728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 15 Maret 2017

    Sisi Kelam Tommy Soeharto Sang Pendukung Anies, dari Koruptor Sampai Pembunuh Hakim Agung

    Membicarakan tentang Tommy Soeharto memang tidak pernah membosankan. Anak mantan Presiden RI ke dua, yang pernah berkuasa selama 32 tahun ini lahir dan besar pada masa kejayaan orde baru (orba).

    Berbagai sepak terjang seorang Tommy Soeharto bak film laga Hollywood. Harta, tahta, wanita, dan darah mewarnai masa muda sang pangeran kesayangan dinasti Cendana ini. Satu hal yang tak terbantahkan: Tommy adalah manusia yang hebat, tapi juga sangat berbahaya!

    Berikut kronologi singkat sepak terjang seorang Tommy Soeharto pada kasus yang membuatnya masuk penjara:

    22 September 2000, Hakim Agung Mahkamah Agung (MA), Syafiuddin Kartasasmita, memvonis Tommy bersalah atas kasus tukar guling PT Goro dan Bulog. Tommy diganjar penjara 18 bulan, denda Rp 10 juta dan wajib bayar ganti rugi Rp 30 miliar.

    2 November 2000, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak permohonan grasi Tommy Soeharto. Hebatnya setelah ditolak, satu hari kemudian, yaitu tanggal:

    3 November 2000: Tommy Soeharto berhasil kabur dari penjara.

    26 Juli 2001: Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita tewas ditembak ketika sedang berangkat kerja. Saksi mata menyebutkan almarhum ditembak dua orang yang mengendarai sepeda motor. Peluru menembus dada dan rahang kanan. Syafiuddin pun meninggal di tempat kejadian.

    6 Agustus 2001: Ditemukan senjata api, bahan peledak dan dinamit di sebuah rumah di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kapolda Metro Jaya, Sofjan Jacoeb, mengatakan Tommy Soeharto sebagai tersangka pembunuh Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita dan beberapa kasus peledakan bom di Jakarta.

    7 Agustus 2001: Polisi menangkap Mulawarman dan Noval Hadad, dua tersangka penembak Hakim Agung Syafiuddin, yang akhirnya mengaku membunuh atas perintah Tommy Soeharto.

    28 November 2001: Tim kobra yang dipimpin KomPol Tito Karnavian menangkap Tommy Soeharto di sebuah rumah di daerah Tangerang saat Tommy sedang tertidur.

    Akhirnya Noval dan Mulawarman divonis hukuman seumur hidup, anehnya Tommy hanya divonis 15 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hebatnya lagi, setelah dikorting sana sini, Tommy akhirnya bebas bersyarat setelah menjalani masa tahanan kurang lebih 5 tahun saja.

    Selama di dalam tahanan, Tommy juga mendapat banyak perlakuan istimewa, seperti:

        Dapat keluar masuk tahanan setiap bulannya, dengan alasan menjalani perawatan dengan sakit yang berbeda-beda.
        Berkali-kali tampak mengunjungi ayahnya, Soeharto di kediaman Jalan Cendana, Jakarta Pusat.
        Beberapa kali juga terlihat mengunjungi rumah peristirahatan, di Vila Bali, kawasan Sentul Puncak, Bogor.
        Pernah menggelar pertandingan bulutangkis Tommy Cup.
        Remisi 5 bulan setiap tahun, sehingga dari 12 bulan hanya perlu dijalani 7 bulan setiap tahunnya. Sebelum akhirnya dibebaskan bersyarat pada September 2006.

    Dari sini kita paham bahwa Tommy Soeharto, dengan segala kekuasaan dan uang yang dimilikinya, mampu ‘membeli’ orang-orang di sekitarnya, baik itu sekedar pembunuh berdarah dingin, maupun aparat penegak hukum.

    Kini, Tommy yang lahir dan besar di singasana emas tidak mampu berdiam diri lebih lama lagi. Ketika Jokowi naik menjadi Presiden RI, berbagai gebrakan dilakukan sang Presiden telah membuat gerah sang Pangeran. Puncaknya ketika Tommy mengikuti program tax amnesty, September 2016. Saat itu, walaupun tidak dapat dipastikan semuanya berasal dari Tommy, tapi uang tebusan yang dicatat Direktorat Jenderal Pajak langsung melonjak naik Rp 600 Milyar.

    Pada kontestasi Pilkada Jakarta, jejak-jejak keterlibatan Tommy mulai terendus saat penangkapan Firza Huzein, Ketua SSC (Solidaritas Sahabat Cendana) dini hari tanggal 2 Desember 2016. Ketika Firza ditetapkan sebagai tersangka dugaan makar, Tommy pun langsung ‘membuang’ Firza dengan melayangkan dobel somasi yang intinya tidak mau disangkut pautkan dengan Firza.

    Setelah memasuki putaran kedua Pilkada Jakarta yang akan memasuki puncaknya saat pencoblosan nanti tanggal 19 April 2017, Tommy Soeharto pun mulai tidak malu-malu menunjukkan keberpihakan terhadap paslon Anies Sandi. Selain Tommy, Titiek Soeharto, mantan isteri Prabowo Subianto sudah lebih dulu menunjukkan dukungan terhadap Anies Sandi. 
    sumber: detik.news.com
    Ada beberapa hal yang patut digaris-bawahi disini:
    1. Diduga Dukungan Dinasti Cendana memakai tangan-tangan ormas Islam garis keras, seperti FPI, GNPF-MUI, dll. Berikut fotonya: Image result for tommy makan malam rizieq
    2. Oknum MUI ditenggarai ada yang mendukung Tommy Soeharto, contoh yang sangat jelas adalah Ustadz Tengku Zulkarnaen. Berikut foto screenshot kicauan Ustadz Tengku di akun Twitter miliknya @UstadTengku (kini akun tersebut sudah di non aktifkan): 
    Mengingat kentalnya isu SARA yang dimainkan paslon Anies Sandi selama ini. Jika ditambah dengan dukungan dana yang kabarnya unlimited dari Dinasti Cendana, menjadikan ajang Pilkada Jakarta ini luar biasa berbahaya.

    Tommy tahu jika ingin memuluskan langkahnya menjegal Jokowi, maka Ahok harus ditumbangkan terlebih dahulu. Ahok hanyalah ‘ikan kecil’ yang sedang diumpankan untuk memancing ‘ikan besar’. Pertanyaannya, akankah usaha Tommy kali ini berbuah manis? 

    #edisimenolaklupa

    Do not forget history..

    Penulis : Rohmat Tri Santoso    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sisi Kelam Tommy Soeharto Sang Pendukung Anies, dari Koruptor Sampai Pembunuh Hakim Agung Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top