728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 09 Maret 2017

    Perjumpaan “Mengharukan” SBY dengan Jokowi

    Setelah puluhan purnama berlalu, ahirnya asa yang sempat meredup itu bercahaya kembali. Walaupun terkesan mendadak, ahirnya presiden Jokowi bersedia menerima pak beye di Istana Merdeka, Jakarta. Mantan presiden yang juga penyanyi bersuara “merdu” itu diterima, usai presiden Jokowi menerima ratusan pernyanyi yang tergabung dalam Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia.

    Sebelumnya sang mantan sudah sering mengajukan hasrat ingin bertemu, siapa tahu bisa “memadu janji” (politik) akan tetapi hasrat “tulus” tersebut tidak pernah kesampaian. Dinamika politik yang cepat berubah-ubah plus “ketengilan” KPK, turut menambah ketegangan sang mantan untuk memadu rindu. Kegalauan itu tercermin lewat beberapa cuitan di twitter maupun beberapa konferensi pers. Puncaknya adalah ketika sang mantan berkata, bahwa sebenarnya presiden ingin bertemu dengannya, tetapi dihalangi oleh dua, tiga orang dalam Istana sendiri!

    Terlepas dari hasrat yang ahirnya kesampaian tersebut, menarik kita cermati makna dari pertemuan ini bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

    Salut kita ucapkan bagi Presiden Jokowi yang ahirnya mau menerima mantan presiden SBY mengingat ketegangan-ketegangan yang terjadi selama ini. Pertemuan ini tidak begitu penting secara politis bagi Jokowi, tetapi beliau ingin menunjukkan kenegarawaan seorang Jokowi kepada masyarakat Indonesia dan juga kepada mantan kepala negara Indonesia tersebut. Pertemuan ini menjadi contoh bagi masyarakat bagaimana seharusnya bersikap sebagai sesama warga negara, walaupun ada perbedaan pendapat diantara mereka masing-masing.

    Bagi Jokowi sebenarnya tidak ada nilai materi yang didapat dari pertemuan ini, sedangkan pak beye mendapat “kepuasan bathin” tersendiri atas pertemuan ini. Konon tujuan pak beye untuk reuni ini adalah untuk tabayun, agar tidak terjadi “miskomunikasi dan misinformasi” seperti yang terjadi selama ini. Selain itu pak beye juga menasehati agar berhati-hati dengan “para pembisik” yang suka memberikan informasi keliru tentang dirinya kepada bapak presiden!

    Konon menurut orang dalam yang “nguping” pembicaraan empat mata tersebut, Pakde hanya manggut-manggut sambil berbisik, “ Iya pak saya tahu. Yang kemarin ngetwit di twitter dan melakukan konferensi pers itu kan foto copy pak beye kan..? hehehe…” Sambil manggut-manggut tertawa pak beye berkata, “iya pak iya, hahaha…”

    ***

    Setelah sempat Netral, tidak ke kiri atau ke kanan, suara Demokrat kelihatannya akan bergeser ke pasangan Ahok-Djarot (setidaknya di permukaan) mengikuti langkah ketum tersebut. Langkah Ketum ini juga membuat bingung para “Jawara politik” untuk mengayunkan langkah mereka. Kalau semua netral, berati tidak ada lagi yang bisa “diganduli” baik di kiri, maupun di kanan! Menurut pakar “Jawara politik,” tipis harapan untuk mengadakan aksi massa dengan jutaan partisan lagi karena sepi peminat…

    Bagi Jokowi, pertemuan ini sebenarnya ada bagusnya juga. Bisa dipastikan “tekanan politik” dari Cikeas akan mereda, setidaknya untuk sementara. Kalau suasana tenang dan tidak gaduh, tentu semua orang akan bisa fokus untuk bekerja. Dampak dari sikap pak beye ini juga akan mengurangi kegaduhan yang sering ditimbulkan oleh para “pembuat gaduh profesional” yang mencari makan dari setiap kegaduhan selama ini!

    Pepatah bijak mengatakan, “Kalau engkau tidak bisa menaklukkan lawanmu, maka jadikanlah dia menjadi temanmu…”

    Bagi pak beye, pertemuan ini memberi “kepuasan bathin” yang tak terkira baginya. Bagi orang-orang yang kehidupannya jauh dari “Hasrat dan Kepuasan,” tentulah susah untuk memahami keinginan pak beye ini. Sudah lama pak beye ingin memberitahukan sendiri secara langsung kepada pakde perihal “Hasrat dan Kepuasan” (politik) ini. Pak beye sering “gemes” melihat cara Pakde menangani segala pekerjaannya yang berat itu. Sering  dimarahi bahkan dimaki orang, tetapi beliau ini cuma tersenyum saja.

    Tetapi kini dia sadar, “Lain lubuk lain ikannya. Lain padang lain belalangnya” Pakde sebagai pemegang mandat negeri ini mempunyai mindset dan cara tersendiri dalam menangani setiap permasalahan yang dihadapinya. Bukankah setiap resiko yang terjadi akan ditimpakan pula kepadanya seorang diri kelak?  Jadi pak beye, sampaikanlah segala doa dan harapan bapak kepada bapak presiden, and let Jokowi do the rest…

    Tadinya pak beye berharap pertemuan ini bisa lamaan. Tetapi dia mengerti. Ini reuni pertama sesudah lama tidak bertemu. Tidak mengapa, yang penting dia puas, hasratnya sudah disampaikan dengan suka cita. Setelah lama tak bertemu, memang ada sedikit kecanggungan, tapi tidak terlalu mengganggu.

    Penulis jadi teringat kepada sebuah kalimat yang terdapat pada bak belakang sebuah truk jalur Pantura, “Sudah lama tak begitu… sudah begitu kok tidak lama ya….”

    Penulis : Reinhard F Hutabarat  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Perjumpaan “Mengharukan” SBY dengan Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top