728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 05 Maret 2017

    Raja Salman Meruntuhkan Mimpi Kaum Puritan Garis Keras

    Bak serasa sedang mandi di bawah air terjun saat tubuh lelah kepanasan, seperti itulah perasaan aku melihat hangat dan mesranya Raja Salman bertemu muka dengan tokoh lintas agama yang digagas Presiden Jokowi di Istana Bogor.

    Takjub melihat pertemuan Raja Salman dengan para tokoh lintas agama bisa berlangsung dengan hangat, cair dan damai. Bahkan tirai ideologi Islam dari kelompok tertentu yang mengatakan non muhrim dilarang bersentuhan meski sekedar berjabat tangan seakan runtuh saat Raja Salman berjabat tangan dengan Ketua Umum Persekutuan Gereja Gereja Indonesia PGI Pdt Dr Henriette Tabita Lebang, M.Th.

    Pertemuan Raja Salman dengan para tokoh lintas agama ini memberi dampak frustasi kelompok radikal ekstrim yang selama ini merangsek mencuci otak atau mengindroktrinasi banyak anak anak bangsa. Mereka masuk ke lorong lorong komunitas masyarakat sipil dengan faham agama yang keras dan ekstrim.

    Suka tidak suka Indonesia sekarang terasa semakin berjarak. Ada kelompok ekslusif yang memandang dirinya dan kelompoknya pemilik kebenaran. Pemilik kebenaran ini membangun garis api bahwa di luar kelompoknya adalah kafir. Sesat. Argumentasi dangkal mereka ini memaksakan pikiran dan fahamnya dengan teriak teriak, mengintimidasi dan mengancam.

    Kita akui, Indonesia sekarang terasa berbeda. Faham wahabi takfiri yang mewabah dan merebut banyak pikiran anak bangsa hingga mau menjadi pengikutnya benar benar menakutkan. Momok baru bagi kebhinekaan dan toleransi Indonesia. Presiden Jokowi menyadari perkembangan faham radikal ekstrim kelompok ini.

    Dulu waktu kecil, aku bergaul akrab dengan teman temanku muslim. Aku tinggal di pinggiran kota Medan pada 1980an. Hanya ada tiga keluarga non muslim di sana. Selebihnya keluarga muslim. Kami tinggal di daerah ratusan keluarga muslim. Tapi tidak sedikitpun kami takut. Malah begitu guyub, akrab, hangat dan mesra.

    Saya masih ingat, saat lebaran tetangga muslim masak dodol atau jenang pakai kuali gede. Kami anak anak kecil sebelumnya mencari kelapa tua. Kami memanjat kelapa dari kebun Pak Sutiman dekat perkebunan tebu PTPN. Pohon kelapa itu tinggi sekitar 12-15 meter.

    Aku pernah naik pohon kelapa itu. Mendebarkan. Jantungan. Maklum baru pertama. Saat berada di pangkal pohon mau naik ke puncak pohon, kaki tiba tiba gemetar. Pangkal paha bergetar. Tiba tiba rasa takut muncul.

    Apakah dahan kelapa tempat bergantung kuat? Bisa menahan beban tubuh? Kebimbangan menjalar di benakku. Ragu. Jika lepas, tak ada ampun. Jatuh lalu mati. Ujungnya aku diam bertahan beberapa menit di pangkal pohon kelapa dengan kaki mulai kesemutan gemetar. Mau turun malu.

    Kedua telapak kaki menjepit batang pohon. Sementara tangan memeluk batang pohon. Akhirnya dengan keberanian karena takut malu diteriakin, akhirnya aku berhasil naik ke puncak pohon kelapa. Rasanya lega. Lega sekali bisa melihat sekeliling kampung dari ketinggian.

    Teman teman muslim kampung ku dulu tidak mengenal dogma atau doktrin radikal dan ekstrim seperti yang sekarang sedang menjamur di tanah air. Masa kecil itu aku biasa masuk Langgar (Surau) ikut ikutan melihat teman temanku belajar mengaji. Aku bahkan bisa membaca huruf alif ba ta karena temanku mau mengajarkannya.

    Saat bulan puasa adalah bulan paling menyenangkan. Sekolah libur. Seharian aku bersama teman teman bermain. Subuh pagi kami ramai ramai berjalan kaki ke tempat pertemuan anak anak remaja bertemu. Kami menyebutnya pertemuan Asmara Subuh.

    Letaknya di depan gerbang Tol Belmera Krakatau Ujung Medan. Ratusan orang tumpah memenuhi gerbang tol yang terang benderang itu. Adu mercon memekakkan telinga terjadi. Aku dan teman bocah kecil menikmati sekali suasana itu. Penuh tawa, guyub, mesra, hangat dan damai.

    Sepulangnya kami dari Asmara Subuh, kami mengaso sejenak di pos ronda kampung. Tiduran sampai siang hari. Siang hari lanjut menyiapkan peralatan memancing. Kami pergi memancing di sungai atau sawah. Kadang pergi ke kebun tebu milik PTPN. Menjerat burung Perkutut. Juga mengejar burung ayam ayaman yang banyak di perkebunan tebu.

