728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 02 Maret 2017

    Telak !!! … Dadan, Si PPSU Itu Telah ‘Mempermalukan’ Anies

    Saya menulis tentang mas Dadan karena hal ini penting untuk ditulis dan disebarkan. Tulisan ini bukan untuk Anies-Sandi. Tidak. Orang yang sudah dibutakan oleh ambisi, sulit melihat kenyataan. Tulisan ini untuk seluruh warga Jakarta yang benar-benar ingin Jakarta menjadi ‘maju kotanya …. bahagia warganya’. Catet dan beri highlight: … selama ini Pak Basuki membangun manusia (baca:warga) Jakarta, mas Dadan adalah BUKTI NYATANYA …

    Pembunuhan karakter Basuki oleh Anies-Sandi, itu tindakan nista.

    Seluruh warga Jakarta dan seluruh masyarakat Indonesia perlu benar-benar menyadari bahwa mas Dadan adalah buah karya Pak Basuki dalam bidang pembangunan manusia. Publik perlu benar-benar mengerti, menyadari, dan memahami bahwa selama ini Anies-Sandi selalu melakukan pembunuhan karakter terhadap Pak Basuki. Hampir semua tulisan saya di Seword adalah usaha meng-counter opini sesat yang selalu didengung-dengungkan Anies terhadap Pak Basuki.  Ahok membangun manusia, Nies; debat atau kuliah politik; Menggugat Anies adalah beberapa tulisan saya untuk meng-counter opini Anies yang menyesatkan tersebut.

    Saya yang sebelumnya menjadikan Anies sebagai inspirator dan motivator, memilih untuk menjadi ‘pembela’ pak Basuki, yang sebenarnya tidak saya idolakan. Mengapa? Karena tindakan pembunuhan karakter adalah tindakan yang nista. Bangsa Indonesia tidak bisa dan tidak mungkin dibangun oleh manusia Indonesia yang bermental seperti itu. Hasil apakah yang bisa kita harapkan dari tindakan pembunuhan karakter? Tidak ada sama sekali!!! Bahkan kehancuran bangsa dan negara yang malah mungkin terjadi, bila perilaku nista seperti ini tidak dihentikan, tetapi dibiarkan terus. Apa yang dilakukan Anies dalam kontestasi pilkada DKI tak beda dengan apa yang dilawan oleh Anies sendiri selama kampanye pilpres 2014 lalu. Sungguh ironis.

    Pembangunan manusia: hasilnya tidak kasat mata

    Selama ini Pak Basuki sulit membuktikan apa yang sudah dilakukan untuk mengubah pola pikir, membangun etos kerja, membentuk karakter warga Jakarta, karena hasilnya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tidak seperti pembangunan infrastruktur yang hasilnya bisa lebih dipastikan dan kasat mata, pembangunan manusia hasilnya sulit dipastikan (sulit diukur dengan valid), selain karena tidak kasat mata, keberhasilannya juga tergantung obyek (baca : manusia) yang ‘dibangun’ etos kerjanya, karakternya, motivasinya. Semua tulisan ‘pembelaan’ saya untuk pak Basuki, juga tidak bisa menceritakan hasil (output) dari pembangunan manusia yang sudah dilakukan Pak Basuki. Hasil pembangunan manusia selalu tidak kasat mata, ada dalam diri manusianya.

    Syukurlah Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur). Muncullah Mas Dadan dengan aksi ‘heroik’-nya yang segera menjadi viral. Aksi Mas Dadan ini telah membuka kedok semua fitnahan dan kebohongan Anies-Sandi terhadap Pak Basuki. Aksi mas Dadan adalah hasil (output) pembangunan manusia yang berhasil dilakukan pak Basuki. Fitnahan bahwa selama ini Pak Basuki tidak peduli terhadap pembangunan manusia, terbantahkan dengan munculnya etos kerja (totalitas kerja) yang ditunjukkan oleh Mas Dadan, dengan tindakan yang sederhana tapi butuh pengorbanan. Ini adalah cerminan etos kerja Pak Basuki, yang tidak banyak bicara tapi mau berkorban untuk kepentingan warga Jakarta.

    Aksi mas Dadan adalah buah dari ….

