728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 09 Maret 2017

    SBY Sedikit Tersenyum, Jokowi Bermain “Cantik”

    Saat mantan Presiden SBY melakukan pidato di Cikeas (2/11) dan dengan tegas dia mendukung Aksi 4 November 2016.

    Apa yang dilakukan SBY ini justru membuka separuh pertanyaan besar “Siapakah Dalang Gerakan 4 November 2016”. Walaupun dalam redaksi pidatonya SBY menolak dan membantah keras bahwa dirinya di balik Gerakan 4 November 2016, namun secara tersirat ada makna dibalik Pidato, yaitu dukungan bulat terhadap gerakan itu. Kata-kata “Lebaran Kuda” menjadi kunci dari makna aksi 4 November 2016.

    Kemudian tentunya kita juga masih mengingat jumpa pers SBY ketika namanya terbawa dalam sidang Ahok, dimana sidang pada saat itu ketua MUI yang menjadi saksi, dan disebut adanya percakapan antara Ma’ruf Amin dengan SBY. Hingga SBY turun gunung dan sebut ada yang menyadap. Pada saat itu juga SBY sangat menginginkan bertemu dengan Jokowi.

    SBY sudah beberapa kali bicara di publik menyatakan betapa ia ingin sekali bertemu dengan Presiden Jokowi. Hari ini keinginan itu terwujud dan bisa terpenuhi.

    Pertemuan SBY dan Jokowi dinanti banyak pihak. Maka menjadi wajar banyaknya argument dan opini yang pro-kontra. Apalagi hubungan keduanya terkesan memanas dan berseberangan selama putaran pertama Pilgub DKI dan adanya kasus “penodaan agama” versi FPI yang menimpa Ahok.

    SBY kerap kali menyebut nama Presiden Jokowi atau pemerintah dalam beberapa masalah yang dihadapinya, di antaranya soal dugaan penyadapan dan demonstrasi mahasiswa di kediamannya di Mega Kuningan. Hingaa di akun twitternya ia bertanya pada pak Presiden dan Kapolri.

    Kita menyepakati bahwa SBY mempunyai karakter dengan gaya curhat, ketika ada polemik dan problem yang sedang menimpa dirinya. Hal ini pun dilakukannya saat ketika menjadi Presiden dan sangat kontras sekali dengan Jokowi yang selalu optimis dan realitis.

    Hari ini SBY yang juga merupakan petinggi Demokrat akhirnya bertemu dengan Jokowi. Adapun yang saya simak ketika keduanya jumpa pers. SBY seperti merasa sangat bahagia. Bahkan ia juga mengatakan akan selalu berusaha memenuhi undangan Istana jika ia diundang. Ia juga memuji Jokowi tentang kedatangan Raja Salman.

    Apa yang saya prediksi usai pilkada DKI putaran 1 dimana AHY gagal atau kalah. Sedikit terjawab juga hari ini. Dimana seperti kita ketahui dibelakang Agus ada SBY, dibelakang Anies ada Prabowo, dan dibelakang Ahok ada Megawati, sementara Jokowi adalah bagian dari Megawati. Isu agama yang dimainkan justru tidak membuat Ahok turun elektabilitasnya, bahkan Ahok tetap memimpin diputaran pertama.

    Masuknya Anies diputaran kedua, banyak menyebutkan bahwa Anies akan didukung kubu AHY (SBY). Namun perlu kita ketahui, SBY piawai bermain strategi. Banyak hal yang menyeret nama SBY belakangan ini, baik dari proyek yang mangkrak di era kepemimpinannya, disebut juga dalang Mobilisasi Massa, sampai ke “lebaran kuda”. Ditambah lagi Putra kesayangannya gagal dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta. Dekat dengan pemerintah yang berkuasa tentu lebih strategis dibanding ke Prabowo dan PKS.

    Dengan itu semua, SBY tentunya butuh suatu hal untuk mengembalikan nama baiknya. Tapi entah jika Agus menang diputaran pertama, tentu juga akan berbeda ceritanya. Untuk membuat dirinya kembali diterima publik, dan sedang dalam lingkaran terdesak, SBY butuh dekat dengan penguasa hari ini yaitu Jokowi. Sementara disisi lain hubungan SBY dan Prabowo kurang begitu harmonis sejak Pilpres 2014.

