728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 Maret 2017

    Temui Jokowi, SBY Dukung Ahok Secara Tak Resmi Sekaligus Balas Dendam Pada FPI?

    Akhirnya, pertemuan antara Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Indonesia ke-7 Joko Widodo sudah terwujud. Pertemuan kedua tokoh ini sudah di nanti-nantikan oleh banyak pihak. Jokowi sendiri berhasil membuat pertemuan ini berlangsung di waktu yang tepat dan memiliki nilai yang “lebih”.

    Banyak pihak yang berpendapat bahwa pertemuan mereka bukan hanya sekedar pertemuan untuk sekedar menjalin silaturahmi. Pasti ada hal-hal penting yang mereka bicarakan walaupun durasi pertemuan keduanya tidak berlangsung lama.

    Bisa di bilang pertemuan Jokowi dengan SBY kemaren adalah pertemuan yang sifatnya simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Banyak pihak yang telah melihat langkah-langkah jenius yang dilakukan Jokowi dalam berbagai bidang terutama politik. Setiap langkah-langkah yang dilakukan Jokowi selalu di sertai dengan simbol-simbol sehingga wajar kalau ada yang mengatakan “Jokowi, lelaki yang gemar bermain dengan simbol”.

    Pertemuan Jokowi dengan SBY secara tidak langsung akan mengalirkan dukungan para elit Demokrat kepada paslon Ahok-Djarot walaupun secara tidak resmi. Apalagi ketika SBY dan Demokrat memilih untuk netral di putaran kedua. Hitung-hitung sebagai poros penyeimbang. Dengan bersikap netralnya Demokrat, akan memperbesar peluang paslon Ahok-Djarot menang di putaran kedua nanti dan sekaligus menghancurkan mitos politik yang mengatakan bahwa suara pemilih Agus-Sylvi otomatis berpindah ke pasangan Anies-Sandi karena kesamaan visi dan misi.

    Memang, jalan yang paling tepat diambil oleh SBY, AHY atau pun Demokrat adalah NETRAL. Mendeklarasikan dukungan secara resmi kepada Ahok tentu tidak mungkin walaupun saya melihat mereka akan cenderung mendukung paslon Ahok-Djarot tapi terbentur hubungan Megawati dan SBY yang disinyalir kurang harmonis sejak pilpres 2004.

        Baca Juga : Rekayasa Kejadian Ala Detektif Conan, Tapi Sayang Jonru Kebalikan dari Tokoh Utamanya

    Mendeklarasikan dukungan secara resmi kepada Anies sudah pasti akan mereka pikirkan matang-matang walaupun dibandingkan Ahok, Anies lebih memiliki banyak persamaan dengan mereka. Tapi masalahnya, kalau Demokrat mendukung Anies itu sama saja mereka memperbesarkan lawan. Saya yakin, Agus yang tersingkir di putaran pertama kemaren tidak akan  pernah kapok. Dan kemungkinan Agus akan kembali maju di Pilgub DKI tahun 2022 nanti.

    Nah, kalau di putaran kedua nanti Ahok menang, sudah pasti Ahok tidak bisa maju lagi di Pilgub DKI 2022 nanti. Karena sudah 2 periode. Itu berarti, berkurang 1 lawan kuat untuk Agus. Tapi kalau di putaran kedua nanti mereka dukung Anies dan Anies menang, berarti Anies akan maju untuk periode kedua tahun 2022 nanti. Itu berarti, Demokrat telah menyiapkan lawan yang kuat untuk Agus di Pilgub DKI 2022 nanti. Mereka yang menginginkan Agus menang, sudah tentu tidak menginginkan hal ini terjadi.

    Netral memang langkah yang paling tepat diambil oleh Demokrat. Dengan membebaskan kader, simpatisan dan relawan mendukung salah satu paslon sesuai dengan hati nurani mereka masing-masing akan membuat masyarakat menilai bahwa Agus yang pernah menjadi calon yang di usung oleh Demokrat adalah calon pemimpin masa depan yang bukan subordinasi dari Anies Baswedan.

    Selain itu, sikap dewasa yang dimiliki Agus saat mengakui kekalahan dengan lapang dada akan menjadi nilai plus sekaligus pertimbangan masyarakat untuk memilih beliau di lain kesempatan.

    Sikap netral Agus dan Demokrat tentu menjadi kabar gembira untuk kubu Ahok karena mereka ketambahan sedikit “amunisi” yang membuat peluang mereka untuk menang diputaran kedua nanti semakin terbuka lebar.

    Tapi lain dengan kubu Ahok, lain pula dengan kubu Anies. Netral nya Agus dan Demokrat tentu menjadi kabar yang tidak enak untuk mereka. Kesempatan untuk menang di putaran kedua nanti tentu semakin sulit. Percaya atau tidak, mereka sangat membutuhkan suara dari pemilih Agus untuk menang. Tapi dengan netral nya Agus membuat mereka ketar-ketir.

    Netralnya Agus tentu membuat suara pemilihnya terpecah menjadi dua. Padahal mereka berharap, suara Agus otomatis akan berpindah kepada mereka paling tidak 90% karena kesamaan visi dan misi. Tapi Agus dan Demokrat yang tidak ingin partainya semakin burem tentu harus melakukan langkah-langkah yang cerdas untuk kembali mengangkat Demokrat menuju tangga kejayaan kembali secara perlahan-lahan. Salah satu langkah cerdas mereka adalah menjadi poros penyeimbang di tengah dua koalisi yang sedang “berperang”.

    ***

    Banyak pihak yang beranggapan bahwa berbaliknya dukungan SBY kepada Ahok walaupun tidak di deklarasikan secara resmi adalah bentuk kekecewaan SBY kepada kaum khilafah terutama FPI. FPI yang sangat diandalkan menjadi mesin pendulang suara untuk Agus, di detik-detik terakhir sebelum pemilu malah mengalirkan dukungannya kepada Anies. Hal ini bisa dilihat dari TPS tempat ketua FPI, Rizieq Shihab mencoblos yang diandalkan menjadi lumbung suara Agus malah Agus yang berada di tempat terakhir dalam perolehan suara di TPS tersebut.

    Dari sini mungkin SBY sudah merasa di khianati dan sadar kalau beliau sudah di peralat. Apakah dukungan SBY kepada Ahok (walaupun tidak resmi) adalah bentuk dari balas dendam kepada FPI? Entahlah…


    Penulis :  Muhammad Hatim   Sumber : Seword c.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Temui Jokowi, SBY Dukung Ahok Secara Tak Resmi Sekaligus Balas Dendam Pada FPI? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top