        Kepedulian pak Basuki terhadap kesejahteraan warga miskin. Tenaga kerja harian lepas di Pekerja Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Pasukan Oranye’ mendapat upah sesuai upah minimum regional (UMR). Sebenarnya upah PPSU di atas UMR, karena mereka juga mendapat tambahan berupa BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan, fasilitas gratis TransJakarta, prioritas untuk tinggal di rusunawa, anak-anak mereka yang bersekolah mendapat fasilitas KJP. Bagaimana mungkin Anies-Sandi mengatakan Pak Basuki tidak peduli warga miskin??
        Sistem kerja dan pengorganisasian yang jelas. Ada 15 ribu PPSU (pasukan oranye) yang disebar ke tiap-tiap kelurahan untuk membersihkan sampah dan memelihara sarana umum lainnya, di bawah koordinasi Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Di setiap kelurahan ada 40-70 pasukan oranye, yang terbagi dalam 3 shift. Tugas masing-masing PPSU diatur oleh masing-masing Lurah, ada tupoksi : tukang bersih, tukang sapu, tukang angkut; sehingga tidak akan saling berbenturan. Pasukan oranye termasuk kelompok petugas pelayan masyarakat, artinya: bila ada petugas yang sedang libur namun terjadi bencana darurat, dia bisa dipanggil langsung oleh kelurahan untuk segera bekerja. Bagaimana mungkin Anies-Sandi mengatakan Pak Basuki adalah ‘one man show’?? Emang pak Basuki bisa mengurusi 15 ribu pasukan oranye sendirian?? MIKIR!!!



        Iklim kerja yang kondusif. Aturan kerja dan penilaian kinerja yang jelas dan terukur membuat masing-masing pasukan oranye bisa bekerja dengan nyaman. Tentu saja, dengan catatan, ini berlaku bagi mereka yang memang rajin bekerja. Bagi beberapa pegawai yang etos kerjanya tidak mau berubah mengikuti perubahan yang diterapkan oleh pak Basuki, aturan kerja dan penilaian kinerja yang jelas dan terukur malah menjadi momok yang ingin mereka hindari. Dalam acara MataNajwa 22 Februari 2017 lalu, pak Basuki mengatakan bahwa 80% PNS DKI Jakarta sudah mempunyai etos kerja yang baik, hanya pangkat mereka masih rendah, jadi masih butuh waktu untuk mencapai tingkatan eselon yang lebih tinggi, sehingga menjadi motor budaya kerja yang baik. Ini hanya soal waktu saja. Jika BADJA mendapat kepercayaan untuk melayani warga Jakarta, maka bisa dipastikan perubahan budaya kerja baru adalah sebuah keniscayaan. Bagaimana mungkin Anies-Sandi mengatakan Pak Basuki tidak membangun manusia?? Pak Anies sudah terlalu sering sengaja melakukan fitnah terhadap Pak Basuki. Ini persis dengan statement Pak Mahfud MD. Ngono yo ngono ning ojo ngono.

    Agar tidak terlalu panjang, kita cukupkan pembahasan ini dengan 3 hal yang sudah dilakukan pak Basuki, sehingga totalitas kerja PPSU dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga Jakarta.

    Pemimpin yang buruk peduli dengan siapa yang benar. Pemimpin yang baik peduli dengan apa yang benar.

    Dari pengakuan mas Dadan, banyak anggota PPSU melakukan hal yang sama yang dilakukannya. Artinya ada ‘Dadan Dadan’ lain di dalam PPSU. Dengan memperhatikan cara kerja Pak Basuki, kita bisa yakin bila ada banyak ‘Dadan’ dalam pasukan Biru, pasukan Hijau, dan pasukan Ungu … Untuk Pak Anies: berhentilah melakukan pembunuhan karakter terhadap pak Basuki. Anda seorang pendidik, berkompetisilah dengan elegan dan mendidik. Jangan seperti ini. Anda merendahkan nilai diri Anda sendiri, dan mengorbankan kesatuan dan persatuan Indonesia. …..

    Bravo Mas Dadan, Bravo PPSU, Bravo Pak Basuki …


    Butuh waktu beberapa tahun lagi untuk menuntaskan pembangunan warga Jakarta

    Apa yang sekarang kita lihat dalam tindakan mas Dadan dalam bekerja, mungkin masih perlu pembenahan di sana sini, terutama dalam mengikuti SOP kerja, demi keselamatan dan kesehatannya sendiri. Masih butuh pembinaan dan masih butuh waktu bertahun-tahun lagi agar etos kerja tersebut bisa berakar dan menjadi budaya kerja di seluruh jajaran dalam pemprov. DKI Jakarta. Membangun manusia tidak semudah membalik telapak tangan. BADJA butuh waktu lebih lama untuk menyempurnakan apa yang sudah dicapai sejauh ini.