    Menjelang sore kami berjalan jauh ke Jalan Cemara. Di jalan itu kerap ada balap liar. Atraksi balap anak remaja dengan akrobatik motor. Sepanjang pinggir jalan di bawah rimbunnya pohon kelapa sawit rame orang menonton atraksi individual pembalap motor yang rasa takutnya sudah mati.

    Bayangkan motor Yamaha RX King di modifikasi. Si pembalap tidur di tempat duduk motor dengan laju tinggi. Gas digeber habis sementara dari depannya berseliweran truk truk gede pengangkut tebu lewat. Silap sedikit brakkk tewas seketika. Sering terjadi kecelakaan karena si pembalap lakukan akrobatik balap untuk mendapat tepuk tangan penonton. Gila.

    Tapi itu dulu. Sekarang suasananya berbeda. Kini nuansanya berbeda. Jika hubungan antar pemeluk agama sejuk damai sekarang bawaannya malah panas mau bertengkar melulu.

    Gak usah jauh jauh. Aku masuk grup WA dengan teman teman seangkatan SMA dan SMP. Kami pernah menjalani kehidupan masa kanak kanak dan remaja yang sama. Main layang layang, main bola, cari ikan laga di sawah. Kalo lebaran dan natal saling kunjungi.

    Kini suasana kebatinan yang guyub, adem, damai dan toleransi yang pernah kami jalani dan nikmati bersama sama mendadak hilang. Gone with the wind.

    Pembicaraan di grup grup WA yang ku ikuti sekarang bukan menambah adem sejuk hati tapi bikin panas. Isinya rerata lekat aroma kebencian dan permusuhan. Padahal kami punya sejarah emosional pertemanan yang sejatinya bisa menjadi tiang penyangga anti toleransi. Alih alih masuk grup WA buat persahabatan makin kokoh, malahan bikin hati panas. Sakit hati. Pening kepala.

    Dalam grup itu tiba tiba teman temanku ini berubah garang soal imannya. Ia garang menyampaikan pesan haram mengucapkan selamat natal di grup itu. Ia garang mengumumkan risiko api neraka jika melanggar hal itu lengkap dengan sejuta dalil. Bayangkan betapa mulesnya perutku membaca tulisan copas yang entah darimana dia dapatkan. Gue ada di sana brooo.

    Sejatinya bagiku mau dogma, doktrin, teologi, mazhab atau apapun yang mereka yakini itu tidak jadi soal. Aku masa bodo dengan apa yang mereka yakini. Itu urusan kamu pribadi dengan Tuhanmu. Agama atau iman itu soal keyakinan hati pikiran kepada Sang Pencipta. Tidak ada seorangpun boleh melarangnya.

    Namun menjadi kurang bijak dan arif ketika apa yang diyakininya itu dipaksakan sebagai kebenaran mutlak. Sementara keyakinan orang lain keliru. Salah. Karena salah berarti ajaran setan. Hingga perlu diperangi dan dimusuhi. Julukan atau stempel kopar kafir akhirnya keluar dari mulutnya. Inilah pangkal mula retaknya persaudaraan kemanusiaan. Inilah pangkal mula hancurnya relasi toleransi.


    Raja Salman datang dan bertemu dengan para tokoh lintas agama. Raja Salman bertemu akrab dengan Ibu Megawati dan cucu proklamator Bung Karno tanpa sekat dan jarak. Raja Salman sebagai penjaga kota suci Mekah dan Medinah itu ternyata tidaklah sekolot pikiran kelompok kelompok ekslusif yang merasa benar sendiri itu.

    Raja Salman ternyata tidaklah seorang puritan yang melihat dunia ini hanya dua kelompok saja antara surga dan neraka. Kemanusiaan menjadi dasar relasi sesama manusia. Tidak berjarak. Saling menghargai. Saling menghormati.

    Kemanusiaan adalah hakikat dari segala gerak laku, pikiran atau tindakan setelah kita menyembah Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Itu yang tampak dari keteduhan wajah Raja Salman. Islam yang teduh sejuk damai. Islam yang rahmatan lil alamin rahmat bagi semesta alam.

    Rasanya kehidupan toleransi masa kanak kanakku yang dulu hilang akan tumbuh kembali. Toleransi dan penghormatan keberagaman sebagai karya cipta Allah Yang Maha Kuasa akan mekar kembali.

    Kedatangan Raja Salman seorang Raja Negara Islam telah meruntuhkan kepongahan kaum puritan garis keras yang sedang membangun kekuatan memecah belah Indonesia dengan faham radikal dan ekstrimnya itu. Impian kaum puritan garis keras ini runtuh dengan sikap rendah hati dan penuh toleransi Raja Negara Islam Saudi Arabia.

    Terimakasih Raja Salman. God Bless You….(maaf gue baca God Bless You di moncong pesawat Kerajaan Saudi Arabia).

    Salam Toleransi

    Penulis : Birgaldo Sinaga  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Raja Salman Meruntuhkan Mimpi Kaum Puritan Garis Keras Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top