    Jokowi memang cerdas dan bermain “cantik”, setiap perhitungan serta pertimbangan yang ia lakukan untuk melakukan sesuatu selalu sadar konteks, dan jeli melihat suasana dan kondisi yang sedang terjadi. Pertemuan dengan SBY justru ia penuhi di saat masa kampanye putaran ke dua Pilkada DKI, hal ini tentu membuat kubu Prabowo yang menjagokan Anies sedikit garuk kepala. Jelas saja, Anies-Sandiaga butuh suara dari kubu SBY.

    Sebagian partai besar pendukung Agus sudah mendekati Ahok, sebut saja seperti PKB. Meski Demokrat sendiri masih memposisikan diri untuk berada ditengah. Setidaknya pertemuan Jokowi dan SBY akan memberi kesan yang berbeda.

    Buat SBY, saya rasa dan pikir, anda perlu banyak belajar dengan Jokowi. Namun yang perlu diingat bukan berarti pertemuan ini untuk menyelamatkan kasus korupsi terhadap proyek yang mangkrak. (wkwkwk). Karena Jokowi tentunya menyadari konteks pertemuan dengan SBY hari ini, sederhananya memenuhi permintaan SBY yang ingin sekali bertemu. Jokowi “keras kepala” kagak bisa diatur, disetir, Lho saya pemimpin kok. Hohoho.

    Susilo Bambang Yudhono mengakui, selama ini ada kesan ketegangan antara Istana Merdeka dengan Cikeas.

    “Karena jarang bertemu, mungkin saja ada informasi-informasi yang tidak sepatutnya,” kata SBY.

    “Dan pertemuan ini merupakan ajang tabbayyun (klarifikasi),” katanya.

    Hahahaha , waktu itu sebut ada yang menghalangi Jokowi untuk bertemu. Disebutin dong pak SBY siapa orang-orang itu biar makin bahagia, gitu loh .

    Oh yak pak SBY silakan twitt pertemuan hari ini ya, tapi yang tersenyum, seperti senyum bahagia hari ini. Hachimmmmmm.


    Sikk sikkkk tak Ngguyu sikkkk “Saya bertanya pada Bapak Presiden?” 🙂 🙂

    Nah kita sudah bertemu, ojo baper lagi ya, malu lah… kan anda juga sudah ngalami menjadi Presiden, coba artiin dulu maksud lebaran kuda itu piye? Kalau mau bermain yo mbok yang cantik

    Burung apa yang pandai bicara, seingat saya burung Beo, kalau burung beo menyaksikan ini, bisa jadi akan berbicara “kekok… kekok kode pendukung AHY, kekok… kekok si Manies garuk kepala”

    Setelah pertemuan tersebut, eh Pak Jokowi bertemu dengan Raisa, si Raisa dapat sepeda pula, Raisa kan penyanyi beneran, bukan yang asal nyanyi saat tersudutkan, enigma (teka-teki) apalagi ini. Akhhh mungkin hanya kebetulan. Memang “cantik”.

    Pertemuan Jokowi dan SBY hari ini tentu ada nuansa Politik, waktu bertemunya pun disaat waktu yang tepat. Ketika masih suasana hangat menjelang Pilkada putaran pertama dan adanya aksi yang dikomandoi FPI, Prabowo yang dirangkul oleh Jokowi. Dan disaat usai, lalu Anies yang bertarung dengan Ahok diputaran kedua, justru Jokowi memenuhi permintaan rival Prabowo yaitu SBY untuk bertemu, dan dipenuhi hari ini. Dimana cantiknya? Cantiknya kedua beking musuh Ahok dirangkul oleh Jokowi.

    Jadi, Jokowi tidak meniru gaya Prabowo yang arogans dalam orasi “jika saya mau jadi Presiden 2019, pilih Anies-Sandi” dan Jokowi tidak juga meniru gaya SBY yang kerap mencurahkan isi hati (Curhat) di akun twitter untuk mendapat perhatian. Jokowi ya Jokowi tetap sederhana dan bermain cantik, keduanya dirangkul. Ini lah seni politik yang elegan, tidak barbar seperti Rizieq.


    Penulis :Losa Terjal  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: SBY Sedikit Tersenyum, Jokowi Bermain “Cantik” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top