinaria (195 SM lupus est homo homini). Ia menggambarkan bahwa manusia itu adalah Homo Homini Lupus. Artinya kurang lebih: Manusia tidak hanya seperti SERIGALA, tetapi bahkan seperti DOEBOEKERSSS bagi sesama manusia lainnya. Istilah tersebut juga dapat diterjemahkan sebagai manusia adalah serigalanya alias doeboekersss manusia  yang diinterpretasi berarti MANUSIA SERING MENIKAM SESAMA MANUSIA LAINNYA. Istilah ini sering muncul dalam diskusi-diskusi mengenai kekejaman yang dapat dilakukan manusia bagi sesamanya.”
    Refleksi sosio-budaya teologis Plautus ada benarnya. Walau di sisi lain,tidak sepenuhnya benar. Tidak selalu yang namanya “manusia” menjadi “serigala” atas sesamanya.  Itu sebabnya, Seneca memunculkan istilah tandingan. Mudahan, Toean Soemarno ingat istilah tandingan tersebut.
    Istilah Homo Homini Lupus dari Plautus beroleh perlawanan. Salah seorang tokoh yang memberi perlawanan adalah Seneca. Ia memunculkan istilah Homo Homini Socius. Artinya, kurang lebih MANUSIA ADALAH TEMAN BAGAI SESAMANYA MANUSIA atau MANUSIA ADALAH SESUATU YANG SAKRAL BAGI SESAMANYA.”
    Toean Soemarno, Pilkada DKI Jakarta Putaran Ke-2 kian dekat. Sebagai Ketua KPUD DKI Jakarta, pertanyaannya kini adalah: “Legacy apakah yang akan engkau wariskan warga DKI Jakarta, baik generasi saat ini maupun generasi berikut?” Generasi Homo  Homini Lupus ataukah generasi Homo Homini Socius? Silahkan pilih dan putuskan, Toean Soemarno! Satu hal yang pasti, semua agama yang diakui di NKRI ini tidak pernah mengajarkan bahwa manusia Indonesia harus menjadi Homo Homini Lupus.

    Penulis : Rohadi Sutisna  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Toean Soemarno, Tahu Nggak Bedanya Manusia dengan Hewan? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top