728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Maret 2017

    Pandji Terjangkit Logika Penduduk Bumi Datar Tentang DP 0

    Maafkan saya yang selalu gatal kalau membaca tulisan Pandji. Jubir Anies – Sandi ini rupanya dapat pesanan membela program Rumah DP 0 (entah 0 persen atau 0 rupiah). Pokoknya nol. Pembelaannya penuh dengan retorika.Makanya cocok dengan Anies yang juga penuh retorika. Tidak perlu repot-repot membaca tulisannya sebab tulisan panjang tersebut tidak menjelaskan apapun tentang program Rumah DP 0. Setengah dari tulisan tersebut menceritakan susahnya perjuangan seorang Pandji membeli rumah. Setengahnya lagi tentang keberpihakan kepada rakyat kecil yang full retorika. Ditambah kata-kata motivasi ala Mario Teguh bahwa segalanya tidak ada yang mustahil. Kalau soal retorika dan motivasi memang Anies dan Pandji ini jagonya. Mungkin kalau kalah Pilkada ini, mereka bisa tampil sepanggung. Tapi omong-omong, kalau memang malam minggu ini lagi jomblo dan perlu bahan bacaan silahkan dibaca tulisannya di sini.

        Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, premis-nya sebenarnya sederhana: Kenapa untuk barang barang yang nilainya turun, dimudahkan. Sementara untuk yang nilainya naik, yang bisa jadi investasi, tidak dicari terobosannya? Kita bisa nyicil HP, motor, yang nilainya turun. Sementara untuk beli rumah kok ga ada solusinya supaya rakyat digampangkan?

        Ketika Mas Anies dan Bang Sandi muncul dengan gagasan DP 0, dasarnya sebenarnya sederhana: Keberpihakan.

    Kata-kata indah di atas merdu di telinga. Apalagi yang belum punya rumah. Tapi coba telaah dengan teliti. Beli rumah tidak bisa disamakan dengan beli hape atau motor. Beli hape cukup sejuta rupiah kalau belinya yang low-end. Beli motor hanya perlu belajasan juta rupiah. Itupun banyak motor yang kreditnya macet. Mengapa ‘dimudahkan’ menyicil hape atau motor? Karena nilainya tidak seberapa dibandingkan membeli rumah. Mengapa kredit rumah susah? Karena nilainya besar. Hanya logika penduduk bumi datar saja yang menyamakan beli hape dengan beli rumah.

        Karena kalau dipikir pikir, Sandang Pangan Papan adalah kebutuhan dasar.

        Masak baju beli, makanan beli, rumah hanya boleh nyewa? Terutama kepada kelas menengah ke bawah?

    Kalau hanya mampu menyewa, mengapa harus memaksakan diri kudu membeli. Jika tidak mampu beli mobil, mengapa memaksa untuk beli mobil demi gengsi dan gaya. Padahal lebih ekonomis naik kendaraan umum. Kalau kemampuan hanya bisa menyewa rumah, mengapa ‘ngotot’ harus memiliki rumah? Kalau kredit lalu di perjalanan tidak mampu memenuhi kewajiban membayar dan rumah disita bukannya malah lebih apes? Sekali lagi, hanya logika penduduk bumi datar yang mensejajarkan beli baju dan makanan, dengan beli rumah. Sandang pangan papan memang kebutuhan dasar. Tapi terpenuhinya kebutuhan papan atau rumah kan tidak harus dengan memiliki rumah. Apa salahnya dengan menyewa, kalau memang baru mampu menyewa saja?

        Banyak warga kelas menengah ke bawah terpaksa mencari ke luar kota Jakarta untuk memperbesar peluang untuk punya rumah. Dampaknya kepada waktu dan tenaga yang habis karena keluar – masuk Jakarta dari misalnya Tangerang Selatan, Depok, Bekasi, dll. Bangun jauh lebih dini, berjuang di pagi hari untuk naik KRL, Trans Jakarta. Sampai kantor tenaga sudah tersedot. Nanti malam, ketika sudah tersedot habis, masih harus melakukan perjalanan yang sama.

    So whattt? Manja amat sih??!  Jutaan orang melakukannya setiap hari dari Senin sampai Jumat selama bertahun-tahun. Kalau Pandji berkhayal jutaan orang tersebut bisa tinggal di Jakarta dan bukannya di Tangerang, Depok dan Bekasi maka satu-satunya solusi, orang Jakarta harus bersedia digusur. Dan di tanah bekas rumahnya dibangun rusun atau apartment. Tapi kan Anies – Sandi yang bilang rusun tidak sesuai dengan life-style nya orang Jakarta.

        Kini semua pertanyaan soal “ Di mana rumahnya? Seperti apa rumahnya? Nanti kejadian Sub Prime Mortgage dong kayak di US?  Ancur dong APBD DKI? Ide gila macam apa ini? Emang pernah dipraktekkan di negara lain atau kota lain? Nanti orang orang kaya yg pada beli dong? DP 0 itungannya gimana? Emang mungkin?” terjawab sudah.

