728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 09 Maret 2017

    Sidang ke-13 Ahok: Ucapan Ahok Tidak Ada Pidananya, Begini Penjelasan Hukumnya

    Ketua Jaksa Penuntut Umum, Ali Mukartono menyatakan bahwa ucapan Ahok yang menyerempet Al-Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara tidak berdiri dan saling berkaitan. Saling berkaitan dikaitkan dengan kekalahan Ahok saat mengikuti Pilgub Bangka Belitung, namun sesungguhnya pernyataan Ketua tim Jaksa Penuntut Umum, keliru dan menyesatkan secara hukum, dikarenakan:

    Kekalahan Ahok dalam Pilgub Bangka Belitung tidak ada kaitannya dengan Ahok yang menyenggol surat Al-Maidah di Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016, karena itu adalah dua fakta hukum yang berbeda, sehingga secara hukum ucapan Ahok yang menyerempet Al-Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka, adalah bentuk perbuatan hukum yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak saling berkaitan dengan kekalahannya dalam Pilgub Bangka Belitung. Dan jika dibedah dari unsur dengan sengaja yang tercantum dalam Pasal 156a KUHP, unsur itu sudah tidak terpenuhi, karena ucapan Ahok dalam pidatonya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tidak ada pidananya, dan Ahok tidak pernah menodai agama Islam, dikarenakan Ahok hanya berbicara berdasarkan pada fakta hukum dan pernah mengalaminya sendiri saat mengikuti Pilgub Bangka Belitung beberapa tahun yang lalu.

    Karena fakta hukum pertama di Bangka Belitung, Ahok kalah disebabkan  adanya aksi-aksi penyebaran selebaran yang berisi larangan memilih pemimpin dengan menggunakan Al-Maidah ayat 51,  yang artinya ada oknum politisi-politisi yang sengaja menyebarkan selebaran dengan satu tujuan utama, yakni Ahok kalah, karena jika tidak ada kesengajaan untuk membuat Ahok kalah, tidak akan ada aksi penyebaran selebaran yang bermuatan SARA dan menghasut masyarakat Bangka Belitung, sehingga akibatnya tujuan utama lawan politik Ahok berhasil  membuat masyarakat Bangka Belitung terprovokasi dan mengikuti ajakan-ajakan agama yang bermuatan politik tersebut, hingga berakibat kekalahan Ahok ditambah lagi terjadi penggelembungan suara yang merugikan Ahok.

    Itu fakta hukum di Bangka Belitung yang menjadi penyebab utama kekalahan Ahok, jadi Jaksa Penuntut Umum terlalu bodoh jika mengaitkannya dengan selebaran SARA saat Pilgub Bangka Belitung. Sedangkan dalam fakta hukum kedua, yang menyebabkan Ahok jadi terdakwa adalah karena adanya perbuatan jahat yang dilakukan oleh Buni Yani yang melakukan transkrip video pidato Ahok , dengan cara menghilangkan kata ‘’pakai’’, karena jika kata ‘’pakai’’ itu tidak dihilangkan oleh Buni Yani, Ahok tidak akan jadi terdakwa. Karena dengan adanya kata ‘’pakai’’ yang digunakan Ahok saat berpidato dalam rangka budidaya ikan kerapu, kata ‘’pakai’’ itulah yang mengindikasikan tidak ada penodaan agama.

    Dan jika sebelumnya ada yang mempertanyakan mengapa Ahok menyenggol Al-Maidah saat sosialisasi budidaya ikan kerapu, maka jawabanny adalah karena Ahok ingin memberitahu masyarakat yang mendengar pidatonya, bahwa dalam Pilgub Bangka Belitung 2007 lalu, Ahok pernah terjegal akibat penyebaran selebaran yang menyangkut Al-Maidah, dan apa yang disampaikan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pads 27 September 2016 lalu, adalah didukung dengan alat bukti hukum yang telah terungkap dalam persidangan ke-13 kemarin, yakni berdasarkan kwterangan saksi Eko Chayono, Cawagub Bangka Belitung 2007.

    Munculnya laporan-laporan dari para saksi pelapor terjadi setelah tersebarnya dan viralnya video pidato Ahok yang telah ditranskrip lebih dulu oleh Buni Yani, disinilah sumber masalah utamanya. Dan jika jaksa penuntut umum menyatakan bahwa ada rangkaian pernyataan Ahok soal Al-Maidah, Ahok telah memposisikan Al-Maidah sebagai penghambat dan mengaitkan itu semua dengan kekalahan Ahok dalam Pilgub Bangka Belitung, Jaksa Penuntut Umum sungguh memalukan, dikarenakan fakta hukumnya yang terjadi di Bangka Belitung berbeda dengan yang membuat Ahok terjadi terdakwa, karena di Bangka Belitung bukan Ahok yang memainkan Al-Maidah sebagai alat kepentingan politik tapi justru lawan-lawan politik Ahok yang memainkan Al-Maidah ayat 51 lewat selebaran yang disebar kemana-mana , sehingga bagaimana logikanya jika Ahok yang non-muslim malah memainkan Al-Maidah ayat 51 saat Pilgub Bangka Belitung?

    Pemahaman Jaksa Penuntut Umum, sungguh menggelikan, karena kekalahan Ahok di Bangka Belitung terjadi karena adanya pemanfaatan Al-Maidah ayat 51, untuk kepentingan politik dalam rangka mengalahkan Ahok, hingga benar-benar berujung dengan kekalahan Ahok, dan kekalahan Ahok di Bangka Belitung tidak ada kaitannya sama sekali dengan ucapan Ahok yang menyinggung Al-Maidah di Pulau Pramuka, dan tidak ada rangkaian apa-apa soal Al-Maidah dari Ahok. Ahok menyenggol Al-Maidah memang benar, tetapi yang memulai menyenggol Al-Maidah adalah oknum politisi yang berhasil mengalahkan Ahok saat Ahok mengikuti Pilgub Bangka Belitung saat itu, dan itu artinya tidak ada pidana dalam ucapan Ahok. Satu hal lagi yang perlu dipahami, bahwa Ahok menyenggol Al-Maidah ayat 51 hanya membicarakan fakta hukum yang menyebabkan kekalahannya di Bangka Belitung, dan itu sudah dikuatkan dengan keterangan saksi Eko Cahyono, yang saat itu sebagai Calon Wakil Gubernur Bangka Belitung, yang mendampingi Ahok. 

    Jadi Ahok bicara berdasarkan bukti hukum, karena didukung oleh keterangan saksi. Sedangkan yang terjadi di Kepulauan Seribu, menjadi masalah hukum bagi Ahok, dikarenakan Buni Yani, jika tidak ada Buni Yani, maka Ahok tidak akan pernah menjadi terdakwa, dikarenakan jika mau bicara hukum, maka yang melakukan penodaan terhadap agama Islam bukan Ahok,  tetapi Buni Yani , dikarenakan telah sengaja menghilangkan kata ‘’pakai’’ dalam video pidato Ahok. Karena jika kata ‘’pakai’’ dihilangkan, maka otomatis akan mengubah makna dari apa yang telah disampaikan oleh Ahok, yang sebenarnya tidak bermuatan penodaan agama sama sekali, tiba-tiba seolah-olah menjadi bermuatan penodaan agama setelah kata ‘’pakai’’ itu dilenyapkan secara paksa oleh Buni Yani.


    Penulis : Ricky Vinando   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sidang ke-13 Ahok: Ucapan Ahok Tidak Ada Pidananya, Begini Penjelasan Hukumnya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top