728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 31 Maret 2017

    Menanti Aksi 313

    Masih segar dalam ingatan kita, ketika sejumlah aksi berjilid sukses dilakonkan oleh imam besar Front Pembela Islam Rizieq Sihab  bersama ormas FPI beberapa waktu lalu. Serangkaian aksi yang boleh dibilang besar, heboh dan melibatkan puluhan ribu masa telah menyita perhatian publik.

    Mereka datang dari berbagai daerah di seluruh pelosok negeri, turun ke jalan dan memenuhi ruas-ruas jalan di ibu kota dengan intensi, “Bela Agama”. Kota Jakarta seperti sedang dikepung oleh massa yang datang dari berbagai daerah. Puluhan ribu manusia berjubah berduyun-duyun dari berbagai arah. Suasana Ibu kota DKI Jakarta sontak menjadi riuh dan suara  para orator demonstran bergema di seluruh penjuru kota. Aksi-aksi ini terasa heroik, karena ada peserta demo 411 yang siap mati demi agama.

    Agama yang berperan sebagai jembatan untuk menghubungkan antara manusia dan Allah, kita bela mati-matian tetapi kita lupa membela dan menjalin relasi dengan Allah dan sesama yang kian renggang menjadi lebih harmonis.

    Orasi-orasi yang disampaikan imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Sihab dalam aksi 411 dan 212, sungguh membakar semangat para demosntran, menghasut, meresahkan dan menodai semangat persatuan dan kesatuan. Dari sejumlah aksi yang telah dilakukan, ada pemandangan yang kurang berkenan di mata publik karena diujung aksi 411 ada indikasi kuat peserta demo ingin melakukan kerusuhan.

    Atas cobaan kerusuhan ini, kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada pihak keamanan.  Berkat kesigapan pihak keamanan di lokasi kejadian, aksi-aksi yang bernuansa anarkis berhasil diredam, walau ditengarai ada pihak keamanan yang terluka dalam aksi 411. Sungguh miris, katanya aksi damai tetapi ricuh juga.

    Aksi dan orasi yang dilakukan Rizieq Sihab dan Front Pembela Islam beberapa waktu lalu menuai pro dan kontra. Aksi 411 sungguh menuai kecaman dan kritik pedas dari rakyat Indonesia terhadap imam besar Front Pembela Islam Rizieq Sihab dan Oramas Front Pembela Islam (FPI), bahkan sebagaian warga menuntut kepada pemerintah agar FPI dibubarkan.

    Aksi 411 dan 212  dimotori langsung oleh Rizieq Sihab selaku imam besar Front Pembela Islam (FPI). Aksi-aksi ini terjadi lantaran pidato Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan seribu yang di unggah dan disebarkan di media massa oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Hasilnya Ahok diadukan ke meja hijau karena diduga melakukan penistaan terhadap agama, khususnya penodaan terhadap “Al Maidah 51” dan melecehkan Ulama.

    Dugaan penistaan agama, telah menempatkan Ahok sebagai obyek sasaran tembak dari seluruh kelompok demonstran. Pekikan, “Tangkap Ahok, Penjarakan Ahok dan Hukum Ahok” terus dikumandangkan dari mulut para orator yang disambut teriakan serupa oleh para peserta demonstran. Paduan suara demonstran yang dilantunkan tanpa irama itu terasa pedas jika dicerna dengan baik.

    Atas dasar dugaan penistaan terhadap agama, Ahok sungguh merasa diadili dan dipenjarakan sebelum waktunya. Atas nama Ahok pula para pemuka agama, politisi dan masyarakat rela turun ke jalan-jalan. Pernyataan Ahok tentang “Al Maidah 51” telah membuat para pemuka agama Islam gerah dan mendesak pihak berwajib untuk tangkap, penjarakan dan pecat Ahok dari jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

    Buah dari aksi 411 yang dilakonkan oleh Rizieq Sihab dan Ormas Front Pembela Islam berhasil menempatkan Gubernur DKI Jakarta non aktif  Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tersangka. Namun kesuksesan ini tidak diikuti aksi 212 dengan tuntutan, “Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) harus di tahan”. Sedangkan, “Ahok harus diberhentikan dari Gubernur DKI Jakarta”, merupakan agenda aksi 313.