    Saya penasaran benarkah semua pertanyaan sudah terjawab. Ternyata benar sodara-sodara. Sudah terjawab. Tapi jawabannya memakai logika penduduk bumi datar. Hehehe…

    Saya rangkumkan jawabannya ya.

    Di mana rumahnya?  “Penyediaan lahan bisa menggunakan aset pemda, serta tanah-tanah telantar.”  Pernah lihat tanah terlantar di Jakarta. Yang banyak saya lihat malah banyak tanah sengketa. Memangnya ada berapa banyak lahan aset pemda yang bisa digunakan untuk keperluan ini?

    Seperti apa rumahnya? “Properti dalam program ini berbentuk hunian vertikal sederhana subsidi pemerintah dengan harga sampai sekitar Rp.350 juta.” Lho.. hunian vertikal sederhana itu bukannya sama dengan rusun. Yang dibangun Ahok itu? Yang dijadikan rumah baru warga DKI yang direlokasi? Ide ini mah udah keduluan dikerjain Ahok.

    Nanti kejadian Sub Prime Mortgage dong kayak di US? “Tidak akan terjadi krisis karena sasarannya adalah warga Jakarta yang belum memiliki rumah dengan sistem vetting kredibilitas kredit (seleksi kemampuan membayar cicilan kredit) yang jelas pula.”  Sesuai hitungan Anies – Sandi : konsumen mencicil sebesar Rp 2.3 juta, selama 20 tahun (asumsi bunga bank 5%). Berarti mereka yang mampu melakukannya adalah yang gajinya setidaknya 7 juta per bulan, itu kalau benar ada bank yang baik hati memberikan bunga 5%. Kalau bayar sewa rusun 450 ribu saja susah, bagaimana mau beli rusun nyicil 2,3 juta setiap bulan. Saya tidak tahu bagaimana dengan orang lain. Saya sendiri lebih memilih nyicil rumah di Bekasi dengan 2,3 juta sebulan daripada nyicil rusun sederhana subsidi pemerintah dengan uang yang sama.

    Ancur dong APBD DKI? “50.000 unit x Rp.53 juta (besaran DP untuk properti seharga Rp.350 juta) = Rp. 2.7 trilliun (4% dari APBD DKI saat ini).” Entah kebetulan atau tidak, tapi Ahok memang telah lebih dulu merencanakan membangun 50.000 unit rusun di Jakarta. Jadi siapa yang nyontek siapa ya?

        “Baik rumah susun sederhana sewa (rusunawa), maupun rumah susun sederhana milik (rusunami), kita targetkan tahun 2017 nanti sudah ada 50.000 unit di Jakarta,” kata Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Jakarta, seperti dikutip Antara, 16 September 2015.

    Ide gila macam apa ini? Ide ala penduduk bumi datar

    Emang pernah dipraktekkan di negara lain atau kota lain? “Di dalam negeri ada Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) dari KemenPUPR, bantuan uang muka untuk PNS, Polri, dan sebagainya.” Jangan lupa PNS, Polri dan sebagainya berbeda dengan  ‘pekerja informal’. PNS, Polri menerima gaji bulanan yang bisa diperhitungkan kenaikannya serta bisa mendapatkan fasilitas sesuai kedudukannya.

    Nanti orang orang kaya yg pada beli dong? Kalau DP nya beneran nol, semua orang juga ngantri buat invest. Hahaha…

    DP 0 itungannya gimana? Kesimpulan saya setelah membaca di web resmi Anies – Sandi, Pemprov yang akan meminjamkan DP tersebut. Besarnya sekitar 53 juta rupiah untuk rusun seharga 350 juta. Nantinya pemilik rusun juga harus mencicil DP tersebut kepada Pemprov DKI. Mirip-mirip pinjam uang dari mertua tapi harus dikembalikan hahaha…

    Emang mungkin? Secara jujur saya simpulkan mungkin saja. Tapiiiii… ada tapinya  ya…

        Pemprov mau menyediakan anggaran untuk menalangi DP.
        Ada bank yang berbaik hati mau memberikan bunga 5% fixed selama 20 tahun.
        Ada lahan yang bisa disediakan Pemprov untuk dijadikan rusun sederhana subsidi.
        Ada pengembang yang mau membangunnya dan menjualnya dengan harga 350 juta per unit.
        Yang mampu membeli rusun adalah yang mampu mencicil 2,3 juta tiap bulan ditambah cicilan DP kepada pemprov DKI.

    Mungkinkah? Seperti kata Pandji : “Its always impossible until someone does it.”  Dengan logika penduduk bumi datar, tidak ada yang tidak mungkin…


    Penulis : Petrus Wu    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pandji Terjangkit Logika Penduduk Bumi Datar Tentang DP 0 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top