728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 03 Maret 2017

    Strategi Cerdas Jokowi Manfaatkan Saudi: Bangun Kilang Minyak Tanpa Biaya

    Ternyata, Arab Saudi datang ke Indonesia bukan untuk jualan agama, sebagaimana yang dikhayalkan dengan indah masyarakat bumi datar. Jualan agama takkan bisa membantu krisis yang sedang mereka hadapi. Apalagi harga minyak sedang terjun bebas juga kerugian akibat perang melawan Yaman yang sangat membengkak.

    Kedatangan Saudi kesini adalah untuk bisnis. Bisnis adalah alasan mereka datang dengan 1500 orang. Indonesia dipandang sebagai pasar yang potensial di tengah terpuruknya harga minyak dunia. Mengapa? Karena konsumsi bahan bakar negeri ini memang mengerikan. 1,6 juta barrel perhari, bukankah ini angka yang sangat fantastis, dengan kemampuan mandiri hanya sebesar 800 ratusan barrel perhari?

    Pertanyaan yang selalu menggantung saat kita membicarakan minyak adalah mengapa kita terus saja tergantung pada impor minyak? Mengapa kita tidak bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri? Toh, kita punya cadangan minyak kok?

    Jawabannya sederhana karena kita tidak mampu mengolahnya. Kita tidak punya kilang-kilang pengolahan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kita. Kita hanya mampu memenuhi separuh dari kebutuhan nasional.

    Lalu pertanyaan berikutnya, mengapa kita tidak bangun saja banyak kilang-kilang minyak agar bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri?

    Sebelum Jokowi jadi Presiden, yang membuat kita bergantung pada impor adalah keberadaan Petral. Petral adalah alasan kita tidak bisa membangun kilang pengolahan minyak. Tanya saja Pak Hatta Rajasa. Sepuluh tahun menjabat sebagai Menteri ESDM tapi enggak bisa juga bangun kilang minyak yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

    Akhirnya, bergantung pada impor. Ditambah lagi, impor ini hanya menguntungkan beberapa pihak. Dengan sistem Petral yang seperti “makelar minyak”, ongkos pembelian pun menjadi membengkak. Bayangkan saja, selama 3 tahun terakhir, Petral mengantongi uang sekitar 250 triliun.

    Bukankah ini ladang yang amat basah? Hingga tumpah-tumpah uang negara terbuang begitu saja, akibat keberadaan Petral ini. Melihat potensi yang menggiurkan ini, tentu siapa yang mau untuk memutus siklus ketergantungan kita pada impor minyak?

    Setiap krikil yang menghalangi aktivitas Petral akan disingkirkan. Kekuatan uang yang begitu besar, takkan sanggup untuk melawan duri dalam daging ini.

    Mengapa bos Petral sampai ketakutan dengan kehadiran Jokowi di panggung Pilpres 2014? Karena, kalau Jokowi yang jadi Presiden, Petral adalah yang pertama jadi sasaran tembak. Dan benar saja. Setelah terpilih menjadi Presiden, Jokowi langsung membuat Tim Reformasi Tata Kelola Migas. Perang pun dimulai. Banyak pihak yang menghadang dari segala sisi. Tapi, Petral harus mengakui bahwa Jokowi bukan orang sembarangan.

    Setelah Petral dibubarkan, dimulailah planning untuk membangun kilang. Tentu, yang namanya membangun butuh uang. Sementara pembangunan infrastruktur seperti jalan di Indonesia Timur, juga Listrik lebih sangat dibutuhkan. Dicari-carilah cara agar dapat membangun tanpa mengeluarkan uang.

    Bukan Jokowi namanya kalau tidak bisa melakukan itu. Toh, ia juga berhasil membangun rusun tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, dengan cara memanfaatkan kompensasi kenaikan koefisien luas bangunan (KLB). Dengan cara seperti inilah Jokowi akan memainkan strategi cantiknya untuk memutus ketergantungan terhadap impor minyak.

    Digandenglah Arab Saudi yang tengah mengalami krisis. Baik karena harga minyak yang tengah terjun bebas, maupun kerugian besar akibat perang. IMF sudah memprediksi bahwa 3 tahun lagi Saudi bakal bangkrut. Tentu, ini sinyalemen yang mengharuskan Saudi untuk menjalin persahabatan dengan tetangga-tetangganya.

    Dibujuklah negera-negara calon investor untuk membeli sahamnya yang anjlok. Apakah mereka mau? Tentu saja tidak. Karena tidak ada jaminan sahamnya bakal membaik. Maka, diliriklah Indonesia sebagai pasar yang kagak ada matinya. Diberitahukanlah kepada calon investornya bahwa ia punya pasar yang akan terus membeli minyaknya. Sebuah jaminan yang menggiurkan.

    Sepakatlah mereka. Kini giliran bersepakat dengan Indonesia. Kebetulan, Indonesia juga sedang memerlukan biaya untuk membangun kilang dalam negeri. Akhirnya, dibuatlah kesepakatan untuk membuat sebuah perusahaan patungan untuk membangun kilang minyak. Saudi sediakan uang, dan Indonesia sediakan tempat. Pembelinya sudah pasti, pasar domestik.

    Akhirnya. Deal! Akan dibangun kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah, dengan nilai proyek sebesar US$ 6 miliar atau senilai RP 80 triliun.

    Kita akhirnya dibuat takjub lagi oleh kecerdasan Presiden kita yang ndeso itu. Gaya boleh kaki lima, tapi otak bintang lima.



    Penulis :  Muhammad Nurdin  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Strategi Cerdas Jokowi Manfaatkan Saudi: Bangun Kilang Minyak Tanpa Biaya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top