728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 20 Maret 2017

    Menanggapi Nasehat Kakek Di Fresh Market PIK Kepada Uno

    Hari ini calon wakil Gubernur DKI Jakarta nomor Urut 3, Sandiaga Uno berkunjung ke Fresh Market di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Selian bertemu dengan penjual dan pembeli serta berfoto dengan beberapa pengunjung, nampaknya Uno mendapat sebuah kejutan dari seorang kakek bernama Sintoro.

    Kejutan tersebut tentu bukan berupa materi karena Uno sendiri adalah orang yang tidak akan terkejut lagi dengan nominal-nominal uang yang banyak. Kejutan tersebut berupa nasehat, namun menurut saya lebih pada berupa sindiran. Ada dua nasehat yang diberikan kakek Sintoro, yaitu:

    “Bapak kan konglomerat, uang sudah banyak, jaga anak buah, jangan korupsi,”

    Mengapa saya lebih suka menyebutnya sindiran daripada nasehat, karena bagi saya seolah-olah kakek bernama Sintoro ini bisa meramalkan apa yang akan terjadi jika Sandiaga Uno menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta selanjutnya.  Tidak ada jaminan orang yang kaya tidak akan korupsi jika menjadi pejabat.

    Logikanya, saat masa kampanye putaran pertama dan kedua saja sudah menghabiskan dana sebesar itu. Sedangkan seperti yang kita ketahui bahwa Uno adalah seorang pengusaha, jika uang atau dana kampanye yang berasal dari kocek pribadinya itu digunakan sebagai modal usaha, tentu sudah pasti usaha itu berpotensi menghasilkan laba yang amat banyak.

    Tetapi masalahnya adalah, ketika Uno ini menjadikan pilkada sebagai salah satu investasi dalam “berusaha”, maka sudah bisa dipastikan Uno akan berharap uang modal yang digunakan dalam kampanye dapat “berbunga” atau menghasilkan keuntungan. Jika tidak, ya minimal balik modal lah ya. Kira-kira dari mana modal itu akan kembali? Ya, menurut saya sih dari mana lagi kalau bukan hasil dari penggunaan jabatan yang tidak benar.

    Sudah banyak uang bukan berarti tidak butuh uang lagi. Bahkan bisa jadi malah orientasinya bakal ingin yang lebih, lebih dan lebih. Untuk itu, rasa-rasanya kok sulit mempercayai bahwa meskipun Uno sudah kaya raya tapi tidak akan korupsi. Saya kok malah berpikir sebaliknya, dengan gaji sebagai wakil gubernur yang bener itu, apa mungkin Uno bakal menghargainya. Biasanya kan orang kalau sudah terbiasa dengan nominal uang banyak akan memandang rendah dan bahkan tidak mau menerima nominal yang jauh dibawahnya. Ya, ini sih menurut saya.

    Nasehat yang lebih tepat disebut dengan sindirian dari kakek Sintoro yang kedua adalah himbauan kepada Uno untuk tidak menyinggung SARA apabila berbicara yang berkaitan dengan bangsa Indonesia.

    Kakek-kakek aja paham dan ngeh banget lho dengan penggunaan isu SARA dalam pilkada ini. Kira-kira apa ya yang ada di dalam pikirannya Uno saat menerima nasehat (read: sindiran) itu? Hehehe Masa bodoh dengan apa yang ada dalam pikiran Uno. Yang jelas ya Uno tetap saja pura-pura terlihat bersih dari kampanye berbau SARA dan menunjukkan bahwa ia juga setuju dengan nasehat kakek Sintoro tersebut. Aslinya? Tidak perlu saya ulas lagi kan beritanya mulai dari A sampai tamasya Al-Maidah hingga habis nyoblos meninggal? Hehehe

    Hal ini kontras sekali dengan apa yang diperoleh Djarot saat blusukan di Klender. Djarot lebih banyak mendengarkan keluhan dari pada mendengarkan ‘nasehat’ oleh warga. Mulai dari keluhan sakit tetanus, osteoporosis, hingga pujian berkat Ahok-Djarot warga bisa berobat gratis.

    Nah, dari sini saja sudah kelihatan sekali bahwa sebenarnya Uno sama sekali belum atau tidak siap menjadi pejabat. Warga tahu betul mana yang pantas untuk diapresiasi dan mana yang masih perlu dinasehati.

    Sekali lagi, ini menurut saya.

    Penulis : Arin Vita  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menanggapi Nasehat Kakek Di Fresh Market PIK Kepada Uno Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top