728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 Maret 2017

    Kesaksian Rahayu “Menampar” FPI, Ketua Hakim Minta Percepat Sidang

    Dalam sidang Ahok yang ke-15, akhirnya saksi yang ditunggu-tunggu yaitu saksi ahli memaparkan keterangannya dengan konkrit dan objektif sesuai bidangnya yaitu dalam konteks bahasa. Mengapa ini menjadi penting? Karena apa yang telah menimpa Ahok adalah bersumber dari pidatonya di Kepulauan Seribu. Yang kemudian dinilai dan dipahami secara sempit oleh kubu lawan dengan menyebutkan adanya penodaan agama dalam pidato tersebut.

    Sementara kita semua tahu bahwa ormas yang mengatakan Basuki telah menistakan agama dan disebarkan secara massive adalah orang-orang yang memang haus kuasa dan tidak menyukai Ahok sejak dari dilantiknya Ahok menjadi Gubernur DKI menggantikan Jokowi.

    Saksi ahli bahasa dari Universitas Indonesia Rahayu Sutiarti menilai pidato Ahok di Kepulauan Seribu tak menyebutkan Alquran sebagai sumber kebohongan.

    Hal ini disampaikan Rahayu saat memberikan kesasksian untuk meringankan dalam sidang ke-15 kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok di Gedung Kementan. Rahayu Surtiati menilai, Surat Al Maidah ayat 51 bukanlah sebuah kebohongan. Namun, siapa saja bisa menggunakan hal apapun untuk membohongi orang lain.

    “Saya bukan ahli agama Islam, tapi menurut saya Surat Al Maidah 51, sebuah surat dalam Alquran, bukan merupakan kebohongan. Tetapi, orang bisa pakai apa saja untuk membohongi,” ujarnya di persidangan Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

    Rahayu tak sepakat jika Al Maidah dijadikan sumber kebohongan dalam pidato Ahok.”Karena ada kata pakai dijadikan alat untuk membohongi. Seandainya pembicara menggunakan kata merujuk, berarti Al Maidah sumber. Tapi dia tak menggunakan kata tersebut,” tutur Guru Besar UI tersebut.
    Adapun maksud Ahok dalam kata dibohongi pakai itu merujuk pada orang-orang yang sengaja menggunakan Al Maidah karena merujuk pada pengalaman sebelumnya. “Karena pada pengalaman sebelumnya, di Buku Merubah Indonesia, terdakwa sudah cerita ada orang-orang yang menggunakan ayat tersebut untuk maksud tertentu,” jelasnya.

    Apa yang telah disampaikan oleh Rahayu, sebenarnya kita sudah bisa menganalisa sendiri dengan logika sebelum ahli bahasa bicara. Namun kebencian mereka terhadap orang yang bersumbu pendek mungkin harus mendengarkan secara langsung dari para ahli.  Entah, apakah mereka akan mengakui kesalahannya, meskipun BY yang telah mengedit video itu sudah ditetapkan tersangka. Pada kenyataannya hingga hari ini sentiment agama yang ditujukan pada Ahok tetap terjadi.

    Ada yang menarik dari persidangan hari ini. Selain keterangan dari para saksi.  Ketua Majelis Hakim meminta persidangan dipercepat.

    Sidang penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diharapkan cepat selesai. Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto memberikan waktu kepada kuasa hukum Ahok untuk mempercepat sidang pembuktian.

    “Rencananya kita selesai sidang pembuktian dua kali sidang lagi,” kata Hakim Dwiarso di persidangan, Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa, 21 Maret 2017.

    Jangka waktu yang diberikan hakim diinterupsi oleh kuasa Hukum Ahok. Para pengacara mengatakan butuh waktu sekitar empat kali persidangan lagi untuk pembuktian.

    “Karena kami masih punya 15 saksi tambahan non berkas. Jadi setidak-tidaknya kami butuh empat kali persidangan lagi, Yang Mulia,” ujar kuasa hukum Ahok.

