728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 15 Maret 2017

    Korupsi Berjamaah Terbesar di Indonesia

    Bagaimana tidak? Diperkirakan ada 70 nama yang tersangkut kasus korupsi ini. Dari politikus, birokrat hingga swasta.

    Pembuatan e-KTP sebenarnya bertujuan baik, karena inti dari tujuannya adalah mempermudah sistem birokrasi. Namun hasilnya malah mempermudah “tikus-tikus negara” menggerogoti keuangan Negara.  Setelah pembahasan RAPBN TA 2011 (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahun Anggaran 2011), proyek e-KTP pun disetujui dengan anggaran Rp 5,9 triliun. Terpujilah Andi Agustinus alias Andi Narogong. Selaku pelaksana proyek, Andi beberapa kali melakukan pertemuan dengan sejumlah anggota DPR RI. Dan disepakati anggaran senilai Rp 5,9 triliun dengan kompensasi Andi memberikan fee kepada beberapa anggota DPR dan pejabat Kementrian Dalam Negeri. 51 persen dari anggaran digunakan untuk proyek, sementara 49 persen untuk dibagi-bagikan ke Kemendagri, anggota DPR RI, dan keuntungan pelaksana pekerjaan atau rekanan.

    Nilai Rp 2,3 Triliun memang terdengar sedikit, bagaimana nilai tersebut jika dibulatkan? Rp 2.300.000.000.000 broh. Nilai yang bisa meningkatkan sarana dan prasarana publik, seperti perbaikan jalan, perbaikan gedung sekolah yang rusak, dan membuat lapangan pekerjaan. Tetapi sayangnya nilai tersebut malah dikonsumsi oleh “tikus-tikus berdasi”.

    Diperkirakan akan ada guncangan politik yang besar karena menyangkut nama-nama besar. Nama seperti mantan anggota DPR RI Muhammad Nazaruddin, mantan Menkeu Agus DW Martowardojo (kini Gubernur BI), mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua DPR Golkar Setya Novanto, mantan Mendagri Gamawan Fauzi, Komisi II DPR yang kini menjadi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua Fraksi Partai Demokrat MPR RI Muhammad Jafar Hafsah, Politikus PDIP yang kini Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, serta Menteri Hukum dan HAM Yasona H Laoly, dan lain-lain.

    Jika semua politikus dan pihak birokrat dengan mudahnya terkena kasus korupsi, siapakah yang bisa kita percaya untuk memegang amanat rakyat Indonesia. Setiap hari menonton acara berita kita selalu dihibur dengan kasus-kasus korupsi. Korupsi seperti wabah virus yang terus berkembang, membelah diri dengan bebasnya, dan seperti tidak ada obatnya. Korupsi seperti penyakit yang sudah lumrah dan biasa di Indonesia. Masyarakat pun semakin lama semakin mati rasa terhadap kinerja pemerintah. Maka tidak heran angka golput pun semakin menanjak dalam setiap “pemilukada” dan “pilpres”. Sistem hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas seolah-olah hanya pelengkap lembaga pemerintahan. Buruknya lembaga pemerintahan dan berbagai konspirasi di dalamnya sering dijadikan tema perfilman, dan lagi-lagi cerita tersebut hanya dijadikan santapan konsumsi untuk hiburan.


    Percayalah beberapa nama-nama besar akan terselamatkan dari kasus korupsi ini, dikarenakan kuatnya ikatan mafia politik dan konspirasi-konspirasinya. Dengan besarnya kekuasaan dan uang yang dimiliki, membuat politikus-politikus besar kebal dan licin terhadap hukum. Kehidupan politik tidak dapat jauh-jauh dengan uang, karena uang adalah segalanya. Uang dapat memberikanmu status pemimpin, memberikanmu kekuatan, dan memberikanmu anak-anak buah yang setia. Karena ada pepatah yang mengatakan, “dimana ada uang disitulah temanmu”.

    Sumpah jabatan hanya formalitas belaka

    Sumpah di bawah kitab suci hanya formalitas belaka, tingginya gelar akademik tidak menjamin akhlak, dan semakin berumur malah rakusnya semakin luar biasa. Setiap hari hanya menebar senyum dan janji palsu, dan mirisnya rakyat-rakyat kecil dengan mudahnya terjerat kepalsuan mereka. Bahkan dalam rompi oranye pun mereka masih dipuja-puja, dijaga ketat, dan diberi fasilitas “VIP”. Hukuman penjara seakan tidak memberikan solusi.

    Korupsi berjamaah oleh koruptor harus dilawan dengan kemerataan sosial masyarakatnya. Bagaimana mau melawan koruptor kalau kita sendiri sebagai rakyat tidak cerdas dan bijak. Para koruptor adalah orang-orang yang cerdas, saking cerdasnya selalu membodohi rakyat kecil. Kalau bukan rakyatnya sendiri yang memberantas  korupsi, siapa lagi?

    Kami sudah lelah dengan kinerja pemerintah, kami sudah lelah mendengar kasus korupsi, kami sudah lelah dengan isu-isu agama berbau politik, ataupun politik yang berbau agama.  Kami ingin pemerintah kami bersih, transparan, dan benar-benar bermanfaat bagi negara. Untuk apa mempertahankan lembaga negara dan isi-isinya jika hanya membuat negara tercinta kita ini semakin terpuruk.

    Salam Korupnesia..


    Penulis : I Gede Bangun Pradana    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Korupsi Berjamaah Terbesar di Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top