728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 06 Maret 2017

    Menang (Lagi) di Putaran II, Mission Impossible Ahok-Djarot

    “Gila lu Ven, makan apa lu barusan sampai punya gagasan gila ini? Ahok dan Djarot amat dibutuhkan DKI. Para mafia dan garong bakalan berkeliaran lagi nanti kalau sampai Ahok dan Djarot ikut ide gilamu”, demikian reaksi seorang teman ngopi saya sore ini saat saya bilang Ahok dan Djarot sebaiknya mundur saja deh daripada buang-buang energi dan biaya untuk bertarung di putaran 2 pilkada DKI. Reaksi yang wajar dari seorang rakyat yang telah terpesona melihat Jakarta dua tahun di bawah kepemimpinan Ahok jadi bersih dan tertata. Lebih dari itu, kawan yang sering bolak-balik ke Jakarta ini juga puas melihat para begal anggaran, preman2 pasar, dibuat Ahok tak berkutik. Pembangunan infrastruktur yang sebelumnya acak kadut seadanya, juga di bawah kepemimpinan Ahok dibuat sepenuhnya pakai hati, sehingga ramah terhadap kaum difable, pegawai-pegawai operasional di dalamnya pun profesional, tak ada lagi yang malas-malasan. Jadi ya, wajar kalau saya dibilang gila ketika mewacanakan sebaiknya Ahok mundur dari pemilu putaran 2.

    Tapi begini friends. Saya masih seorang yang bilang hitam kalau memang hitam, putih kalau memang putih. Saya tidak sedang mabuk, apalagi gila. Karena, yang gila itu yang ini….

    1). Soemarno, Ketua KPUD DKI

    Saya menyebut ketua KPUD DKI ini gila karena sebagai pejabat negara, dia gagal menjalankan fungsi KPUD DKI secara profesional. Gagal menjalankan fungsi secara profesional itu pertaruhannya ialah (tak ada lagi) damai di DKI. Kalau tidak profesional seperti Soemarno ini, apapun hasilnya kelak bakal tetap terjadi kisruh berkepanjangan antara kontestan dan segenap barisan pendukungnya. Pemilu kita adakan tujuannya ‘kan demi tercapainya bonum communae (kebaikan bersama) yang ditandai dengan damainya masyarakat hidup berdampingan, meningkatnya kesejahteraan hidup mereka, dll. Apakah akan tercapai itu bila pemilu malah menghasilkan kisruh tak berkesudahan? Ya gilalah pejabat KPU kalau tidak profesional menjalankan fungsinya kalau pembaca sekalian sadar akan risikonya.

    Seperti yang berhasil dirangkum oleh Sewordian sebelumnya, berikut ini adalah daftar ketidakprofesionalan Soemarno:
    Undangan beda versi
    Undangan utk kubu Ahok
    Run Down Acaranya beda dengan ke kubu Anies-Sandi

    #RunDownAcaraVersiUndanganKeKubuAhok

    Beda versi dengan kubu Ahok
    #UndanganDanRunDownAcaraVersiKeKubuAniesSandi

    Nah, dari sekian catatan di atas, masih dipungkasi lagi dengan kenyataan bahwa Ketua KPD DKI ini sempat menjadikan Aksi Bela Islam I 4/11 sebagai foto profil di akun whatsapp-nya. Semua orang tahu bahwa aksi 4/11 dan 2/12 adalah aksi politis demi menjegal Ahok dan Djarot kembali memimpin DKI. Ini jelas mengindikasikan kalau Soemarno tidak netral di kontestasi Pilkada DKI 2017 ini. Tidak netral ya tidak profesional. Tidak profesional ya rakyat DKI yang akan tanggung akibatnya. Ini jelas gila!

    2). Sesumbar dari Kubu Anies-Sandi

    “Kami merasakan aura kemenangan, kemenangan akan datang, dia datang lewat kerja keras, hari ini kita berkumpul, ini hasil kerja bersama kita semua, itu adalah kerja ribuan relawan seluruh Jakarta. Tanggal 15 tinggal 10 hari lagi, mari kita bekerja, 10 hari untuk mengamankan lima tahun ke depan,” ujar Anies dari atas panggung kampanye. Klaim ini dia katakan di hadapan ribuan pendukung yang memadati Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (5/2/2017) siang. Lebih lengkapnya bisa Anda simak di sini.

    Senada dengan cagubnya itu, Sandiaga Uno sebagai cawagub tak kalah sesumbar. “Shalat subuh berjamaah, siap-siap ke TPS (tempat pemungutan suara) dan dijaga sampai selesai pukul 15.00. Kita jemput gubernur baru, Insya Allah. Saya lihat semakin hari aroma kemenangan semakin terlihat, karena ada yang panik di ‘toko sebelah’,” kata Sandiaga di hadapan ibu-ibu Majelis Taklim Qonita di Gedung Robbani, Jakarta Timur, Jumat (3/3/2017) seperti dikutip Kompas.

    Kedua pasangan cagub-cawagub ini kompak secara prematur menyebut-nyebut kubunya menang meskipun dibungkus dengan selipan kata “aura kemenangan”. Ini ‘kan pesan psikologis. Dampaknya juga bakal serius. Ini jelas bahaya. Massa pendukung dibuat percaya seolah mereka menang. Iya kalau beneran menang. 
    Kalau kenyataannya nanti tak menang, massa ini tentunya akan mudah sekali diprovokasi untuk rusuh. Untuk negara yang demokratis, ini bukan pendidikan politik yang beradab lagi santun. Ini gila. Di saat kita semua merindukan Indonesia bisa benar-benar menerapkan prinsip2 berdemokrasi yang benar lewat Pilkada DKI, mereka malah mempertontonkan pesan psikologis yang tidak demokratis. Iya kalau pendukungnya waras berdemokrasi, dewasa dalam menerima kekalahan pemilu. Kalau tidak? Bisakah kedua pasangan ini menanggung akibatnya kelak jika pendukungnya anarkis tak terima kekalahan?

    Lebih lanjut, pernyataan kedua pasangan tersebut menerbitkan satu hal yakni dugaan ada permainan kotor yang akan mereka lakukan. Bisa saja pernyataan sesumbar itu terbit karena sudah ada sekian skenario tak terpuji untuk mengantarkan keduanya tampil menang di putaran kedua. Tidak profesionalnya KPUD DKI selaku penyelenggara, ditambah dugaan tidak netralnya sang ketua, plus sesumbar kedua pasangan. Itu semuanya sepertinya tidak berdiri sendiri. Kalau ini beneran ada, rasa-rasanya kok Ahok dan Djarot mustahil untuk menang.

    Tapi jangan keburu patah semangat dulu timses Ahok! Belajar dari apa yang telah dilalui oleh pasangan yang Anda usung di putaran pertama, terutama figur Pak Ahoknya, kemungkinan untuk menang itu tetap ada. Siapa yang menyangka, Ahok yang dihujat, dicaci-maki, difitnah, diancam keselamatannya di periode November ke Desember 2016 kemarin bisa tampil sebagai pemenang di pemilu putaran pertama? Demikian pun sekarang. Terus tetaplah bekerja, terutama bekerjalah dengan mengindahkan prinsip2 demokrasi yang benar, selanjutnya biar menjadi urusan Tuhan! 

    Selalu ada harapan, meski ini pantas disebut mission impossible

    Ya, Mission impossible sekuel kedua.***


    Penulis : Aven   : Sumber : Seword .com



    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menang (Lagi) di Putaran II, Mission Impossible Ahok-Djarot Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top