    Haki Dwiarso pun meminta para pengacara mempercepat keterangan para saksi. Bahkan, Hakim Dwiarso meminta persidangan digelar dua kali dalam sepekan.

    “Itu (empat kali sidang pembuktian) terlalu lama. Kami butuh cepat, jangan melebihi lima bulan persidangan. Kita bisa kebut sidang sampai jam 12 malam,” ujar Hakim Dwiarso.

    Hakim Dwiarso menegaskan percepatan sidang bukan berarti mengurangi hak para pengacara membela.
    “Karena Hakim bukan melihat banyak-banyakan seperti Pilkada. Hakim melihat kualitas dan mutu kesaksian,” tegas Hakim Dwiarso.

    Sidang Ahok dimulai pada 13 Desember 2016. Hari ini merupakan sidang ke-15 Ahok. Sudah 15 saksi dari jaksa bersaksi. Kini, sidang masih mendengarkan keterangan saksi dan ahli dari pihak Ahok.

    Menarik jika hakim menyebutkan bahwa ia ingin melihat kualitas dan mutu kesaksian. Saya jadi berprasangka, mungkinkah Hakim sudah mengetahui jawabannya tentang bersalah atau tidaknya Ahok. Jika ia berlaku adil dan objektif tentunya hakim tahu mutu dan kualitas dari saksi-saksi yang dihadirkan oleh JPU. Lihat saja seperti hari ini, Hakim butuh cepat, empat kali pembuktian itu terlalu lama, jangan melebihi lima bulan persidangan.

    Prasangka baik, bisa jadi karena hakim menilai dari semua keterangan saksi sejak awal sidang dimulai keterangan para saksi tidak objektif, tidak kredibel dan tidak ada ditempat perkara, dan justru orang-orang yang memang sudah lama membenci Basuki. Namun tentunya apa yang dikehendaki hakim juga akan memunculkan tanya dan opini, kenapa ketika saksi-saksi yang dihadirkan oleh kuasa hukum Basuki, ketua hakim minta dipercepat. Sementara masih ada 15 saksi lagi yang mesti dihadirkan oleh kuasa hukum Ahok. Apakah dibenak Hakim sudah dapat menyimpulkan bahwa kasus yang menimpa Ahok adalah murni rekayasa? Ini hanya prasangka. Tentunya Hakim sudah ada pertimbangan dan mufakat diantaranya yang dapat menjadikan dasar untuk dipercepatnya sidang.

    “Sebelum puasa sudah putus, diusahakan tidak melewati lima bulan. Itu yang sudah dimusyawarahkan majelis,” kata Hakim Dwiarso dalam persidangan, Selasa (21/3/2017).

    Menurut majelis hakim, banyak pertimbangan yang mengharuskan majelis untuk segera memutuskan perkara tersebut sebelum bulan puasa. Salah satu terkait sewa gedung persidangan dan kondisi arus lalu lintas yang kerap macet setiap kali sidang digelar.

    Perdebatan itu akhirnya mereda setelah penasihat hukum Ahok menyatakan mengikuti semua keputusan yang telah ditetapkan majelis hakim.

    “Kita bersidang maraton, 2 kali per minggu.”

    Artinya masih bisa mendengarkan 15 saksi lainnya yang belum dihadirkan oleh kuasa hukum tersangka. Jika ada juga alasannya tidak perlu banyak saksi dan yang dibutuhkan adalah saksi yang bermutu dan berkualitas, tentunya Ahok lebih besar berpeluang bebas. Lho, lihat saja saksi yang dihadirkan JPU sebelumnya, jauh dari kredibel dan objektif, bahkan ada yang beda tanggal, beda tempat, dan sangat berkesan subjektif serta beberapa diantaranya memang sudah tidak menyukai Ahok sejak lama.


    Penulis : Losa Terjal   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kesaksian Rahayu “Menampar” FPI, Ketua Hakim Minta Percepat Sidang Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top