728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 13 Maret 2017

    Pak Anies, Nasi Sudah Menjadi Bubur!



        The Situation is Already Bad and I Fear That Such Incidents May Affect The Next Round of Battle

    Halo pembaca seword yang budiman. Semoga semuanya sehat-sehat saja ya dan jangan lupa makan! Makanan pokok Indonesia adalah nasi yang terbuat dari beras. Biasanya kalau orang Indonesia belum makan nasi tapi sudah makan yang lain, maka kita akan ngomong kita belum makan. Contohnya saya kalau belum makan nasi pas makan siang, saya belum merasa makan walaupun saya sudah makan mie goreng, atau sop ayam. Nasi yang enak itu dimasak pas, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek. Istilahnya adalah nasi pulen. Saya gak suka makan nasi yang keras terutama yang lembek yang kebanyakan air.

    Peribahasa nasi sudah menjadi bubur mempunyai makna bahwa sesuatu sudah terlanjur terjadi dan tidak dapat diubah lagi. Coba kita pikirkan menggunakan logika. Apabila beras yang awalnya kita mau masak menjadi nasi, berubah menjadi bubur akibat kita memasak beras tersebut dengan air yang berlebih. Sebagai konsekuensi, bubur itu tidak bisa menjadi beras lagi dan pasti rasanya gak enak! Karena ekspektasi kita adalah nasi, bukan bubur!

    Sampai di sini sudah jelas ya dengan perumpamaan saya. Kenapa saya mengaitkan peribahasa nasi sudah menjadi bubur dengan Pak Anies?

    (source-of-photo)

    Ini terkait dengan spanduk-spanduk yang menolak untuk menshalatkan mayat yang semasa hidup mendukung Ahok-Djarot. Akibat spanduk ini sudah mencul 2 kasus yang membuat kisruh media sosial. Kasus pertama bisa baca beritanya : Putri Pendukung Ahok Kecewa Jenazah Ibundanya Tidak Dishalatkan di Mushalla. Sedangkan kasus kedua bisa dibaca : Warga ini Mengklaim Dipaksa Tandatangan Pilih Anies-Sandi Demi Jenazah Disalatkan.

    Sebenarnya sudah banyak spanduk ancaman yang beredar bahwa orang muslim yang meninggal yang semasa hidupnya memilih Ahok tidak akan dishalatkan. Bisa dilihat beritanya di detik pada tanggal 25 Februari 2017 bahwa ada 3 Masjid di Karet, Jakarta Selatan : link berita. Sudah lama spanduk itu terpasang dan harusnya tim dari pasangan nomor 3 sudah mengetahui keberadaan spanduk ancaman tersebut. Seharusnya menurut saya sebagai orang yang selalu menyerukan bahwa pilkada DKI ini seyogyanya adalah festival gagasan, begitu spanduk tersebut terpasang di masjid, maka Pak Anies akan segera meminta spanduk tersebut diturunkan karena tidak sesuai dengan dengungan yang selalu diserukan yaitu festival gagasan!

    Ternyata kenyataan memang pahit. Sudah ada 2 kasus yang “mengapung di permukaan”, barulah Pak Anies meminta spanduk tersebut diturunkan. Berita mengenai Pak Anies yang meminta agar spanduk tersebut diturunkan dimuat di kompas pada tanggal 11 Maret 2017 bisa dilihat di link ini : Anies Serukan Tunaikan Shalat Jenazah dan Turunkan Spanduk Penolakan.

    Pak, jarak dari tanggal 25 Februari ke 11 Maret adalah 14 hari atau 2 minggu atau setengah bulan. Itu waktu yang cukup lama dan mengapa baru setelah 2 minggu spanduk itu baru diserukan untuk diturunkan? Apakah karena sudah terjadi 2 kasus seperti yang saya sebutkan di atas baru diminta diturunkan? Apakah Bapak takut bahwa blunder yang disebabkan pendukung bapak bisa menurunkan suara bapak di putaran kedua? Pak, nasi sudah terlanjur menjadi bubur karena kejadian miris sudah terlanjur terjadi, baru kemudian bapak meminta agar menurunkan spanduk ancaman tersebut.

    Saya rasa warga DKI Jakarta sudah cerdas dan pintar. Dengan adanya kejadian ini, saya rasa warga DKI Jakarta sudah tahu harus memilih kepada siapa. Calon gubernur yang baik adalah bukan saja pemimpinnya yang baik dan menunjukkan konsisten untuk bersih, tetapi didukung oleh relawan dan tim yang juga bersih dan toleran terhadap sesama kawan dan lawan.

    Pak, saya cuma berpesan, Jakarta ini adalah arena pertandingan yang berat dan melelahkan. Bapak harus siap mental ya, semental baja kalau perlu. Mengatur pendukung bapak agar tidak blunder saja sudah kesulitan ya, Pak? Apalagi mengatur Jakarta dengan sejuta permasalahannya? Blunder nya kali ini agak di luar batas loh Pak. Saya rasa warga DKI Jakarta bisa menilai dari kejadian ini.

    Apalagi saya baru membaca kejadian Pak Djarot yang harus diteriakin ketika menghadiri acara Haul Soeharto sekaligus shalawat untuk negeri di Masjid At Tin, Jakarta Timur sabtu kemaren. (Sumber berita : berita 1, berita 2, dan berita 3) padahal Pak Djarot diundang dalam acara tersebut. Untung Pak Djarot mentalnya sudah sekuat baja, karena beliau tersenyum lebar ketika harus disoraki ketika mau menghadiri acara tersebut. Pak Djarot juga tetap santai berjalan sambil menyapa mereka yang menyoraki beliau. Rasanya kok adem ya melihat senyuman Pak Djarot yang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa beliau tidak pernah takut akan tekanan maupun intimidasi dari siapapun untuk memajukan kesejahteraan rakyat Jakarta.

    PENUTUP

    Saya tujukan penutup artikel kali ini buat warga Jakarta. Pak Anies belum menjadi gubernur saja, pendukung garis keras nya saja sudah mulai mengintimidasi orang-orang yang berlawanan paham dengan mereka apalagi kalau Pak Anies sudah duduk di kursi gubernur?

    Sudah mengerti kan mengapa harus memilih siapa untuk putaran kedua? Saya yakin warga Jakarta sudah cerdas dan pintar dalam menentukan pilihan mereka.

    Salam Waras!

    Penulis : Putra  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pak Anies, Nasi Sudah Menjadi Bubur! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top