728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Maret 2017

    Pak Djarot Tersenyum Ketika Di-Bully Pendukung Anies

    Anies selalu berkata-kata manis, pandai merangkai kata hingga orang terpukau. Namun pendukung ada yang sangat kejam, setelah jenazah ditolak, warga dipaksa tandatangan memilih Anies, kini Pak Djarot yang mereka bully beramai-ramai.

    Saya jadi ingat ucapan Anies dulu, pendukung mewakili yang didukung. Itu kah wakil mu Pak Anies? Itu kah rupa mu yang sesungguhnya? Pak Djarot yang muslim harus mendapatkan perlakuan begitu kasar oleh sesama muslim dan itu mereka lakukan di mesjid!

    Ini semua gara-gara isu munafik yang dilontarkan oleh sebagian pendukung Anies kepada muslim pendukung Ahok. Mereka menuduh munafik dengan alasan pendukung Ahok adalah pembela penista agama. Suatu tuduhan yang keji tanpa dasar yang kuat karena Ahok masih menjalani proses pengadilan. Dan hanya Allah yang berhak mencap kafir atau munafik. Entah siapa tuhan mereka, mungkin tuhan mereka Anies Sandi seperti yang ditulis oleh Denny Siregar ( Tuhan Baru Itu Bernama Anies Sandi)

    Padahal Imam al Ghazali pun telah mewanti-wanti untuk jangan menuduh kafir, munafik, syirik kepada sesama muslim. Mungkin mereka yang menuduh munafik merasa ilmunya sudah lebih tinggi dari Imam al Ghazali, mungkin mereka merasa jasa mereka sudah menembus surga hingga boleh memaki sesama muslim. Bahkan terdapat hadist larangan mengatakan kafir kepada sesama muslim.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Apabila ada seseorang yang mengkafirkan saudaranya (seiman-red) maka salah satu dari keduanya akan tertimpa kekufuran. [HR Muslim].

    Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, “hai orang kafir,” maka kata itu akan menimpa salah satunya. Jika benar apa yang diucapkan (berarti orang yang dituduh menjadi kafir); jika tidak, maka tuduhan itu akan menimpa orang yang menuduh. [HR Muslim].

    Pak Djarot datang ke acara tersebut untuk memenuhi undangan. Pak Djarot bermaksud ingin menghargai si pengundang acara tersebut, karena sudah di undang. Saya yakin Pak Djarot paham betul acara apa yang ada disana dan kampanye untuk siapa, meski dalam mesjid dilarang kampanye. Tapi beliau tetap datang dengan itikad baik dan niat tulus untuk menghargai acara tersebut.

    Namun apa yang ia dapati disana? Sebagian pendukung Anies yang dengan kejam mem-bully Pak Djarot.

    “Usir…usir saja!” Teriak mereka.

    “Kafir!!!” timpal yang lain.

    “Hidup nomor 3!!” ujar yang lainnya lagi, menjelaskan posisi mereka sebenarnya. Tak perlu dibantah lagi, memang itu pendukung Anies yang berteriak-teriak seperti kesetanan.

    Pak Djarot sempat akan diusir dari mesjid, sempat terjadi penolakan namun setelah ngotot-ngotot’an. Akhirnya Pak Djarot dipersilahkan masuk. Acara yang gak jelas untuk apa itu ternyata kabarnya lebih merupakan upaya kebangkitan orde baru dengan mempromosikan betapa enaknya hidup jaman Soeharto.

    Pulangnya lagi-lagi Pak Djarot mendapatkan cemoohan dari sebagian pendukung Anies. Teriak-teriak menghina Pak Djarot, menjulukinya kafir. Bahkan kabarnya ada lemparan botol, tapi Pak Djarot keluar dari lingkungan area mesjid dengan tersenyum.

    Saya yakin ia paham bahwa orang-orang itu hanya lah orang-orang yang terhasut, yang sebenarnya tidak paham apa-apa. Dan hanya berani jika beramai-ramai. Berbaju putiih bersih, yang wanitanya berkerudung tapi perilakunya mungkin lebih mirip geng motor. Sebagian berbaju Arab, mungkin mereka lupa sehingga bukan perilaku Nabi yang mereka tiru tapi mereka meniru Arab jahiliyah. Bukankah Nabi selalu menghormati tamunya? Itulah Nabi Muhammad, entah nabi siapa yang ditiru oleh mereka ini, setahu saya gak ada Nabi yang suka mem-bully seperti itu.

    Beginikah pendukung mu Pak Anies? Bahkan bapak ada disana kala acara berakhir, tapi kenapa bapak diam saja? Apakah bapak tidak punya kontrol atas diri mereka yang mengaku pendukung mu? Bagaimana bapak nanti mengatur Jakarta jika mengatur pendukung sendiri saja tidak bisa?

    Lucunya mereka ini adalah kaum-kaum  yang kerap berteriak Islam ditindas tapi mereka sendiri gemar menindas sesama muslim. Jenazah mereka tolak, pendukung Ahok mereka paksa mendukung Anies, dan sekarang menindas, mengusir, dan mencaci Pak Djarot di mesjid? Di rumah Allah? Beginikah pendukung mu Pak Anies? Sunggu saya kecewa sekali.

    Padahal di hari yang sama, Pak Anies baru mengeluarkan pernyataan kepada pendukungnya untuk menurunkan spanduk, jangan menolak jenazah dan jangan mengancam. Saya senang mendengar pernyataan sikap dari Pak Anies walaupun saya rasa sangat terlambat. Tapi tidak lama  pendukungnya dengan kejam mencaci maki Pak Djarot hingga ingin mengusir Pak Djarot keluar mesjid, seolah-olah mesjid yang rumah Allah adalah milik mereka, begitukah pendukung Pak Anies?

    Pak Djarot selama dihina, dicaci, di-bully beramai-ramai ia hanya tersenyum saja, luar biasa kuatnya mental beliau. Bayangkan jika kamu yang diundang ke sebuah acara kemudian ketika kamu tiba di lokasi tersebut ada orang-orang yang menghina, berkata-kata kasar hingga ingin mengusir kamu. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Padahal kamu sudah beritikad baik untuk menghargai si pengundang. Mungkin kamu akan marah, mungkin akan lari pulang sambil menangis. Tapi Pak Djarot hanya tersenyum saja.

    Kemudian saya tertegun melihat tagline yang kerap berseliweran di newsfeed Facebook saya.

    “Maju Kotanya, Bahagia Warganya.”

    Saya jadi bingung dan bertanya-tanya. Bagaimana Pak Anies bisa membahagiakan warganya kalau pendukungnya saja seperti itu? Apakah bukan justru warganya yang kelak di-intimidasi? Seperti saat mereka memaksa warga menandatangani surat pernyataan tidak akan memilih Ahok atau seperti penolakan-penolakan terhadap jenazah? Apalagi yang kelak akan diboikot, diancam dan diteror jika Pak Anies terpilih?


    Penulis : Gusti Yusuf    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pak Djarot Tersenyum Ketika Di-Bully Pendukung Anies Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top