728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 11 Maret 2017

    Kasihan, Warga Ini “Dipaksa” Milih Anies-sandi Agar Jenazah Keluarganya Diurus

    Apa yang Anda rasakan jika orang tua Anda meninggal ???

    Apa yang Anda rasakan jika orang yang Anda sayangi meninggal dunia ???

    Sedih ???

    Menangis ???

    Wajar, kalau kita sebagai anak merasa sedih bahkan juga ikut menangis “melepas” kepergian orang tua atau orang yang kita sayangi. Sebagai anak, kita pasti berusaha agar jenazah orang tua kita atau orang yang kita sayangi untuk bisa mendapatkan pengurusan yang terbaik sebagai salah satu tanggungjawab kita memberikan sebuah “penghormatan terakhir” kepada almarhum/ almarhumah.

    Kita juga pasti rela mengeluarkan sedikit uang untuk membayar pengurusan almarhum/ almarhumah agar jenazah tersebut mendapatkan pelayanan terbaik. Dan itu juga sudah menjadi tanggung jawab sosial kita sebagai anak untuk berbakti pada kedua orang tua atau orang yang kita sayangi. Dalam agama juga dinyatakan bahwa hukum mengurus jenazah adalah Fardhu kifayah yang artinya itu wajib dilakukan oleh semua orang yang berada dalam satu kampung dimana almarhum/ almarhumah tersebut meninggal dan jika tidak dilakukan maka semua orang yang berada dalam kampung tersebut berdosa di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

    Selama ini, kegiatan sosial untuk saling membantu dalam kesusahan maupun dalam kemalangan (meninggal dunia) sudah menjadi tradisi di masyarakat kita sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang lalu yang dilakukan secara turun temurun dari generasi terdahulu ke generasi seterusnya.

    Tetapi semuanya kini berubah, hanya karena pemilihan Pilkada DKI Jakarta yang akan diselenggarakan pada tanggal 19 April 2017 mendatang. Hanya karena perbedaan pilihan, maka sesama masyarakat “dipaksa” untuk membenci saudaranya sendiri. Lalu tiba-tiba persaudaraan pun hancur, tradisi saling memberikan bantuan yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu tiba-tiba hilang entah kemana. Rasa persaudaraan sesama anak bangsa sudah hilang dalam sekejap hanya karena perbedaan pilihan politik dalam Pilkada yang hanya berlangsung lima tahun sekali.

    Di saat orang meninggal dunia, kita yang merasa paling agamis malah mempersulit bahkan menolak untuk mengurus jenazah yang berangkutan hanya karena jenazah yang bersangkutan berbeda pilihan dengan kita ???

    Di saat jenazah yang bersangkutan meninggal, kita malah sibuk mempermasalahkan apa pilihan jenazah tersebut bukannya membantu agar pengurusan jenazah tersebut cepat selesai karena itu hukumnya wajib dilakukan oleh semua orang yang berada dalam satu kampung tersebut.

    Sungguh teganya kita melihat saudara kita sendiri meninggal tapi tidak diurus ???

    Sungguh teganya kita melihat tetangga di samping rumah kita sendiri yang meninggal tapi tidak diurus ???

    Dimanakah nurani kita sebagai manusia ciptaan Tuhan ???

    Dimanakan rasa kemanusiaan kita sesama anak bangsa ???

    Pernahkah kita berpikir jika kelak kita juga bisa diperlakukan hal yang sama oleh orang lain seperti itu ???

    Kita tidak mungkin mengklaim diri kita Tuhan karena  kita sendiri sadar hal itu bertentangan dengan ajaran agama yang kita anut.

    Tetapi pernahkah kita berpikir selama ini kita “bertindak” seperti Tuhan ???

    Pernahkah kita berpikir betapa sombongnya kita mengatakan orang lain kafir, sesat, munafik, masuk neraka, bahkan tanpa kita sadari kita sudah melawan perintah Tuhan dengan menolak mengurus jenazah hanya karena jenazah tersebut berbeda pilihan politik dengan kita ???

    Pilihan politik itu hak setiap orang, biarlah itu urusannya dengan Tuhan, tetapi jika kita tidak mau membantu mengurus jenazah yang bersangkutan, masih layak kah kita merasa diri paling beragama ???

