728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 30 Maret 2017

    Momen Si M(A)nies ‘ditelanjangi’ Ahok dalam Acara Mata Najwa

    Menyimak perdebatan antara Ahok dan Anies dalam acara Mata Najwa, tentu saja membuat penonton panas dingin karena menguras hati dan pikiran. Sadar atau tidak, acara Mata Najwa berhasil menampilkan tipe pemimpin yang bersih, transparan dan profesional dan tipe pemimpin yang hanya berkoar-koar, aneh dan irasional. Debat yang dipandu Najwa Sihab ini berhasil membongkar kedok calon pemimpin DKI Jakarta. Warga DKI pelan-pelan dihantar pada pemahamanan yang memadai dalam menilai tipe pemimpin yang hanya pandai beretorika, bermulut manis, dan berjanji selangit dan masih bermimpi dan tipe pemimpin yang sudah terbukti, berpengalaman, berani, tegas dan memuaskan warga DKI.

    Porsi debat di Mata Najwa yang banyak, mengharuskan Ahok dan Anies berhadapan menguji ide, gagasan yang disatukan dalam program kerja. Waktu debat yang panjang, tentu sangat berguna. Keduanya beradu argumentasi demi memenangkan Pilkada DKI Jakarta. Dari debat inilah bisa dibedakan antara kualitas pemimpin di antara Ahok dan Anies. Ahok sudah pasti sangat menikmati proses debat kali ini. Waktu debat yang banyak membuatnya mudah untuk menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya, program kerjanya. Ahok sungguh menikmati debat ini karena menjadi kesempatan istimewah dalam mengajarkan kepada Anies tentang pemimpin DKI sesungguhnya.  Dari proses debat, penulis melihat beberapa hal menonjol dimana Ahok seakan-akan menelanjangi Anies di depan pemirsa.

        Substansi argumentasi, Ahok: bertolak dari kerja nyata, Anies: Bertolak dari mimpi.

    Keseluruhan argumentasi yang dikeluarkan Ahok selalu diukur dan disesuaikan dengan kondisi Jakarta, misalnya disesuaikan dengan kondisi demografisnya, kemampuan APBD DKI, asas manfaat,  skala prioritas  (bandingkan soal Kartu Jakarta Lansia) dan sebagainya. Dalam debat ini jelas terlihat kemampuan Ahok yang berbicara berdasarkan fakta, bertolak dari cara dan sistem kerja yang dilakukannya selama ini. Argumentasi yang dibangun Ahok bertolak dari evaluasi kerja selama pemerintahannya di wilayah DKI. Ini terbukti dari perombakan besar-besaran sistem birokrasi yang berbelit-belit, lama dan mengeluarkan banyak biaya. Kepala dinas yang tidak bekerja professional dan jujur digantikan oleh orang yang memiliki integritas, kemampuan manajerial yang bagus. Di sini Ahok benar-benar teruji dalam memimpin warga DKI Jakarta.

    Lalu bagaimana dengan si MAnies Anies???  Pemirsa yang awam sekalipun dalam urusan politik, akan dengan mudah mengatakan kalau argumentasi si Manies cocok dipahami dalam dunia mimpi. Bagi yang masih suka bermimpi dan belum juga bangun sampai lebaran kuda, argumentasi Anies seakan menambah indah hidup di Jakarta. DP rumah yang selalu berubah-ubah dan ‘kelihatannya’ sangat memanjakan warga DKI. Namun, di sisi lain, pemilih Jakarta saat ini tidak sedang tidur sampai ‘lebaran kuda’. Warga DKI merupakan pemilih cerdas, tidak mudah dimabukan dengan janji-janji manis. Pada titik ini, mudah sekali ditebak ke mana arah pilihannya. Pilih pemimpin yang sudah bekerja atau pemimpin yang suka bermimpi.


        Program yang ditawarkan. Ahok: bukan tiruan, Anies: Program Ahok yang ditambah plus- plus.

    Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat dan yang terbaru, Kartu Jakarta Lansia merupakan terobosan yang dibuat Ahok untuk keadilan sosial warga Jakarta. Berita tentang anak putus sekolah dan masyarakat miskin yang tidak bisa berobat di rumah sakit yang menghiasi media masa pada jaman-jaman sebelumnya, mulai menghilang pada jaman Ahok. Hadirnya program KJP misalnya membuat pelajar Jakarta diberi akses penuh pada pendidikan. Anak-anak putus sekolah semakin berkurang dan alasan ketidakmampuan finansial dalam dunia pendidikan mulai berkurang. Selanjutnya biaya kesehatan yang ditanggung dalam Kartu Jakarta Sehat, membuat warga DKI diberi akses yang sangat luas untuk dirawat pada seluruh rumah sakit di Jakarta. Program jelas terbukti ampuh dalam menyelesaikan persoalan Jakarta.

    Sementara itu program yang dimimpikan Anies lebih pada penambahan plus-plusnya. KJP plus, KJS plus dan mungkin ada KJL plus. Menurut Ahok plus-plus inilah yang banyak menimbun masalah. Misalnya akan menambah banyak persoalan dari sisi pertanggungjawaban penggunaan  KJP dan KJP, asas manfaat dan efektifitasnya. Singkatnya, dipakai bukan untuk tujuan yang sebenarnya. Anies tidak bisa menghadirkan program baru yang mampu menarik minat warga Jakarta. Satu-satunya cara untuk tetap menarik minat warga DKI yang sudah puas dengan kinerja Ahok adalah dengan cara meniru program unggulan Ahok. Caranya dengan menambah kata plus. Pertanyaan sederhananya adalah siapakah yang meniru program dalam debat kali ini?

        Siapa yang omong kosong, Ahok atau Anies?

    Pemilih Jakarta pasti akan tahu siapa yang berbohong dan bermulut manies dan siapa pemimpin yang nyata dalam programnya. Siapa yang hanya mengeluarkan kata-kata manis dan memanjakan warga, serta siapa pemimpin yang profesional, jujur dan transparan. Pertanyaan di atas sangat mudah dijawab. Warga DKI sudah tahu dan merasakan langsung siapa yang sudah bekerja dan membuktikan diri lewat kinerja dan pelayanan.  Di sisi lain warga DKI yang cerdas sudah mengetahui siapa calon gubernur DKI yang pandai merangkai kata, calon pemimpin yang pandai memanjakan warga DKI dengan kesantunan dan kata-kata manis. Dalam benak pemilih DKI juga sudah menentukan pilihan siapa calon pemimpin mereka yang sudah berjanji dan memberi bukti dan siapa calon pemimpin yang berjanji manis dan hobi bersandiwara dan masih bermimpi.

    Akhirnya Ahok ‘Menelanjangi’ Anies!!

    Entah Ahok marah atau tidak ketika dia mengatakan ini kepada Anies. “Jangan membohongi rakyat hanya untuk meraih kemenangan di Pilkada” tegas Ahok. Menurut penulis, pernyataan Ahok ini betul-betul membuat Anies ‘ditelanjangi tanpa ampun’. Menurut Ahok, program yang ditawarkan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keuangan DKI, skala prioritas pembangunan dan demi kesejahteraan dan keadilan sosial warga Jakarta. Jangan membohongi warga pakai program-program kerja mustahil dan kelihatan manies hanya untuk meraih simpati yang berujung pada kemenangan di Pilkada DKI Jakarta?

    Pernyataan tegas Ahok ini merupakan bukti keberanian Ahok dalam pesta demokrasi. Ahok bukan tipe pemimpin yang bermulut manis demi meraih simpati dan dukungan. Ahok sangat menekankan kebenaran dan kejujuran dalam kehidupannya. Nilai kebenaran dan kejujuran inilah yang dia terapkan dalam sistem kerja dan pelayanannya. Bagi Ahok nilai kebenaran, kejujuran, bersih dan transparan adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar atau digadai hanya untuk meraih dukungan suara dari warga DKI Jakarta. Bagi Ahok sebagai pelayan warga DKI, ia harus membuktikan itu dalam etos kerjanya.

    Penulis titip pesan kecil buat Anies: Kalau ingin mimpi jadi kenyataan, jangan tidur terlalu lama!!!

    Salam mimpi

    Penulis : Frumensius Hemat  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Momen Si M(A)nies ‘ditelanjangi’ Ahok dalam Acara Mata Najwa Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top