    Setelah Habib Rizieq dan FPI sukses menyelenggarakan aksi 411 dan 212, kini muncul Forum Umat Islam (FUI) yang akan menggelar aksi serupa yang direncanakan pada Jumat, 31/3-2017. Dalam aksi ini Forum Umat Islam (FUI) akan mengajak seluruh alumni aksi 212 untuk terlibat dalam aksi 313. Mereka menuntut Presiden Jokowi memberhentikan Gubernur DKI Jakarta non aktif  Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

    Rencana aksi 313 yang akan dilaksanakan 31/3-2017 oleh Forum Umat Islam (FUI) telah membuat republik ini kembali gaduh. Aksi yang dimotori oleh Rizieq Sihab dan FPI dengan melibatkan seluruh alumni aksi 212 sesungguhnya bentuk pengingkaran yang dilakukan oleh Habib Rizieq terhadap dirinya dan FPI serta alumni 212. Mengapa?

    Pasaca aksi damai 212,  Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab pernah bertitah , “tidak akan ada lagi Aksi Bela Islam 4 (empat), tetapi yang ada adalah revolusi, bila tersangka penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dibebaskan”. Tandas Rizieq, “jadi jangan coba-coba. Maka saya teriak revolusi. Siap turun lagi. Jadi jangan turun lagi di Istana, Monas, HI, langsung kita sambangi ke Gedung DPR/MPR”. (www.postmetro.co)

    Titah Rizieq tersebut di atas laksana canang yang gemercing dan gong yang berkumandang, namun setiap sesumbar biasanya tidak bertahan lama, akan bergeser sesuai situasi dan kondisi. Dibalik aksi berjilid, diduga ada sejumlah agenda besar untuk menggulingkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dari bursa calon Gubernur DKI Jakarta. Inti dari aksi 313 adalah “Meminta kepada Presiden Jokowi agar sesuai Undang-undang memberhentikan terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama, (Ahok)”.(detikNews )

    Kita tahu bahwa aksi damai 411, 212  yang lalu dan 313 yang akan dilaksanakan nanti, sesungguhnya berawal dari masalah politik murni yang dibalut selubung agama.  Persoalan politik dipelintir menjadi persoalan keagamaan. Dan dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok  menjadi jalan Tol untuk menjegal Ahok. Ini adalah agenda dan intensi busuk yang sengaja dihembuskan dan menjelma menjadi badai aksi berjilid.

    Persoalan Ahok hemat saya sederhana adanya, tidak ada yang luar biasa tetapi sontak menjadi buming setelah persoalan ini diulik-ulik dan ditambah bumbu agama. Kelebihan bumbu agama dalam persoalan ini menghilangkan rasa toleransi, persatuan dan kesatuan menjadi tidak sedap dan disuguhkan hambar serta basi adanya.

    Watimena, dengn tajam menelisik perilaku kaum agamawan yang penuh dengan hipokrisia. “Ajaran moral agama dipelintir untuk menindas orang-orang yang beda pandangan. Ajaran moral agama digunakan untuk membenarkan ketidakadilan dan pembodohan masyarakat. Orang beragama berkhotbah soal nilai-nilai kehidupan tetapi saling membunuh, hanya karena beda pandangan suatu ayat yang tertulis dalam buku tua”.

    Apapun yang disampaikan Rizieq adalah bukti bahwa dia sedang dipakai oleh Anies, ada keuntungan besar dengan memakai Rizieq sebagai Toa Kampanye. Diselipkan dalam setiap pengajian untuk mengkampanyekan Anies dan menghina Ahok. (Infomenia.net)

    Nasfu untuk menjadi penguasa semakin jelas tergambar pada raut wajah, tutur kata, perilaku menyerang lawan politik dengan mengadopsi pelbagaimacam cara dan akal. Tipu muslihat dan upaya pembodohan publik dilakukan demi pemuasan diri yang sedang dahaga akan kekuasaan.

    Kepandaian beretorika menghantar rakyat terlena dan terhipnotis oleh janji-janji palsu tanpa melihat realitas. Atas nama kekuasaan, orang rela meninggalkan rasa empati dan solider terhadap sesama manusia. Orang sibuk menebar benih kebencian yang mulai tumbuh subur sejak aksi 411, 212 hingga 313.

    Aksi 411, 212 yang lalu dan 313 yang akan dilaksanakan 31/3-2017  merupakan alat kampanye yang dipakai Rizieq cs untuk menggeser Ahok dari pentas pilkada Jakarta. Moment ini dipakai untuk melampiaskan kebencian terhadap Ahok. Akhir-akhir ini sasaran dari setiap serangan tidak saja ditujukan kepada Ahok, tetapi terhadap pendukung-pendukung Ahok.



    Penulis :  Yulius Regang   Sumber: Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menanti Aksi 313 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top