728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 10 Maret 2017

    Mendekati Hary Tanoe, Anies Mendadak Lupa Dengan Ayat “Awliya” Bagaimana Perasaan Habib Rizieq ?

    Tulisan ini hanya sebuah kepenasaran. Sebuah kepenasaran sekaligus keheranan yang berangkat dari sikap inkonsistensinya seseorang lantaran demi jabatan yang ingin diraihnya. Begitu besarnya ambisi, seringkali melupakan apa yang pernah diucapkan, lupa apa yang diperbuatnya. Tapi betul juga pepatah dalam politik, “tidak ada kawan abadi, tidak ada musuh abadi” yang abadi adalah kepentingan. Kepentinganlah yang menyatukan semuanya.

    Itulah yang hendak penulis komentari melihat kerjasama Calon Gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan Taipan Hary Tanoe dari Partai Perindo. Bagaimana tidak, belum kering bibir ini dari ucapan Anies Baswedan ketika menghadiri acara Mata Najwa di Metro TV beberapa waktu lalu. Pada kesempatan itu, Anies Baswedan mengiyakan pertanyaan Najwa Shihab berkenaan persetujuannya dengan Habib Rizieq mengenai kepemimpinan seorang muslim dan tidak bolehnya seorang nonmuslim menjadi pemimpin berdasarkan surat Al-Maidah ayat 51. Kata-kata “Awliya” dalam ayat tersebut bisa diartikan sebagai “teman setia” tapi bisa juga diartikan “pemimpin.”

    Dari sana timbul analogi demikian, mengambil orang nonmuslim atau kafir sebagai teman setia saja tidak boleh apalagi memilihnya menjadi pemimpin ? Nah, lho, bagaimana pula dengan perasaan Habib Rizieq yang beberapa waktu lalu ketika menjadi saksi di persidangan Ahok yang ke-12 mengatakan hal yang sama ? Katanya, jangankan menjadikan pemimpin, jadi teman setia saja tidak boleh ! Lalu, apa yang dilakukan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, piye iki ?

    Inilah kegusaran saya. Seringkali masyarakat bawah dibuat bingung dengan elit politiknya. Bayangkan saja, baru mau mencalonkan saja sudah begini, berbeda apa yang diucapkan dengan apa yang diperbuat, apalagi kalau sudah menjabat. Jika saja, jika sebelumnya tidak ada perkataan yang terucap bahwa menjadikan teman setia tidak boleh tentu hal ini sah-sah saja dilakukan. Bersekutu, membuat persetujuan, kerjasama, saling mendukung lumrah-lumrah saja dilakukan dalam politik.

    Maka tak aneh, orang sering mengidentikan politik dengan kekotoran. Sebabnya sudah jelas, politik mengaburkan moral seseorang. Politik seringkali mengenyampingkan hal-hal yang ideal demi mengejar sesuatu yang pragmatis sifatnya. Maka, dalam politik tidak ada hal yang haram. Apapun dilakukan, bahkan menggunakan atau mencomot ayat-ayat dalam kitab suci untuk memojokkan lawannya, menjatuhkannya, menenggelamkannya hingga ke dasar. Padahal sejatinya politik mesti membawa nilai positif. Hal ini dikonfirmasi Aristoteles, lebih dari 2000 tahun yang lalu bahwa tujuan politik adalah menghantarkan manusia pada hidup yang baik.

    Namun dalam kenyataannya, agama dan politik telah diuji oleh hukum besi sejarah. ketika keduanya berkelindan, jadilah mereka –seperti yang dimaksud Charles Kimball- sebagai iblis pembawa bencana. Mengapa demikian ? Sebab teks-teks yang dicomot dari kitab suci agama seringkali dikutip dan dijual untuk memuluskan hasrat dan syahwat kekuasaan (politik). Memang Kimball tidak secara letterlijk menyatakan bahwa politik sebagai satu-satunya motif, karena ada motif lain seperti ekonomi dan sosial, tetapi jalannya sejarah memberikan bukti yang cukup shahih bahwa banyak penganut agama bukan bertuhankan Allah, Yahweh, Hyang Widi melainkan bertuhankan politik! Ya, politik pragmatis !

    Dari catatan sejarah kita belajar, penyatuan agama dan politik hanyalah cara-cara memuluskan kekuasaan melalui doktrin-doktrin agama. Baik  bagi agama maupun politik, cara-cara ini mengotori tujuan mulia keduanya. Politikus memanfaatkan isu-isu agama demi mendapatkan suara dari umat, dari masyarakat awam. Di sisi yang lain, masyarakat awam cenderung terlena sekaligus terpukau dengan jargon-jargon agama yang dipakai politikus. Agama menjadi aparatus politikus untuk mencapai tujuannya.Sejatinya agama harus dikembalikan ke-khittah. Kembali ke asal muasal tujuannya, tanpa campur tangan politik.

    Kasus Anies-Sandi yang bekerja sama dengan Taipan Hary Tanoe membuka mata kita lebar-lebar. Bahwa sesungguhnya di atas segalanya, yang paling kuat itu adalah kepentingan. Agama, politik, kekuasaan dan apapun yang sifatnya pragmatis dapat duduk bersama. Jadi, jangan katakan ayat “awliya” berlaku untuk kerjasama mereka. Ayat “Awliya” hanya berlaku bagi Ahok. Ya, Ahok semata, bukan yang lain. Kita tidak boleh memilihnya, kata mereka, sebab Ia nonmuslim. Di sisi lain mereka kemudian berjabat tangan dengan kekuatan Perindo, sungguh lucu hidup ini. Lalu, bagaimana dengan nasib umat ? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

    Penulis  : Akhmad Reza Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mendekati Hary Tanoe, Anies Mendadak Lupa Dengan Ayat “Awliya” Bagaimana Perasaan Habib Rizieq ? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top