    Totalitas kerja pak Basuki dalam bekerja ‘menular’ seperti virus dalam diri mas Dadan, yang juga menunjukkan totalitas kerja yang setara. Kalau yang dicontohkan bukan kinerja, tetapi kepintaran dalam bertutur kata santun dan manis doang untuk memfitnah orang lain, kira-kira ntar bagaimana hasil kerjaPPSU-nya, ya?? Titik titik aja deh …

    Ada baiknya warga Jakarta, yang di putaran pertama kemarin tidak pilih BADJA, dengan alasan sentimen keagamaan, sebaiknya berpikir waras dan cerdas untuk berganti pilihan. Mengapa? Mosok Anda-Anda mau terus-terusan di’peralat’ oleh PKS dan partai Islam lain berbasis agama, yang ada di belakang Anies-Sandi, sih … Partai-partai ini  mengusung calon pemimpin dari non-muslim di 22 wilayah pilkada, selain Jakarta. Jadi sudah sangat jelas dan cetar membahana bahwa penolakan terhadap pak Basuki, bukanlah karena agama Anda tidak membolehkan memilih pemimpin non-muslim, seperti yang di-gembor-gembor-kan selama ini. Sangat patut diduga, mereka yang berusaha terus menjegal pak Basuki, adalah mereka yang tidak bisa lagi mengorupsi uang yang menjadi hak Anda-Anda, warga Jakarta. Ini memang hanya dugaan belaka, tetapi patut dicermati. Masih ingatkan, dengan wajah Presiden PKS yang malah tersenyum tanpa penyesalan setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi import daging sapi itu.  Semoga Anda tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi …

    Ironisnya … seorang yang melindungi uang rakyat (uang Anda), dan memperjuangkan keadilan sosial bagi warga miskin (mungkin sebagian besar dari Anda), malah dimusuhi oleh orang yang dibela dan dilindunginya. Anda-Anda ini masih butuh bukti apalagi? Tirulah bu Suwarti yang amat sangat waras, walau mungkin pendidikannya tidak terlalu tinggi. Bu Suwarti sudah benar-benar menjadi bagian dari ‘maju kotanya …. bahagia warganya’. Siapa yang bisa menyangkal bahwa bu Suwarti tidak bahagia? (pakai kriteria bahagianya Anies lho)

    Masih mau Anda-Anda tidak bisa hidup makin sejahtera gegara Anda sendiri yang salah memilih pemimpin Jakarta?

    Hohoho … Ganti pemimpinnya saja, program BADJA dilanjutkan dengan Gubernur baru. Jangan termakan oleh provokasi Anies-Sandi yang memakai hasil survei dari lembaga survei yang titik titik itu: ‘Warga Jakarta ingin ganti Gubernur’. Walah … walah … walah … itu bukan hanya solusi tidak cerdas, tetapi itu Anda sudah ‘keblinger’ kuadrat. Lho koq dikatain ‘keblinger´kuadrat?. Kan di atas udah dijelasin bahwa ‘virus’ totalitas kerja Pak Basuki itulah yang menulari Mas Dadan dan ‘Dadan-Dadan’ yang lain. Kalau ‘virus’ yang ada adalah suka memfitnah dan penuh retorika nan santun, kira-kira yang akan ‘ditularkan’ ke Mas Dadan dan ‘Dadan-Dadan’ yang lain? Paham kan ….  Kata orang bijak, yang terpenting adalah ‘The Man behind The Gun’.

    Pahamilah mengapa Presiden Jokowi ‘terpaksa’ memecat Pak Anies sebagai Mendikbud. Kualifikasi pak Anies cocok untuk jabatan juru bicara, bukan untuk menjadi pemimpin departemen/daerah, yang sekaligus harus berperan sebagai executor dan administrator. Mampukah Anies memimpin Jakarta, bila saat menjadi menteri, Anies tidak mampu membenahi data pelajar penerima KIP, sehingga pendistribusian KIP tidak optimal di masanya? Bandingkan dengan kinerja Menteri Sosial, Ibu Kofifah Indarparawansa, yang mau dan mampu turun ke lapangan untuk terus menerus dan secara berulang-ulang melakukan validasi data-data warga miskin; bahkan sampai melibatkan Bappenas dan Kemenkeu. Tanpa diberi tahu, bu menteri sosial ini mengetahui bahwa data warga miskin adalah prioritas utamanya untuk dikerjakan dengan serius, dan bagaimana mewujudkannya. Perlahan tapi pasti data warga miskin yang dimiliki Kemensos makin valid. Kualifikasi merancang dan membangun sistem semacam inilah yang tidak dimiliki oleh seorang Anies. Kalau dalam sebuah klub sepak bola, Pak Anies tidak cocok jadi pemain, apalagi pelatih yang harus mengatur strategi. Anies cocoknya di bagian media relation atau public relation.

    Penutup

    Last but not least  perbanyaklah sholat dan mintalah agar diberi kesehatan yang baik dan umur panjang. Mohonlah agar Anda diberi kesempatan men-sholatkan mereka yang tidak mau men-sholatkan para pemilih pak Basuki. Dengan demikian Anda tidak perlu kuatir akan ada jenazah yang tidak disholatkan. Damai di bumi Damai di hati.

    Salam i’m nobody alias kulo sanes sinten sinten

    Penulis   :  Arif Budi Darmawan Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Telak !!! … Dadan, Si PPSU Itu Telah ‘Mempermalukan’ Anies Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top