728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 30 Maret 2017

    Spanduk Politisasi Mayat dan Jurus Culas Lempar Batu Sembunyi Tangan

    Pernyataan mantan Menteri Komunikasi dan Informasi era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Tifatul Sembiring ketika berkomentar mengenai spanduk provokatif  yang bersebaran di sebagian wilayah Jakarta menjelang Pilkada Putaran Ke-2, menarik untuk disimak. Melalui akun Twitternya, Tifatul awalnya berkomentar soal ayam peliharaannya yang telah menetas, kemudian menyindir soal spanduk (sumber).

        “Alhamdulillah, ayam katenya menetas 4 ekor. Ada juga manfaatnya, daripada ngurusin spanduk-spanduk yang mereka pasang sendiri, suruh orang nyopot,” kata Tifatul dalam Twitter-nya, @tifsembiring, Selasa (28/3).

    Kalimat yang di tulis pengganti Presiden PKS Hidayat Nur Wahid ini sebenarnya bermaksud untuk merespon ucapan Djarot mengenai keberadaan spanduk provokatif yang tersebar di beberapa wilayah Jakarta. Menurut Djarot, seharusnya ulama, tokoh agama turun tangan, paling tidak memberikan imbauan, bukan terkesan membiarkan dan mengajak untuk bersama-sama turun tangan membantu Kepolisian dan Pemprov. Pemprov DKI sendiri telah mencopot 147 spanduk bernada provokatif selain itu Djarot juga menghimbau agar Satpol PP dan warga juga ikut menurunkan spanduk-spanduk yang dapat memecah belah kerukunan warga itu.

    Cuitan Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera ini jika kita simak berisi dua hal:

    Pertama, menyindir Presiden Jokowi ketika lewat vlognya mengunggah video tentang kelahiran kambing yang beliau pelihara di Istana Negara.

    “Pagi ini saya merasa gembira sekali. Alhamdulillah, tadi pagi telah lahir lagi dua anak kambing yang saya pelihara. Coba, lucu-lucu ini,” kata Jokowi.

    Bagi saya, Jokowi selalu menyelipkan sebuah “kode” yang memiliki makna bagi orang yang menonton dan menyimak video atau foto-fotonya. Kode itu bisa kita temukan pada pakaian dan aksesoris yang Beliau kenakan, pada gerakan maupun kalimat yanga diucapkan. Dan dalam vlog tentang kelahiran anak kambing peliharaannya, Jokowi menyelipkan kalimat penuh makna dari suatu peristiwa kelahiran seperti yang beliau sampaikan:

        “Kelahiran ini adalah rahmat dari Allah, rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan kelahiran adalah sebuah pembaruan, amanah, dan berkah yang bermakna optimisme untuk masa depan. Di mana ada optimisme, di situ ada kecintaan,” ujar Jokowi.

    (Sumber)

    Jika dibandingkan dengan vlog Jokowi tentang kelahiran anak kambingnya, lantas makna apa yang kita tangkap dari Tifatul melalui cuitannya? Manfaat apa yang dapat beliau ungkapkan dari telur Ayam Kate yang sudah menetas tersebut? Menurut saya tidak lebih dari sebuah sindiran atau lebih tepatnya nyinyiran  tanpa makna. Di dalam benak Tifatul mungkin sedang gerah karena Jokowi sedang bercanda ria dengan kambing-kambingnya di saat ada banyak masalah di Republik ini. Mungkin Bapak pemilik tujuh orang anak ini juga terinspirasi dari sang maestro, maharaja sosial media yang menguasai kaum sumbu pendek penghuni planet datar Jonru Ginting yang sebelumnya juga nyinyir melihat Jokowi bercengkrama ria dengan kambing-kambing kesayanganya. (Sumber)

    Kedua, selain menyindir, Tifatul sembiring melalui account twitternya @tifsembiring juga melontarkan pernyataan yang terkesan menuduh. Selain tidak menjelaskan apa manfaat dari menetasnya telur Ayam Kate, Tifatul melanjutkan cuitannya “daripada ngurusin spanduk-spanduk yang mereka pasang sendiri, suruh orang yang nyopot”.  Pertanyaannya siapa menurut Tifatul yang memasang sendiri berbagai spanduk ini? Jika kalimat ini dilontarkan untuk mengomentari Djarot maka secara tidak langsung, Tifatul menyebut spanduk-spanduk provokatif itu dipasang sendiri oleh pendukung atau tim sukses pasangan nomor 2. Tifatul seolah-olah mengatakan bahwa spanduk-spanduk tersebut bukan dipasang oleh timses atau pendukungnya Anies-Sandi.