    Hal ini sudah terjadi di masyarakat khususnya di DKI Jakarta, miris tapi nyata.

        Yoyo Sudaryo (56), warga RT 05/02 Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, terpaksa menandatangani surat pernyataan untuk memilih paslon Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada hari pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran dua yang akan datang.

    Hal itu wajib dilakukan Yoyo jika ingin jenazah mertuanya, Siti Rohbaniah (80), disalatkan oleh pengurus salah satu masjid di Pondok Pinang. Yoyo dan keluarganya dituding sebagai pendukung paslon Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.
    Yoyo bercerita, pada Rabu (8/3/2017) malam sang ibu mertua meninggal dunia karena sakit. Esok harinya, keluarga kesulitan untuk mensalatkan jenazah karena pengurus masjid tidak mau mengurusnya. Jenazah baru disalatkan Kamis (9/3/2017) siang setelah Yoyo terpaksa menandatangani surat pernyataan yang disodorkan Ketua RT 05 Makmun Ahyar setelah jenazah terbengkalai sekitar satu jam seperti yang dimuat dalam media nasional ini.

    Rabu malam, saya punya ibu (mertua) meninggal, lalu saya lapor ke tetangga, ke Ketua RT. Awalnya nggak ada masalah yang buat saya bimbang. Ketua RT-nya juga kenal saya dengan baik,” ujar Yoyo di rumahnya, Jumat (10/3/2017).
    “Kamis pagi, udah rapi mau dikafani, dimandiin, nggak ada masalah. Siangnya, pas mau disalatin saya disuruh tanda tangan, yang bikin tulisannya Pak RT. Isinya bahwa saya berjanji akan mendukung pasangan Anies-Sandi di putaran dua nanti. Ada meterainya juga,” beber Yoyo seperti yang diberitakan oleh media nasional ini.

    Yoyo mengatakan, surat pernyataan tersebut tidak diketik, melainkan hanya berupa tulisan tangan di atas selembar kertas. Karena tak tega jenazah sang ibu mertua terbengkalai, dia pun akhirnya membubuhkan tandatangan di atas selembar kertas itu.
    “Awalnya sih, saya nggak curiga, lagi kesusahan nggak nyangka nggak mau disalatin. Menurut saya mau pilih siapa itu urusan saya sama Tuhan. Tapi yang penting ibu saya disalatin,” bilang Yoyo. Beberapa saat, setelah Yoyo mengguratkan tandatangannya, barulah jenazah ibu mertuanya disalatkan dan akhirnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir.
    Dikatakan Yoyo, sebenarnya dia dan keluarganya tidak pernah mengungkapkan sebagai pendukung paslon tertentu. Bahkan, sang ibu mertua tidak ikut memilih dalam putaran pertama 15 Februari lalu karena sudah uzur.
    “Saya dari dulu siapapun gubernurnya kampanye nggak pernah ikut, nempel poster juga nggak. Bahkan, saya menolak ada poster pasangan manapun di rumah saya. Makanya saya heran sampai begini,” katanya seperti yang dilansir oleh media nasional ini.

    Bagi pembaca setia Seword yang penasaran dengan kebenaran berita tersebut, berikut video eksklusif yang didapat oleh penulis hasil wawancara dengan keluarga tersebut berikut ini :

    Foto-foto Ahok yang kalian katakan “kafir” berikut ini akan “MENAMPAR KERAS” mereka yang selalu teriak tolak “kafir” tapi TIDAK MAU mengurus jenazah saudaranya sesama muslim !!!


    http://www.berantai.com/assets/images/news/1997/630×363-foto-ahok-mengangkat-keranda-mayat-muslim-membuat-geger.jpg

    http://www.berantai.com/assets/images/news/1997/630×363-foto-ahok-mengangkat-keranda-mayat-muslim-membuat-geger.jpg

    Jika sudah terjadi “konflik” sosial di dalam masyarakat seperti kasus di atas, dimanakah tanggung jawab Anies Baswedan dengan mulut manisnya yang selalu berkata ingin merajut tenun kebangsaan ???
    Dimanakan tanggung jawab PKS partai pengusung Anies-sandi yang mengklaim dirinya sebagai partai dakwah ???

     Penulis : Nafys   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kasihan, Warga Ini “Dipaksa” Milih Anies-sandi Agar Jenazah Keluarganya Diurus Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top