    Akan semakin menarik jika kita juga memperhatikan pernyataan senada yang dilontarkan Anies Baswedan di acara “Mata Najwa: Babak Final Pilkada Jakarta”. Menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh salah satu netizen tentang kesan pembiaran terhadap berbagai spanduk provokatif, Anies menjawab bahwa yang pasang spanduk bukan tim ataupun pendukungnya dan menurutnya timses pasangan nomor 3 sudah melakukan pelarangan memasang spanduk provokatif tersebut secara tertulis.

    Memang benar ada pelarangan tertulis tapi itu mereka lakukan setelah banyaknya hujatan di sosial media dan viral di kalangan netizen. Waktu yang terpaut cukup lama antara pemasangan spanduk provokatif yang berisi penolakan untuk mensholatkan dan mengurus jenazah pendukung Ahok tersebut dengan terbitnya pelarangan dan himbauan tertulis dari pasangan calon nomor 3 inilah yang kemudian terkesan dibiarkan. Mereka sengaja membiarkan agar para pemilih Ahok-Djarot terintimidasi, merasa takut dan tujuan akhirnya akan memilih pasangan Anies-Sandi.

    Sayangnya di era komunikasi yang serba terbuka ini, taktik pendukung dan timses nomor 3 ini bisa dibilang GATOT KACA (GAgal TOTal dan KACau Akut). Pemberitaan yang viral tentang penolakan jenazah pendukung Ahok membuat mata rakyat DKI Jakarta yang waras terbelalak juling. Banyak yang tidak percaya hanya gara-gara sebuah even yang pemilihan kepala daerah sampai orang yang sudah meninggal pun masih saja dipolitisasi. Tidak heran jika akhirnya mulai banyak yang antipati terhadap paslon ini, kesan santun, ramah perlahan mulai rontok akibat banyaknya spanduk-spanduk tersebut. Akhirnya penolakan terhadap politisasi jenazah ini juga semakin gencar dan massive dilakukan berbagai kalangan baik dari pada ulama, Menteri Agama, Kepolisian dan kalangan lainnya.

    Pada akhirnya intimidasi melalui politik mayat ini gagal, serupa dengan gagalnya politisasi ayat  lewat kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan oleh Ahok yang mana di persidangan terakhir, dengan semakin banyaknya saksi ahli yang menganggap tidak ada penodaan yang di lakukan oleh Ahok, maka semakin terang benderang bahwa dugaan penodaan agama hanya merupakan aksi akrobat para politisi busuk, dan kelompok penjual ayat yang merasa Ahok harus segera disingkirkan segera mungkin dari belantara politik di Jakarta dan Indonesia.

    Dari taktik jualan ayat berlanjut ke teknik demo sampai berkarat lalu pindah ke politisi mayat yang sama-sama gagal total ini pada akhirnya mereka mengeluarkan jurus culas andalannya yaitu “Lempar Batu Sembunyi Tangan”, mereka yang melakukan tapi menuduh orang lain yang berbuat persis seperti yang diungkapkan oleh Tifatul dan Anies Baswedan.

    Terakhir, saya titip pantun buat Pak Sembiring sekedar hadiah buat Beliau yang hobi dalam berpantun.

        Pak Yayat naik bemo tangannya tersayat

        Tercabik batu ketika sampai di Balik Papan

        Dari jualan ayat lalu ke demo sampai berkarat dan lanjut ke politisi mayat

        Ehh….. sekarang malah lempar batu sembunyi tangan, terus kapokmu kapan?

    Salam Seword


    Penulis :  Aliem Suryanto   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Spanduk Politisasi Mayat dan Jurus Culas Lempar Batu Sembunyi Tangan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top